Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi, Bagian 3

Lanjutan dari Bagian 1: Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi,https://cancercareindonesia.com/2011/05/01/mengapa-pasien-menolak-menjalani-kemoterapi-bagian-1/

Lanjutan dari Bagian 2: Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi, https://cancercareindonesia.com/2011/05/03/why-patients-refused-to-undergo-chemotherapy-part-2/

Kasus 9: Paman Meninggal Setelah Kemo Seorang wanita datang menemui kami atas nama ibunya yang didiagnosa menderita kanker. Dokter bedah mengatakan bahwa ibunya perlu menjalani kemoterapi. Tetapi pihak keluarga menolak untuk kemoterapi.

Mengapa keluarga menolak kemoterapi : Mengapa anda tidak ingin ibu anda menjalani kemoterapi ? Karena usianya beliau sudah 75 tahun. Saudara laki-lakinya, yaitu paman saya, menderita kanker paru-paru dan ia baru berumur 68 tahun. Dia meninggal – karena tidak tahan menjalani kemoterapi. Dia menjalani kemoterapi – dan setelah kemo pertama badannya menjadi sangat lemah. Kemudian pada saat kemo kedua, ia jatuh pingsan ( tak sadarkan diri ) dan kemudian meninggal. Ketika saat pertama kali kemo dan badannya sudah lemah – mengapa dia masih melanjutkan dengan yang kedua? Saya tidak tahu mengapa. Dalam waktu dua minggu – setelah kemo yang pertama dan kemo kedua – jangka waktunya hanya dua minggu dan dia meninggal. Maksud anda ? Kemo yang pertama adalah minggu pertama, dan kemo kedua adalah satu minggu kemudian. Jadi dalam jangka waktu dua minggu dia meninggal ?  Ya betul !


Kasus 10: Keponakan Meninggal Setelah Kemo
Wanita ini didiagnosa dengan Limfoma dan pengobatan yang ada baginya hanyalah kemoterapi. Tetapi dia menolak kemoterapi.

Kenapa ia menolak kemoterapi : Putri dari adik perempuan saya menderita kanker. Dia menjalani operasi bedah diikuti dengan prosedur kemoterapi. Dia meninggal. Adik saya memohon kepada saya: ” Kakak, tolong … tolong dengarkan aku. Jangan melakukan kemoterapi. Nanti kakak bisa meninggal.”    Keponakan saya menjalani dua atau tiga kali kemoterapi dan dia mengalami kerontokan rambut ( botak ). Kemudian ia meninggal. Adik saya melarang saya untuk menjalani kemo. Saya juga tidak ingin menjalani kemo. Suami saya dan anak-anak juga mengatakan kepada saya untuk tidak menjalani kemo.


Kasus 11: Teman saya Meninggal Setelah Empat Siklus Kemo
Anak muda ini berasal dari Indonesia. Dia didiagnosa menderita kanker usus dua tahun yang lalu. Ia diminta untuk menjalani kemoterapi. Ia menolak.
Mengapa dia menolak kemoterapi: Saya tidak mau dikemo ! Dokter di Medan telah meminta saya untuk menjalani kemoterapi sejak tahun 2009 (yaitu, dua tahun lalu). Saya menolak. Mengapa Anda menolak: Karena efek samping nya bisa merugikan saya ! Bagaimana Anda tahu efek samping nya buruk ? Dari teman-teman ! Salah satu teman saya menderita kanker usus besar dan yang lain menderita kanker payudara. Keduanya menjalani operasi. Kemudian mereka menjalani kemo. Teman yang mederita kanker payudara mengalami kejadian buruk. Dia meninggal. Dia menjalani empat siklus kemoterapi dan setelah itu dia meninggal (tidak pernah menyelesaikan perawatan lengkap ). Yang satu lagi dengan kanker usus besar setelah menjalani dua siklus kemoterapi. Lalu ia menyerah. Dan dia masih hidup sampai hari ini. Apa yang mungkin terjadi jika ia melanjutkan dengan kemoterapi?  Mungkin sekarang sudah mati (tertawa). Itulah sebabnya saya menolak untuk menjalani kemo. Teman saya masih hidup dan dia baik-baik saja saat ini. Sekarang sudah tiga tahun.

 

Kasus 12: Saya melihat dan saya tahu kemoterapi tidak menyembuhkan kanker Guat menderita kanker payudara selama bertahun-tahun. Dimulai dengan benjolan kecil di payudara nya. Ketika tumornya tumbuh menjadi lebih besar ( hampir setengah kilo!). Ia menyetujui untuk diambil tindakan operasi tetapi menolak untuk kemoterapi atau radioterapi. Dia berusaha untuk terus bertahan hidup dengan melakukan apa yang dia pikir baik untuknya. Dia mengkonsumsi herbal, suplemen, dll dan memiliki pandangan hidup yang sangat positif. Dia belajar untuk hidup berdampingan dengan kanker payudara-nya selama lebih dari sepuluh tahun. Kemudian, kanker menyebar ke paru-parunya dan dia akhirnya meninggal dunia. Kami mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan Guat. Dia berbagi pengalaman dan pandangannya tentang perawatan medis untuk kanker.

Mengapa dia menolak kemoterapi dan perawatan medis: Saya telah melihat banyak orang mengidap kanker. Setelah kemo mereka juga meninggal dalam waktu kurang dari dua tahun ! Saya telah melihat banyak kasus seperti itu. Mereka menderita saat menjalani kemo tetapi pada akhirnya toh mereka juga semua mati.  Jadi mengapa harus menderita ? Setelah menjalani operasi, menurut dokter nya untuk mencegah jangan sampai kambuh kembali saya diminta untuk menjalani radioterapi. Saya menolak. Biarkan kambuh kembali terlebih dahulu dan kemudian baru kita berurusan dengan itu semua. Saya menolak untuk melakukan kemo. Dengan asumsi setelah operasi saya akan mati dalam waktu dua tahun.  Tidak apa-apa, setidaknya saya tidak harus menderita. Jika saya melakukan kemo, tidak ada jaminan juga untuk sembuh.

Dari apa yang anda amati terhadap orang- orang yang telah menjalani kemoterapi atau radiasi, bukankah mereka mendapat  manfaat banyak dari perawatan tersebut? Mereka menderita begitu parah. Saya lebih suka tidak menderita dan memilih untuk mati lebih cepat tanpa kemo. Hal ini tidak masalah bagi saya. Saya tidak ingin menderita. Misalnya, dengan kemo saya akan bertahan hidup selama dua setengah tahun, dan bila tanpa kemo dua tahun. Saya akan memilih untuk menjalani hidup dua tahun dengan kualitas hidup yang baik.

Tetapi kan anda dapat memperpanjang hidup selama setengah tahun lagi. Ah .. tidak apa jika saya mati lebih cepat. Anda membuat semua keputusan ini sendiri atau apakah Anda dipengaruhi oleh orang lain ? Saya membuat keputusan saya sendiri berdasarkan pengamatan saya tentang apa yang terjadi kepada orang lain. Banyak orang telah menceritakan berbagai macam hal. Saya mendengarkan apa yang mereka ceritakan, tetapi pada akhirnya saya membuat keputusan sendiri. Sebagai contoh ketika saya mempunyai benjolan kecil di payudara, saya memutuskan untuk mengambil risiko dan menangani dengan cara yang saya pikir tepat untuk saya. Benjolan tersebut tumbuh membesar dan lebih besar. Saya tahu bahwa tidak ada harapan untuk mengecil. Jadi saya memutuskan untuk melakukan tindakan operasi. Tapi ketika dokter menyarankan untuk menjalani radioterapi untuk mencegah supaya jangan kambuh kembali, saya mengatakan tidak. Saya mengatakan kepadanya, jika nanti terjadi kekambuhan, kita akan menghadapinya ketika masalah tersebut terjadi, tidak sekarang. Bahkan dengan radiasi, saya telah melihat banyak kasus kambuh kembali. Saya kenal beberapa pasien yang menderita kanker.  Mereka menjalani kemoterapi – dan mereka semuanya meninggal, termasuk saudara jauh anda sendiri  – Anda ingat? Ketika anda menemui dokter, mereka meminta anda untuk menjalani kemo. Tetapi tidak ada jaminan bahwa kemoterapi dapat menyembuhkan. Biaya pengobatannya sebesar RM 30.000. Untuk pasien yang tidak punya, itu adalah uang yang besar sekali. Seorang dokter mengatakan hal ini kepada teman saya: ” Ini adalah ibu anda, kenapa anda tidak ingin ” menyelamatkan ” dia? Benar, bahkan kepada seekor anjing pun, kami juga ingin menyelamatkan hidupnya, apalagi bagi seorang ibu. Tetapi kalau biaya pengobatan begitu besar biayanya, kemana harus mencari uangnya ? Lebih buruknya lagi, tidak ada jaminan bahwa kemoterapi dapat menyembuhkan sama sekali. Sayangnya, banyak “orang awam” tidak tahu cara menanggapi ” ocehan “ dari dokter – dokter tersebut. Saya tidak marah, tapi saya pikir para dokter sebaiknya tidak boleh berbicara seperti itu !

Baca lebih lanjut apa yang mereka katakan tentang kemo …

  1. Pengobatan utuk membunuh kanker : Bagaimana racun kemoterapi membunuh kedua-dua nya baik sel-sel kanker maupun pasien kanker http://www.naturalnews.com/012727.html
  2. Dapatkah Anda percaya bahwa kemoterapi dapat menyembuhkan kanker Anda? http://www.ener-chi.com/trustchemo.htm
  3. Mempertanyakan tentang Kemoterapi : Bagaimana halnya kemoterapi tidak menyembuhkan kanker atau memperpanjang hidup. http://www.drheise.com/chemotherapy.htm
  4. Argumen terhadap kemoterapi. http://www.canceractive.com/cancer-active-page-link.aspx?n=255

Seorang pembaca mengirim kepada kami komentar ini: Keponakan saya meninggal pagi ini. Tidak, bukan karena kanker ! Karena dikemo !!!  Kemo nya bahkan tidak sampai lebih dari dua bulan!  Inilah sebabnya mengapa begitu banyak dokter holistik mengatakan pengobatan modern yang kita miliki ini , yang disebut GOLD – CLASS  CANCER  TREATMENT  dapat membunuh lebih cepat dari pada merokok. Baca lebih lanjut : http://twitpic.com/4wjd8f

Saya kenal seorang yang lain lagi , yang meninggal setelah satu setengah tahun kemo ( kanker lambung). Dia berumur belum 25 tahun. Dan satu nya lagi … mereka memberikan obat tidur sebagai gantinya. Dia adalah paman saya … Obat Tidur telah membunuhnya dalam empat hari (dia menderita kanker stadium lanjut di pankreas, hati dan paru-paru). DIMANAKAH  PERJUANGAN   MELAWAN  KANKER ? Jika buah tidak menyembuhkan, mereka mengatakan orang yang mempromosikan buah tersebut adalah seorang dukun ! Tapi ketika giliran kita membicarakan Obat Kanker dan Terapi nya, jika pengobatan tersebut tidak bekerja, dikatakan bahwa itu bukan praktek  perdukunan ! Apakah ada SESUATU YANG SALAH dengan industri medis kita ?  ANDA  KATAKAN  KEPADA  SAYA!

Catatan: Kami telah mendokumentasikan 12 kasus mengapa pasien menolak untuk melakukan kemoterapi – jadi, sudah cukup kah ?

“Bagi mereka yang percaya, bukti tidak diperlukan. Bagi mereka yang tidak percaya, bukti dimungkinkan. “

Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi, Bagian 2

Lanjutan dari Bagian 1: Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi, https://cancercareindonesia.com/2011/05/01/why-patients-refused-to-undergo-chemtherapy-part-1/

Kasus 5: Seorang Ibu meninggal setelah siklus kelima dari kemoterapi untuk limfoma

M604 adalah seorang pria berusia 33 tahun dari Jakarta, Indonesia. Dia didiagnosis dengan Hepatitis B pada tahun 2005 dan berobat secara medis. Setelah enam bulan berobat, ia kemudian menyerah.

Pada bulan September 2008, ia mengalami kesakitan dengan perut kembung. Pemeriksaan  HBV DNA- nya (real time PCR)  menunjukkan 450.468.000 copies / ml. Dia kemudian menjalani pengobatan selama tiga bulan.

Pada bulan Juni 2009, tes berikutnya  HBV DNA (real time PCR) adalah 321.264.000 copies / ml. ALT-nya pada tanggal 8 Juni 2009 adalah 71 (tinggi). Dokter menyarankan injeksi interferon mingguan untuk selama 48 minggu. Dengan total biaya berkisar sebesar RM 50.000. Ia menolak untuk perawatan medis lebih lanjut dan datang ke CA Care pada tanggal 19 Juli 2009.

Mengapa dia menolak injeksi interferon:

Ibunya berusia 55 tahun ketika  didiagnosis dengan limfoma. Dia menjalani lima siklus kemoterapi. Selain itu, dokter memberinya “suntikan Mahtera” ( interferon ) bersamaan dengan empat siklus pertama kemoterapi. Setelah siklus kelima kemoterapi, kondisinya “drop” atau memburuk. Dia merasakan sakit dibagian hatinya. Virus Hepatitis B yang selama ini terpendam telah muncul bergejolak. Sebelum pengobatan dengan kemo kondisinya normal. Ibunya  meninggal saat dirawat diruang ICU di rumah sakit. Total biaya pengeluaran untuk perawatannya berkisar  RM 55, 000.


Kasus 6: Adik perempuan-nya meninggal di Cina setelah satu siklus kemoterapi

Anak M620 datang menemui kami pada tanggal 23 Agustus 2009. Ayahnya, yang berusia 63-tahun dari Medan, Indonesia, mengalami kesulitan buang air besar. Dia juga merasakan sakit di punggungnya. Dokter di Medan mengatakan dia mengidap hipertensi dan dia diberi obat. Tetapi pengobatan tersebut tidak efektif. Dia kemudian pergi ke sebuah rumah sakit swasta di Penang untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pada pemeriksaan CT scan menunjukkan adanya nodul-nodul di paru-parunya dan diduga dia telah terkena kanker paru-paru. Beberapa kelenjar getah beningnya membesar. Ditemukan juga banyak nodul-nodul  dalam hatinya, mulai dari ukuran 2 sampai 20 mm, diduga  kumpulan dari  suatu metastasis. Dokter menyarankan untuk dibiopsi, tapi dia menolak. Dia diberi obat tetapi kesehatannya tidak menjadi lebih baik. Jumlah trombosit-nya rendah / menurun.

Mengapa dia menolak biopsi:

Menurut logika langkah berikutnya setelah biopsi adalah kemoterapi, itu yang tidak ingin ia lakukan. Oleh karena itu, melakukan biopsi tidak ada artinya dalam situasi seperti ini. Dia sungguh seorang yang bijaksana !

Mengapa dia menolak kemoterapi:

Inilah yang dikatakan anaknya. Bibi saya ( adik ayah) menderita kanker ovarium. Dia menjalani enam siklus kemoterapi. Tumornya tumbuh kembali setelah pengobatan. Lalu dia pergi ke Cina untuk pengobatan lebih lanjut.

Sebelum ia pergi ke Cina, ia telah menjalani kemo ? Ya, enam kali dilakukan di Penang. Tetapi itu tidak efektif.  Ayah saya menemani bibi saya pergi ke China. Di Cina ia hanya menerima satu kali kemoterapi dan dia meninggal.

 

Kasus 7: Ipar laki-laki meninggal setelah enam siklus kemoterapi

M 930 adalah seorang wanita berusia 47 tahun dari Indonesia. Dia mengalami perdarahan vagina pada bulan Desember 2010. Tetapi tidak merasakan sakit. Menstruasi nya normal. Dia berangkat ke Melaka dan melakukan biopsi. Menurut laporan histopatologi tanggal 17 Januari 2011 menunjukkan adanya moderately differentiated squamous cell carcinoma. Dokter nya menyarankan kemoterapi dan radioterapi. Dia diberitahu bahwa kebanyakan pasien memiliki hasil yang baik dari pengobatan tersebut ( apa pun artinya ! ).

Karena tidak yakin dan tidak puas, ia berangkat ke Singapura untuk mendapatkan pendapat kedua ( second opinion ). MRI  pada bagian pinggulnya menunjukkan adanya masa sebesar 7,5 x 7 x 7 cm menonjol turun dari mulut rahimnya. Keadaan ini meliputi sepertiga bagian bawah rahimnya dan juga meluas ke arah vagina. Dokter menawarkan pengobatan: tiga puluh lima kali radiasi dan kemoterapi. Kanker ini tidak bisa dioperasi. Dia diberitahu bahwa dengan perawatan ini dia akan memiliki 60% sampai 70%  penyembuhan. Kami bertanya – Sembuh ?  Ya, sembuh.

Dia tidak  merasa yakin dan menolak perawatan medis lebih lanjut. Hasil tes darah nya yang dilakukan pada tanggal 7 Maret 2011 menunjukkan CEA = 39.0  dan  CA 125 = 964,0.

Mengapa dia menolak kemoterapi dan radioterapi ?

Ketika ditanya – Mengapa anda tidak mau melakukan kemoterapi. Dia menjawab: Tidak, tidak, saya tidak mau. Kakak saya di Singapura benar-benar marah kepada saya karena tidak mau mengikuti saran dokter. Sejak kecil, saya selalu skeptis. Saya mempunyai teman-teman yang telah menjalani kemoterapi dan kondisi mereka baik untuk sementara, lalu setelah itu kondisi mereka “drop” dan  kemudian mereka pergi selamanya.

Kakak ipar suami saya  ( yaitu suami dari kakak perempuan nya) memiliki benjolan di lehernya. Setelah enam siklus kemoterapi, ia meninggal. Dia menjalani pengobatan di Penang. Seluruh badannya menjadi berwarna gelap. Dia mengalami botak dan kulit dibadannya mengelupas. Oh, saya telah melihat banyak kasus seperti ini dan saya sangat takut.

Kasus 8: Paman meninggal enam bulan setelah operasi dan kemoterapi untuk kanker prostat nya

M 935 adalah seorang wanita berusia 54 tahun dari Sumatera, Indonesia.  Pada bulan Juli 2010, dia mengalami kesulitan buang air besar. Dia datang ke Penang untuk berkonsultasi. CT scan pada  tanggal 22 Juli 2010 menunjukkan adanya  masa berukuran 4,94 cm x 2,63 cm yang berlokasi di proximal sigmoid colon dengan penyempitan yang parah dan ini identik dengan kanker. Petanda tumor nya mengalami peningkatan: CEA = 211  dan CA 125 = 91,5.

Dia kemudian menjalani operasi. Itu adalah moderately differentiated adenocarcinoma , Duke Stage C. Tumornya telah meluas ke kelenjar getah bening mesorectal. Tiga dari lima kelenjar getah bening sudah terkena. Dia diminta untuk menjalani kemoterapi. Namun, oncologist nya tidak dapat mengatakan apakah kemoterapi akan menyembuhkannya atau tidak. Tapi ia diberitahu bahwa kemoterapi dapat  memeriksa penyebaran kankernya. Dia dan suaminya tidak yakin dan menolak kemoterapi.

Kenapa ia menolak kemoterapi:

Sang suami berkata: ” Paman saya, yang berusia 75 tahun, meninggal setelah enam bulan pengobatan. Dia menderita kanker prostat. Kemudian menjalani operasi diikuti dengan kemoterapi. Lalu ia meninggal setelah enam bulan kemudian. Dia tidak tahan dengan  perawatan tersebut – tidak bisa makan, tidak bisa tidur dan setiap hari dia demam. Ini adalah suatu kehidupan yang sulit baginya.

Bagaimana Anda tahu semua ini ? Dia adalah paman saya – adik dari ayah saya. Dia tinggal hanya dua rumah jauhnya dari rumah saya. Hidupnya benar-benar susah. Uang hilang dan kemudian, kesakitan dan hidupnya menjadi susah.


Kutipan :

Jika kita tidak membunuh tumornya, kita membunuh pasiennya ~ William Moloney

Kemoterapi adalah suatu usaha untuk meracuni tubuh yang hanya mempercepat kematian dengan harapan membunuh kanker sebelum seluruh tubuhnya terbunuh. Kebanyakan upaya ini tidak berhasil ~ Dr John Lee, author of What Your Doctor May Not Tell You About Breast Cancer,

Kebanyakan penderita kanker di negara ini mati karena kemoterapi. Kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker payudara, usus besar atau kanker paru-paru. Fakta ini telah didokumentasikan selama lebih dari satu dekade. Namun  saat ini dokter masih menggunakan kemoterapi untuk menangani tumor.  ~ Alan Levin, professor of immunology, University of California Medical School, USA.

Dalam onkologi, bahkan memperpanjang hidup pasien selama tiga bulan sampai satu tahun dapat dianggap sebagai suatu prestasi. Mencapai keberhasilan atas suatu peyembuhkan adalah sama seperti halnya menarik tongkat jackpot. Tidak semua kanker dapat disembuhkan  ~ A renowned oncologist of Singapore, The Straits Times, Mind Your Body Supplement, Page 22, 29 November 2006.

Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi, Bagian 1

Operasi, kemoterapi, radioterapi dan obat yang baru saja  diperkenalkan yaitu “ targeted drugs “  adalah  “standar emas” dalam pengobatan kanker. Kemoterapi masih dianggap sebagai sesuatu yang di agungkan ibarat Sapi Keramat di dalam paddock. Yeong Sek Yee dan Khadijah Shaari telah menulis empat artikel review ekstensif mengenai kemoterapi. Oleh karena itu kami tidak akan mengulangi apa yang telah mereka tulis. Jika anda belum membaca artikel ini, berikut ini adalah link-nya :

1. Effectiveness or Ineffectivenes of Chemotherapy, Part 1: What Some Oncologists Say. http://ejtcm.com/2011/03/17/effectiveness-or-ineffectivenes-of-chemotherapy-part-1-what-some-oncologists-say-%E2%80%A6/

2. Effectiveness or Ineffectiveness of Chemotherapy, Part 2: What Some Oncologists Say. http://ejtcm.com/2011/03/17/effectiveness-or-ineffectivenes-of-chemotherapy-part-2-what-some-oncologists-say-%E2%80%A6/

3. Chemotherapy Effectiveness or Ineffectiveness, Part 3: What Other Medical Doctors Say. http://ejtcm.com/2011/03/20/chemotherapy-effectiveness-or-ineffectiveness-part-3-what-other-medical-doctors-say/

4. Chemotherapy Effectiveness or Ineffectiveness, Part 4: What Other Medical Doctors Say. http://ejtcm.com/2011/03/20/chemotherapy-effectiveness-or-ineffectiveness-part-4-what-other-medical-doctors-say/

Alasan mengapa kita memuat artikel ini adalah karena kami percaya bahwa hal ini merupakan tugas kami untuk memberitahu mereka yang ingin tahu tentang kebenaran. Mari kita luruskan bahwa kami TIDAK anti-kemo atau anti obat-modern. Kamipun tidak pro-kemo. Kami mengambil jalan tengah. Setuju terhadap  apa yang baik dan bermanfaat dan menolak apa yang tidak berguna dan berbahaya. Bila anda terkena kanker, ini bukan waktunya untuk mengikuti setiap “ideologi” dengan membabi buta.

Apakah anda akan melakukan kemo atau tidak,  itu adalah keputusan anda sepenuhnya. Ikuti apa yang dikatakan hati anda dan pilih jalan yang membawa kedamaian bagi diri anda sendiri. Sebab ini ANDA, dan anda sendiri, yang akan mendapatkan manfaat atau penderitaan dari apa pun yang anda lakukan. Apapun konsekuensinya, orang lain hanya bisa melihat saja – ketidak berdayaan atau kebahagiaan.

Renungkan dan perhatikanlah kutipan berikut ini :

  • Umat-Ku dihancurkan / dibunuh  karena kurangnya pengetahuan ~ Hosea 4:06
  • Kurangnya pengetahuan adalah penyebab dari penderitaan ~ Swami Krishnananda
  • Akar penyebab dari penyakit adalah ketidaktahuan akan pikiran dan tubuh kita ~ menurut Ayurveda
  • Penyebab utama dari setiap jenis penderitaan atau kesakitan, adalah kebodohan ~ Pengobatan Tibet
  • Hanya ada satu yang baik yaitu pengetahuan, dan satu yang jahat, yaitu kebodohan ~ Socrates
  • Jalan menuju kesehatan adalah jalan pengetahuan. Mengabaikan pengetahuan adalah penyakit ~ kebijakan Cina

Jika Anda telah membaca apa yang kami tulis, setidaknya anda dapat merasa nyaman dimana anda telah banyak mendapat masukkan dan tidak lagi bodoh. Anda juga akan merasa nyaman karena keputusan yang anda buat, apakah melakukan kemo atau tidak, itu berdasarkan pada berbagai pengetahuan / pertimbangan, dan Anda tidak lagi membuta dipimpin ke pembantaian!

Bagi beberapa orang merasa bahwa membaca itu adalah hal yang membosankan dan umumnya mereka tidak suka membaca. Untuk orang-orang seperti ini mungkin menonton video adalah lebih baik ?  Dalam artikel review yang telah disebutkan di atas, anda telah membaca apa yang dikatakan para ahli onkologi dan dokter-dokter  tentang kemoterapi. Sayangnya para pemain yang paling penting – dalam hal ini para pasien – tidak muncul / hilang !

Jadi untuk membuat gambaran yang lengkap, kami akan memperkenalkan anda dengan serangkaian artikel tentang  apa yang dikatakan oleh para pasien itu sendiri tentang kemoterapi,. Pada bagian ini tidak akan ada banyak kata-kata tulisan. Malahan sebaliknya, lebih baik anda mendengarkan para pasien itu sendiri berbicara !   Ini adalah artikel kami yang pertama pada seri ini.

Jadi, sekarang tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa anda tidak tahu !

PRESENTASI  KASUS

Kasus 1: Sepupu nya meninggal setelah kemo untuk kanker limfoma nya.

Gu ( M956 ) adalah seorang  pria berusia 59 dari Medan, Indonesia. Pada awal Maret 2010, ia mengalami batuk-batuk disertai darah dalam dahak nya. Dia juga menderita sesak nafas. CT-scan thorax pada 25 Maret 2010 menunjukkan adanya cairan di paru sebelah kanan, sehubungan dengan collapse (kempes) nya bagian kanan bawah dari paru-parunya. Gu kemudian menjalani penyedotan cairan dari lapisan pembungkus paru-parunya. Setelah pengeluaran cairan, ia merasa lebih baik. Gu dijadwalkan untuk pemeriksaan endoskopi untuk lebih mempertegas lebih lanjut masalahnya. Keluarganya diberitahu ini kemungkinan kanker stadium 4.  Bilamana memang kasusnya demikian, ia akan disarankan untuk menjalani kemoterapi.

Karena, setiap orang dalam keluarga itu tidak setuju terhadap kemoterapi, Gu memutuskan untuk tidak melanjutkan dengan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Mengapa dia menolak kemoterapi ? Sepupu-nya menderita limfoma dan menjalani kemoterapi. Setelah ” berhasil ” menyelesaikan kemoterapi, ia kemudian meninggal.

 

Kasus 2: Menantu laki-laki berusia 43 tahun meninggal setelah delapan siklus kemoterapi untuk kanker usus besar.

M 918 adalah seorang wanita berusia 71 tahun dari Aceh, Indonesia. Pada awal 2010, ia mengalami batuk-batuk. Dengan pengobatan dari dokter, batuknya datang dan pergi. Kemudian pada bulan November 2010, ia mengalami batuk  dengan darah. Pada bulan Februari 2011 ia datang ke Penang untuk pemeriksaan lebih lanjut.

CT scan di rumah sakit swasta menunjukkan adanya nodularity dan gambaran yang berkabut dalam paru-paru kiri serta penebalan pleura. Dia diberitahu bahwa itu adalah pertumbuhan sel kanker. Tidak puas dengan penjelasan tersebut, ia pergi ke rumah sakit swasta lainnya untuk mencari pendapat kedua. Kemudian dilakukan CT scan ulang diikuti oleh biopsi. Hal itu menegaskan bahwa dia menderita kanker paru-paru. Dan dia diminta untuk menjalani kemoterapi. Dia menolak dan datang ke CA Care pada tanggal 20 Februari 2010.

Kenapa ia menolak kemoterapi: Dia berkata: ” Saya tidak mau kemoterapi … saya takut. Menantu saya, sebelumnya dia baik-baik saja tapi setelah kemo, dia meninggal. Dia menderita kanker usus besar. Dia tampak sehat. Ini terjadi pada tahun 2006.  Dia telah menjalani delapan siklus kemoterapi setelah itu ia meninggal. Kondisi dia itu sehat, kuat … mampu membawa barang-barang berat pada saat bekerja. Dan dia baru berumur 43 tahun. Itulah sebabnya saya tidak mau menjalani kemo.  ” Saya takut. ”

 

Kasus 3: Seorang Ibu meninggal setelah kemoterapi untuk kanker payudara.

H561 adalah seorang wanita Malaysia berumur 35 tahun. Pada bulan Februari 2011, dia menemukan adanya benjolan di payudara kanannya. Kemudian dia menjalani operasi lumpectomy. Itu adalah termasuk kategori kanker ganas  ( invasive ductal carcinoma ) NOS with ductal carcinoma in situ (comedocarcinoma). Empat kelenjar getah bening yang terinfeksi kanker telah diambil. Tumor tersebut  positif  terhadap  test  p53, C-erbB-2, estrogen dan progesterone receptor. Kemudian dia diminta untuk menjalani kemoterapi dan radioterapi. Dia menolak dan datang ke CA Care pada tanggal 15 Maret 2011.

Kenapa ia menolak kemoterapi: Ibu saya, karena kanker payudara, telah meninggal dunia. Saya menatapnya saat berbaring di tempat tidur, dia tidak bisa bangun … ini yang tidak saya inginkan.

Ibu saya waktu itu berumur 56 tahun. Dia terkena kanker payudara dan menjalani operasi pengangkatan. Seluruh payudaranya diangkat. Lalu ia menjalani kemoterapi di Singapura. Setelah itu kembali ke Johor Baru dan menjalani kemo lagi … lalu ke Kuala Lumpur dan menjalani kemo lagi. Kemudian ahirnya ia kembali lagi ke Johor Baru, untuk menunggu waktunya dan meninggal.

Ketika pertama kali didiagnosis, kankernya tidak menyebar ke organ lain. Dia masih kuat dan oke. Namun setelah kemo di Singapura kankernya menyebar ke organ hati nya. Setelah selama tiga tahun menjalani kemoterapi terus menerus, keluar – masuk  rumah sakit – ahirnya dia meninggal.

Maaf:  Seorang onkologi yang sangat terkenal di Singapura mengatakan: ” Sel-sel kanker tersebut tipe yang sangat agresif. ” Saya belum pernah melihat yang agresif nya  seperti yang satu ini ! ”

Sekarang giliran anda, dokter telah  meminta anda untuk melakukan kemoterapi dan radioterapi – Anda tidak  bersedia ?

Saya tidak mau.  Saya tidak mau mengikuti  jejak ibu saya !

 

Kasus 4: Kakak perempuan meninggal setelah kemoterapi untuk kanker usus besar.

H574 seorang laki-laki Malaysia berumur 40 tahun. Pada tahun 2007 dia didiagnosis terkena kanker usus Stadium 3.  Ia disarankan untuk menjalani kemoterapi normal i / v (intravena atau injeksi). Tetapi dia memilih obat kemo oral,yaitu Xeloda, sebagai gantinya. Dia menjalani total delapan siklus Xeloda dan menderita berbagai efek samping seperti: badan terasa panas, tidak bisa tidur, sakit pada tenggorokan, kehilangan nafsu makan dan merasakan lemas atau berkurangnya kekuatan.

Perawatan dengan Xeloda selesai pada bulan Februari 2008. Setelah itu ia merasa sakit dan mengalami kesulitan bernapas. Dia terpaksa mengonsumsi suplemen. Ia disarankan lagi untuk menjalani kemoterapi i / v  tapi menolak. Dia datang untuk minta pertolongan kami pada tanggal 3 April 2011.

Mengapa dia menolak kemoterapi: ” Dokter meminta saya untuk kembali dan melakukan kemo. Saya tidak mau. Kakak perempuan saya mempunyai kasus yang sama – kanker usus besar, menjalani kemoterapi, lalu menyebar ke hati dan kemudian mati “.

“ Kakak perempuan saya berumur 50-tahun, dia menderita kanker dua tahun yang lalu.”  Dia terkena kanker usus besar, dioperasi, lalu kemoterapi dan setelah itu kankernya menyebar ke hati. Sebelum dioperasi kanker nya tidak  ada di hatinya. Setelah enam kali kemo, kemudian menyebar ke hati. Dokter nya berkeinginan untuk mengoperasi hatinya. Dia menolaknya. ” Setelah beberapa bulan kemudian ia meninggal. ”

” Saya juga terkena kanker usus besar, tiga tahun lalu – beberapa bulan lebih awal dari kakak saya …”

 

Kutipan :

  • Pelajarilah semua yang anda dapat dari kesalahan orang lain. Anda tidak akan punya waktu untuk mempelajari semuanya sendiri. ~Alfred Sheinwold
  • Segala sesuatu yang telah dikatakan sebelumnya, tapi karena tidak ada yang mendengarkan kita harus selalu kembali dan mulai dari semula lagi. ~Andre Gide, Le traite du Narcisse , 1891
  • Orang bijak belajar dari pengalaman orang lain; orang bodoh belajar dari dirinya sendiri. Pepatah ~ Kuno

Kanker Kembuh Kembali Setelah Radiasi

Jack, laki-laki 52 tahun dari Singapura, didiagnosa kanker nasopharung (hidung, NPC) stadium 2 pada bulan Desember 2002. Dia sudah menjalani 35 kali terapi radiasi, ttapi tidak berhasil. Penyakitnya kambuh kembali delapan bulan kemudian. Jack disarankan menjalani operasi mengeluarkan tumor dengan membuka wajahnya. Hampir saja dia melakukannya, namun seorgang teman menyarankan untuk mencari pendapat lain. Jack berkonsultasi dengan seorang dokter di Hong Kong yang berpendapat radiasi saja sudah cukup. Dalam bulan April 2004, setelah menjalani enam kali radiasi, Jack menemukan CA Care. Dia mulai minum herbal dan sehingga sekarang (sudahpun lima tahun lebih) kesehatan Jack sembuh kembali dan tidak ada apa-apa masalah.

Pada 31 Oktober 2006, kami mewawancarai Jack. Berikut adalah naskah hasil percakapan kami.

Chris: Bagaimana kabar Anda?

Jack: Saya baik baik saja dan merasa sehat. Sekarang saya berkerja penuh … Kesehatan saya sekarang sama seperti sebelum diagnosa NPC. Sekarang sudah normal kembali, tetapi ada perbedaan. Dulu saya merasa terbebani, tetapi sekarang saya merasa semuanya lebih ringan.

Chris: Hampir satu tahun setelah diagnosa pertama terjadinya kekambuhan. Bagaimana Anda tahu itu terjadi?

Jack: Saya control rutin setiap tiga bulan sekali. Pertama control keadaan baik-baik saja, tetapi sepertinya saya tidak akan menikmati Natal berikutnya!

Chris: Setelah pengobatan radiasi, Anda kembali ke gaya hidup sebelumnya?

Jack: Setelah radiasi, saya menanyakan tentang diet kepada okologis, apa yang harus saya hindari. Dia berkata: Anda boleh makan apa saja yang Anda suka. Saya didampingi istri. Oknologis itu berkata dengan lantang, seakan dia mengatakan kepada saya untuk apa menanyakan hal seperti itu. Dia berkata: Lihat istri Anda. Dia tidak terkena kanker? Dia merasa terusik dengan pertanyaan saya. Saya senang boleh makan sesuka saya. Saya tidak tahu apa-apa tentang kanker. Saya sangat percapya pada kata-katanya.

Chris: Setelah radiasi tahap kedua,Anda kembali ke gaya hidup yang lama?

Jack: Tidak, tidak. Saya menemukan website Anda. Saat itu saya tidak berkerja. Jadi saya membuka internet. Saya mengakses website suatu pedagang saham. Dalam kolom umum dia menyebutkan kita harus hati-hati dengan kesehatan karena banyak orang terkena kanker dan penyakit berat lainnya. Sekarang temannya menderita NPC. Dia akan membawa temannya ke Penang untuk menemui seseorang yang bisa menyembuhkan kanker. Saya kemudian mengakses website Anda. Website Anda adalah yang pertama menyajikan pengobatan NPC dengan ramuan herbal. Selama tahun terakhir, saya banyak mengakses website dari Amerika dan berbagai tempat lainnya, tetapi mereka hanya menyebut kanker. Tidak pernah disebutkan NPC. Website anda menceritakan tentang NPC dan ramuannya, teh NPC dan sebagainya. Khusus untuk kasus NPC.

Chris: Sudah berapa lama Anda minum ramuan herbal?

Jack: Saya … mulai minum ramuan herbal pada bulan April 2004. Jadi mulai tahun 2004 sampai sekarang, tahun 2006 (Nota: sehingga saat ini, Disember 2010, Jack masih minum herbal). 

Chris: Beberapa perkiraan seluruh biaya pada pengobatan pertama?

Jack: Sekitar S$16.000.00 sampai S$20.000,00.

Chris: Bagaimana dengan pengobatan kedua yang enam kali radiasi?

Jack: S$8.000,00

Setelah Dua Operasi dan Kemoterapi, Dia Berpaling ke Terapi CA Care dan Tetap Hidup

Dass adalah lelaki berumur 46 tahun. Dia mempunyai masalah dengan pergerakan usus besar yang tdak teratur. Kadang-kadang dia harus BAB dua kali dalam sehari, kadang sekali setiap dua atau tiga hari sekali. Fesesnya sering keras dan menimbulkan rasa sakit. Akhirnya, dia kehilangan nafsu makan. Makanan nampaknya tidak bisa turun ke lambung, dan walaupun cuma memakan sedikit makanan saja sudah membuat dia merasa kenyang.

Dass telah mengulur-ulur masalah ini selama 4 tahun. Tetapi tahun terakhir menjadi makin serius – dia mengalami nyeri dan fesesnya berwarna hitam dan ada bercak-bercak darah. Kemudian, pada satu malam dia mengalami sakit perut yang parah. Dia pergi ke dokter umum dimana dia diminta melakukan foto sinar-X abdomen (perut) yang banyak. Dokter itu menyarankan untuk mengecek pada seorang dokter spesialis segera. Sebuah operasi dilaksanakan pada hari berikutnya.

Ahli bedah megeluarkan tumor/ benjolan sebesar bola tennis dari usus besarnya. Setelah itu, dia menjalani kemoterapi. Semua berjalan dengan lancar setelah perawatan. Dia melanjutkan dengan pemeriksaan rutin setiap bulannya.

Pada Desember 1997, Dass mengalami nyeri lagi di daerah perut dan dia batuk terus-menerus. Dokter mengatakan bahwa Dass mengalami kanker berulang. Dia pun menjalani operasi kedua. Dokter kemudian menyarankan Dass untuk mengikuti sesi kemoterapi yang lain tetapi dia menolak. Dia datang ke CA Care untuk pengobatan herbal pada Januari 1998 dan dia pun memulai pengobatan tersebut.

Setelah satu minggu diterapi dengan obat-obatan herbal, nafsu makannya mengalami kemajuan dan dia merasa baikan. Dan sampai pada hari ini (Maret 09),yakni 11 tahun dengan terapi obat-obatan herbal, Dass masih dalam kondisi yang sehat. Dia berhenti dari pekerjaannya sebagai tukang kebun sekolah dan sekarang dia menjadi instruktur sekolah mengemudi.

Komentar: Walaupun Dass bukanlah seseorang yang terpelajar, dia bijaksana dan memiliki banyak akal sehat. Pada mulanya, pengobatan kemo tidak menyembuhkan Dass sama sekali. Banyak orang yang masih akan melakukan kemoterapi lagi dan lagi setelah terjadi kekambuhan. Mereka beranggapan bahwa kemoterapi adalah jalan yang lebih aman untuk ditempuh.

Ketika Dass mengalami kekambuhan segera setelah dia menyelesaikan kemoterapinya, dia menempuh jalan yang lain. Dia tahu bahwa kemoterapi tidak dapat membantu dia.

 

 

Johnny Menolak Kemoterapi Setelah Operasi

Johnny, 46 tahun, telah didiagnosa kanker usus. Dia sudah menjalani operasi di rumah sakit swasta pada bulan January 2006. Sayangnya tidak berhasil dengan baik. Sembilan hari yang lalu, Johnny tersedak terus menerus dengan kondisi yang cukup berate, dan harus dilakukan perbaikan melalui operasi kedua.  Setelah operasi kedua ahli bedah menyarankan untuk dioperasi ketiga kalinya (tiga kali dalam satu bulan?). Johnny mundur. Setelah kelua dari rumah sakit, Johnny disarankan untuk melakukan kemoterapi, tetapi dia menolak pengobatan lanjutan. Dia datang ke CA Care pada bulan Maret 2006 dan mulai mengonsumsi ramuan herbal.

Pada bulan Oktober 2006, kami membicarakan pengalamannya dengan kanker. Di bawah ini adalah hasil pembicaraan kami.

Chris: Anda baik-baik saja?

Johnny: Saya semakin baik dan lebih baik lagi. Sampai saat ini tidak ada keluhan.

C: Apa yang membuat anda memutuskan tidak mau dikemoterapi?

J: Pengalaman saya melihat orang lain menderita, teman saya A, B, C, D dan saudara ipar perempuan saya sendiri. Saudara ipar saya sudah dikemoterapi dan meninggal setelah satu tahun dua bulan.

Konfrontasi Dengan Onkologis

J: Tibalah giliran saya masuk ke ruang onkologis itu. Dia membacakan nama saya dan mengajukan pertanyaan pertama: “Anda mengendarai mobil apa?” Diikuti pertanyaan selanjutnya: “Apa profesi anda?” Kemudian dia berkata: “Kanker ada seperti Mercedes, BMW, mobil Jepang atau mobil lokal. Kasus anda Stadium 2. anda membutuhkan obat yang bagus,seperti obat Mercedes, untuk mengatasinya Banyak jenis obat. Ada obat A yang bagus, B yang kurang bagus, dan C obat yang diminum. Jenis obat mana yang anda inginkan?

C: Dia meminta anda memilih obat?

J: Dia meminta saya untuk memastikan dulu akan melakukan kemoterapi. Baru kemudian

Memberitahukan jenis obat yang akan digunakan. Saya tanyakan dulu berapa biayanya.

C: Dalam pembicaraan itu, pernahkah dia mengatakan apapun obtan diberikan kepada anda dapat menolong atau tidak?

J: Tidak, tidak. Dia hanya mengatakan untuk percegahan.

C: Jadi seluruh gagasan itu hanya untuk pencegahan?

J: Ya dan saya harus dikemoterapi.

Johnny menolak untuk dikemoterapi – perawat menelepon dan menelepon lagi!

C: Setelah saya kembali ke rumah dari rumah sakit kanker, perawat di bagian onkologi itu menelepon ke rumah saya lagi dan lagi. Dia bicara dengan istri saya dan mengatakan bahwa kanker saya sangat berbahaya dan saya harus dikemoterapi. Istri saya mengatakan padanya bahwa saya sedang berobat dengan ramuan herbal dan tidak akan melakukan kemoterapi. Perawat itu menjawab: “ Jika anda melakukan di luar, akan berbahaya. Pengobatan itu tidak efektif dan akan mempercepat pertumbuhan dan penyebaran kanker.” Istri saya menjawab: “Dia sudah memutuskan dan akan tetap pada pendirianya.”

Komenter: Banyak alas an mengapa Johnny memutuskan tidak melakukan kemoterapi setelah dioperasi.

Johnny teringat nasib teman-temanya, termasuk atasanya yang menderita kanker. Kebanyakan dari mereka meninggal setelah melakukan kemoterapi. Dia tidak siap menerima nasib harus ditangani oleh okologis, benar ataupun salah.

Johnny adalah seorang pemerhati yang sangat mengandalkan akal sehat. Dia     bijaksana walaupun tidak tahu banyak tentang kanker. Sambil duduk di ruang tunggu, Johnny menghitung jumlah pasien yang datang menemui onkologis. Semuanya harus dikemoterapi, tanpa kecuali. Mungkinkah hal ini benar?

Saat menulis ini (Discember 2010), Johnny dalam keadaan baik. Dia bisa kembali berkerja seperti orang normal. Dibandingkan dengan saudara iparnya yang meninggal Johnny merasa dia sudah melakukan hal yang benar.

Soalan:

  1. Johnny diberitahu oleh okologis yang kemoterapi adalah untuk mencegah kanker kembuh kembali. Apakah cara ini benar? Apakah tidak ada jalan lain, seperti menukar pola hidup dan makanan?
  2. Apakah benar anchaman dari perawat yang herbal itu berbahaya? Dua tiga tahun pasien meninggal setelah dikemoterapi  – bukti ini jelas dan sering berlaku. Johnny sudah pun tiga tahun mengkonsumsi herbal dan dia tetap hidup. Dimankah bahayanya? Apakah kemoterapi lebih berbahaya?

Kemo, Cryoablasi dan Biji Radioaktif Tidak Menyembuhkan Obat Herbal Membuatnya Merasa Baikan

Suatu waktu pada awal Agustus 2007, Swee (nama samaran, 71 tahun, wanita dari Indonesia) menderita batuk dengan dahak bebercak darah. Dia berkonsultasi dengan dokter umum yang memintanya melakukan X-ray, menduga dia mungkin menderita tuberkulosis. Foto X-ray menunjukkan adanya tumor di paru-paru. Dia langsung dirujuk ke spesialis yang melakukan CT-Scan dan menemukan massa jaringan lunak berukuran 4.8 x 3.9 cm dengan limfadenopati pada paru kanan. Itu adalah kanker stadium III-A. Biopsi dianjurkan tetapi Swee menolak dan memutuskan datang ke Penang untuk pendapat kedua.

Di Penang, biopsi bronkial dilakukan dan hasilnya memastikan diagnosa awal. Itu adalah jenis karsinoma yang menyebar, berdiferensiasi rendah. Swee dirujuk ke ahli onkologis untuk kemoterapi.

Sehari sebelum Swee dijadwalkan untuk kemoterapi dia menerima telepon dari kerabatnya yang memberitahukan dia untuk mencari pengobatan di China saja. Dia melakukan ini tanpa ragu-ragu.

Swee dirawat di rumah sakit swasta di China selama dua puluh delapan hari. Dia menjalani pengobatan seperti berikut:

1.         Kemoterapi dengan Navelbine.

2.         Cryoablasi dengan Argon-helium. Tiga cryoprobe dimasukkan ke lesi dan keseluruhan proses pembekuan di pantau dengan CT scan sampai”bola es”sepenuhnya meyelimuti massa target. Setelah dua siklus pembekuan cryoprobe dicabut

3.         Penanaman biji radioaktif iodin. Dibawah pengawasan CT Scan, 15 radioaktif iodin – 125 biji ditanamkan pada massa tumor.

Dokter menyimpulkan perawatan ini berhasil. Swee diijinkan pulang ke Indonesia.

Pada November 2007, Swee kembali ke China untuk perawatan yang kedua kalinya. Kunjungan kali ini sekitar lima belas hari. Dia menjalani perawatan yang sama: kemoterapi dengan Navelbine, cryoablasi dan penanaman biji iodine. Menurut para dokter, prosedur yang kedua berhasil dan kondisi pasien menjadi lebih baik.

Menurut putranya yang menemani dia ke China, dokter di China menganjurkan Swee menjalani total enam siklus perawatan. Putranya bilang: Dokternya menjamin bahwa tumornya akan hilang dan pada saat yang bersamaan memperingatkan bahwa kanker akan menyebar ke bagian lain dari tubuh. Tidak ada jaminan bahwa tidak akan ada penyebaran. Dia juga tidak pasti bagian tubuh mana yang akan terkena penyebarannya.

Setelah Swee kembali ke rumahnya, anggota keluarganya mengalami dilema. Mereka tidak mempunyai tabungan lagi untuk pengobatan yang lebih lanjut di China. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan pertama mereka adalah 87,000 Yuan. Pengobatan kedua 57,000 Yuan. Swee ingin menjual rumah yang sekarang ditempati keluarganya untuk membiayai perawatannya. Lima anaknya (dua putra dan tiga putri) tidaklah yakin bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Ini dikarenakan tidak adanya kepastian Swee akan sembuh total.

Putra Swee datang menemui kami pada Desember 2007 dan ingin mengetahui hal-hal berikut:

1.         Apa yang harus mereka lakukan?

2.         Apabila ada kemungkinan mengkonsumsi obat herbal kami dan pada saat yang bersamaan menjalani pengobatan China, apakah mereka harus memutuskan untuk ke China lagi. Maksudnya agar obat herbal ini dapat membantu Swee dalam beberapa hal yang mana pengobatan medis tidak dapat lakukan.

Saya memberitahu putranya bahwa hal yang paling penting yang mendapat pertimbangan serius adalah kemungkinan akan kanker tersebut menyebar ke otak. Tidak ada orang yang dapat mencegah hal itu dan kemungkinan untuk terjadi metastasis ini sangat tinggi.

Untuk hal ini putranya berkata : Ya. Ketika saya di rumah sakit di China saya telah melihat beberapa pasien yang menderita seperti ibu saya dan yang menjalani perawatan yang serupa. Sekitar enam bulan setelah perawatan kanker menyebar ke otak. Dokter juga memberitahu saya bahwa tipe kanker yang diderita oleh ibu saya adalah tipe yang sangat agresif dan terdapat 90% kemungkinan bahwa kanker akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Tidak ada jaminan bahwa tidak akan menyebar.

Swee dan dua anak perempuannya  kunjungi CA Care (Penang) untuk pertama kalinya setelah mengambil herbal kami selama sekitar satu tahun.

Chris (C): Anda telah minum herbal selama 1 tahun. Bagaimana kesehatan Anda?
Swee (S): Bagus. Tidak ada masalah.

C: Setelah pengobatan di Cina, apakah Anda baik?
S: Ya. Tetapi saya tidak mampu untuk pergi lagi. Keuangan kami sangat terbatas.

C: Berapa kali Anda pergi ke Cina?
S: Dua kali.

C: Anda memutuskan untuk tidak melakukan chemo lagi di Cina? Dan Anda memutuskan untuk mengambil herbal kami?
S: Ketika saya datang dari Cina saya batuk pada malam hari.

C: Setelah Anda minum herbal, apakah Anda masih batuk?
S: Tidak ada lagi batuk.

C: Apakah Anda terus minum herbal kami sehingga sekarang?
S: Ya. Saya tidak berhenti minum herabal sejak tahun lalu.

Pada bulan Agustus 2009, hampir dua tahun ibunya minum herbal, putra Swee datang ke pusat CA Care.

C: Anda berkata ibumu dua kali pergi ke China. Karena kendala keuangan, dia berhenti pergi ke China?
Putra: Dia tidak kembali lagi di sana.

C: Selain mengambil herbal kami, apakah ia mengambil obat orang lain?
P: Tidak. Dia hanya mengambil herbal Anda.

C: Bagaimana kesehatan ibu? Apakah ia bagus?
P: Dia baik dan waspada. Tetapi jika ia bekerja terlalu keras dan tidak memiliki cukup istirahat ia merasa lelah. Kemudian dia batuk pada malam hari.

C: Ada apa-apa keluhan?
P: Sampai saat ini, semuanya okay. Tidak ada keluhan.

C: Ini sudah dua tahun sejak pertama kali Anda datang untuk berkonsultasi dengan saya.
P: Ya, sekitar dua tahun.

C: Saya pernah mendengar tentang temannya yang pergi ke China. . . . .
P: Mereka semua telah meninggal.

C: Bagaimana Anda tahu?
P: Mereka semua tinggal di dekat tempat kami di Medan. Tiga orang yang bersama-sama pergi ke Cina untuk pengobatan. Dari tiga, ibu saya adalah satu-satunya orang yang bertahan sampai sekarang dan masih hidup.

C: Oh, dua teman-teman lainnya sudah mati?
P: Dokter di China mengatakan kepada mereka tidak perlu datang lagi ke Cina untuk berobat.

C: Berapa lama mereka menjalani perawatan di Cina?
P: Mereka pergi ke China total 5 (lima) kali untuk perawatan.

C: Ibu Anda pergi dua (2) kali?
P: Ya.

C: Secara ikhlas, bagaimana ibu Anda sekarang? Seberapa sering Anda melihat dia?
P: Saya kembali ke Medan setiap bulan. Ia sehat dan normal.

C: Bagaimana ibumu sebelum ia pergi ke China?
P: Sebelum perawatan di China, ia terlihat lelah dan lesu. Setelah pengobatan di China, dia sedikit lebih baik. Tetapi setelah menminum herbal CA Care, dia lebih baik dan lebih baik dan sangat waspada dan normal sekarang.

C: Jadi, apa yang dia lakukan sekarang?
P: Kami memiliki bengkel motor. Ia bekerja sebagai kasir di sana. Dia mulai bekerja di sekitar 9 – 10 pagi. Ia memerlukan nap antara 2 – 4 sore. Setelah itu, dia terus bekerja lagi.

C: Anda berhati-hati bahwa ia tidak terlalu berkerja banyak atau overstress diri. Apakah dia terus minum herbal?
P: Dia terus minum. Dia juga jaga tentang dietnya.

C: Ketika ia kembali dari China, dia dapat bekerja seperti sekarang?
P: Tidak. Dia masih lemah. Dia tidak bisa memasak atau melakukan sesuatu pekerjaan. Setelah mengambil herbal anda, dia bisa memasak sendiri dan didihkan teh-teh itu.

C: Sebenarnya, herbal kami bagus?
P: Jika tidak baik, saya tidak akan kembali lagi!

C: Berapa banyak biaya pengobatan dua kali ke China?
P: Lehih kurang 250 juta rupiah.

C: Apakah itu bermanfaat dan bernilai?
P: Huh. Tersenyum. (Tidak beri apa-apa komentar)

C: Ingat. Tidak ada obat untuk kanker. Kita hanya bisa kontrolnya saja. Apakah Anda memahami hal ini?
P: Semua anak-anak di keluarga kita memahami ini. Kami hanya berharap tak terjadi apa-apa.

C: Jika seseorang bisa lebih baik, ini kearah pemulihan, tidak ada alasan bahwa ia akan mundur dan tiba-tiba mulai mendapatkan parah. Jika itu terjadi, berarti ada melakukan apa yang salah, seperti tidak minum herbal atau makan makanan yang tidak benar.

Komentar

Sangatlah sulit bagi saya dalam hal ini untuk menasehati, kecuali untuk mengatakan bahwa dari yang saya baca di literatur medis, kanker paru fatal dan kemungkinan sembuh itu nol. Tetapi bagaimana caranya saya mengirimkan pesan ini dalam sikap yang tidak traumatik kepada pasien dan/atau anggota keluarga mereka?

Alexander Spira dan David Ettinger (Multidisciplinary management of lung cancer. New Englang J. of Med. 350:379-392) menulis: Walaupun bertahun-tahun penelitian dilakukan, prognosis untuk pasien dengan kanker paru tetap mengecewakan.

Menurut Stephen Spiro dan Joanna Porter (Lung cancer – where are we today? Amer. J. Respiratory and Critical Care Med. 166:1166-1196):  Walaupun kemoterapi merupakan pendekatan yang logis, tidak ada bukti nyata bahwa itu dapat menyembuhkan NSCLC. Biaya keuangan … tinggi. Biaya lain dari kemoterapi adalah toksisitas dan potensinya untuk menurunkan kualitas hidup. Mengecewakan seperti yang didengar, ini merupakan kenyataan dari situasi ini.

Bahkan apabila apa yang saya katakan (kanker paru tidak ada kesembuhan) mungkin benar, umumnya pasien tidak akan mempercayai atau menerima itu dengan baik. Mereka menginginkan suatu kesembuhan dan  mereka mengharapkan kesembuhan itu dari perawatan yang ditawarkan kepada mereka. Apabila  kita menawarkan obat herbal dan mengajari mereka untuk mengganti kebiasaan hidup mereka dengan harapan dapat memperpanjang hidup mereka atau meningkatkan kualitas hidup mereka, mereka tetap memaksa kami untuk meberitahukan kemungkinan untuk sembuh.

E-mail ini merupakan satu contoh bagus untuk menggambarkan inti yang saya maksud.

Pasien menaruh kepercayaan total pada dokter untuk menuliskan metode resep terbaik, menaruh hidup mereka pada tangan dokter-dokter medis. Perusahaan farmasi besar … membuktikan mereka cukup meyakinkan dengan penjelasan ilmiah sampai hari ini. Itulan sebabnya kenapa banyak pasien masih memilih obat-obat mereka. Sebaliknya, pengobatan herbal tidak menawarkan penjelasan bagaimana cara kerjanya dan sampai sejauh mana dapat membantu pasien. Dalam kata lain, tidak ada jaminan bahwa dengan mengkonsumsi obat herbal akan membuat anda merasa baikan. Sama saja, apabila saya menanyakan kepada anda, secara pribadi, bagaimana dan sampai sejauh mana obat herbal anda dapat membantu pasien, saya tidak berpikir saya akan mendapatkan jawaban yang konkrit.

Sekali lagi, anda mungkin bilang itu tergantung dari pasien untuk memutuskan dan menaruh kepercayaannya pada keputusan apapun yang dibuat. Ini seperti memberitahu pasien untuk memilih apapun yang menurutnya merupakan pengobatan yang tepat. Saya tidak berpikir ini benar. Apabila saya mengetahui ada sesuatu di luar sana yang  ampuh – baik itu adalah herbal maupun obat, saya tidak akan takut untuk berkomitmen dan membela fakta bahwa obat tersebut ampuh.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang mungkin pasien akan tanyakan ketika mempertimbangkan obat herbal anda sebagai pengobatan alternatif seperti: apakah anda dapat dengan percaya diri mengatakan bahwa obat herbal anda lebih efektif daripada pengobatan modern?

Saya sepenuhnya mengerti pasien menginginkan jaminan atau janji akan kesembuhan. Tetapi pengalaman kami mengatakan bahwa tidak ada kesembuhan untuk kanker, baik untuk stadium awal maupun akhir.

Untuk memberitahu pasien sebaliknya, sejumlah kebohongan dengan berbagai cara dilakukan. Untuk kami, menyembuhkan (catatan: bahwa kata menyembuhkan yang dimaksud bukan berarti kesembuhan total) dari kanker bukan cuma dengan mengkonsumsi obat herbal saja. Kebanyakan pasien melewatkan inti bahwa mereka terlebih dahulu harus belajar untuk membantu diri mereka sendiri dengan mengganti gaya hidup mereka, diet, dan perubahan pola pikir apabila mereka mencari sebuah penyembuhan.

Sayangnya, perubahan semacam ini merupakan hal yang sulit dilakukan oleh pasien. Dalam kasus ini, putranya memberitahu kami bahwa Swee bukan orang yang mau berubah. Dia tidak siap untuk merubah dietnya dan makan semua makanan yang dia suka. Argumennya: kenapa saya tidak diperbolehkan makan segala yang saya suka – saya tetap akan segera meninggal. Tidak terjadi pada Swee bahwa mungkin saja gaya hidup yang tidak sehatlah yang meyebabkan kematian suaminya (komplikasi hipertensi, diabetes, dan lain-lain). Sebagai tambahan saudara perempuannya meninggal karena kanker kolon, saudara laki-laki karena kanker abdomen (perut) dan bibinya karena kanker nasofaringeal (NPC).

Kedua, obat herbal tidak akan terasa enak dan anaknya bahkan tidak mengharapkan Swee mau meminumnya. Pendek kata, kebanyakan pasien seperti Swee hanya tertarik mencari penyembuhan dengan cara mereka sendiri. Mereka mencari peluru ajaib yang akan dapat membuat merasa sehat.

Drs. Richard Deyo dan Donald Patrick, profesor-profesor di University of Washington, Seattle, USA, dalam buku mereka, Hope or Hype: the obsession with medial advances and the high cost of false promises, menulis:

1.          Kita terlahir dengan kepercayaan buta kita sendiri dalam perusahaan medis yang memangsa ketakutan terbesa kita, semuanya alih-alih demi pertolongan kita dengan “kesembuhan ajaib”.

2.         Kombinasi dari keserakahan industri,??? , Publikasi media massa yang gencar, kebijaksanaan politik, dan pola pikir kita sendiri yang “techno-consumption” mengarahkan kita lebih dan semakin lebih pada ketergantungan pada terapi yang mahal harganya, sedikit keefektifannya – dan kadang sangat berbahaya.

3.         Ketika adanya  pilihan menyangkut cara pengobatan terbaru, asumsi atau anggapan orang adalah bahwa semakin banyak dan semakin baru pasti akan lebih baik?

4.         Dikatakan bahwa dokter lebih suka menuliskan resep dengan obat-obat terbaru bahkan tanpa  melihat bukti nyata apapun yang membuat mereka senang, membuat pasien senang dan membuat medical representation (sales obat) merasa senang.

Kami tidak mempercayai bahwa terdapat hal seperti peluru ajaib untuk kanker. Kami menyimpang dari sebab dan mengkhianati misi kami apabila kami bilang atau bertindak  seakan kita mempunyai itu. Sangatlah sulit bagi kebanyakan orang untuk mengerti bahwa kami disini hanya mencoba untuk membantu. Kami tidak berkeinginan untuk memaksakan obat herbal kami. Kami pun tidak mematok target penjualan dan tidak bertujuan untuk menaklukkan pasar bisnis. Kerja kami berlandaskan cinta dan semangat, bukan keuntungan. Apabila ada asuransi atau garansi yang didapatkan pasien dari kami, akan berupa: Cobalah obat herbal kami untuk seminggu atau dua minggu. Apabila pasien tidak merasa enakan, berhenti konsumsi obat herbal kami dan carilah orang lain yang dapat membantu.

Mari saya ringkaskan denga cerita ini.

Kanker paru sebelumnya diobati dengan Iressa. Ketika Iressa pertama kali diedarkan diumumkan di media sebagai: Obat Masa Depan; Obat Ajaib; Obat Pintar; Kesembuhan Ajaib – obat yang Bangkit dari Abu dan berbagai macam nama lainnya.

Pesan ke dunia sudah jelas: Suatu terobosan mutakhir di tangan – terdapat harapan dan antisipasi yang besar. Pasien penderita kanker paru tidak perlu meninggal lagi. Sebuah obat ajaib akhirnya ditemukan. US – Food and Drug Administration menyetujui penggunaan obat ini. Ini membuatnya lebih menyakinkan. Jaminan seperti inilah yang dibutuhkan bagi pasien kanker di seluruh dunia sebelum mereka menelan pil pertama mereka – nama penulis e-mail diatas tercantum.

Dalam sebuah artikel: Iressa seharusnya tidak pernah disetujui (http://npojip.org/iressa/iressaISDB-Feb-2.html) Rokuro Hama menulis:

  • Sejauh ini kira-kira 23,500 orang di Jepang telah menggunakan Iressa, 644 menderita efek samping. Karena ini telah meninggal 183 orang. Obat ini disetujui pada Juli 2002 di Jepang dan pada akhir Januari 2003 – hampir enam bulan kemudian, kematian yang berhubungan dengan reaksi efek samping Iressa telah mencapai 183 orang.

Pada negara-negara Barat, Iressa ditarik dan terbukti tidak efektif lagi berhubung besarnya pemberitahuan lewat media sebelumnnya. Tetapi di negara-negara Timur, Iressa masih diresepkan pada banyak pasien kanker, bahkan hari ini. Pasien harus menghabiskan RM 7,000 sampai RM 8,000 untuk persediaan Iressa selama sebulan.

Dengan Iressa dijelekkan, beberapa ahli onkologis beralih ke obat lain bernama Tarceva, obat yang bersaudara dengan Iressa. Satu pil Tarceva seharga RM 270 yang akan menjadi RM 8,100 jika diakumulasikan untuk persediaan selama sebulan. Apakah Tarceva efektif? Website perusahaan mengatakan bahwa itu sudah terbukti telah menaikkan angka harapan hidup secara keseluruhan sebanyak 37% dan telah menunjukkan keuntungan yang signifikan dengan memperpanjang waktu perburukan gejala. Dokter-dokter dan pasien-pasien menyukai jaminan seperti itu. Statistik secara ilmiah juga sangat menakjubkan. Tetapi apakah arti dari 37% ? kenyataannya: jika anda mengkonsumsi Tarceva, anda dapat hidup selama 9.5 bulan dan jika anda tidak mengkonsumsi Tarceva anda hanya dapat hidup selama 6.7 bulan. Dalam kalimat sederhana Tarceva hanya meningkatkan angka harapan hidup sebanyak 2.8 bulan.

Bagaimana jaminan seperti ini kedengaran bagi pasien? Apakah pasien tahu atau diberitahukan mengenai hal ini? Ingat, janji untuk sanggup bertahan 2.8 bulan lebih panjang itu datang dengan label harga RM 8,000 sebulan.

Laporan Terkini

Ibu memutus tidak pergi ke China untuk rawatan selanjutnya. Rumah kediaman seluruh keluarganya tidak perlu dijual!

 

Kemo Gagal dan Dia Melanjutkan Berobat Dengan Tarceva Penyusutan Tak Berarti dari Tumor dengan Pengobatan Tarceva

Mark (nama samaran) adalah seorang laki-laki berumur 34 tahun. Suatu ketika  bulan September 2006 dia menderita batuk yang kemudian didiagnosa sebagai kanker paru.  Paru kanannya juga mengandung cairan (efusi pleura). Sebagai tambahan, terdapat beberapa lesi metastatik pada separuh lobus kanan tengah dan bawah dari paru yang kolaps. Paru sebelah kiri bersih. Sayangnya kanker telah menyebar ke iga IV dan VI. Biopsi bagian inti dari massa yang terdapat di paru mengindikasikan papillary adenokarsinoma yang berdiferensiasi sedang.

Dari Desember 2006 ke Februari 2007, Mark menjalani kemoterapi dengan Gemzar dan Cisplatin. Setiap bulannya dua siklus dan dia menerima total enam siklus. Biaya dari setiap siklusnya sekitar RM 4,000. Ahli onkologis memberitahunya bahwa tidak menjamin dapat sembuh tetapi ukuran dari tumor akan berkurang dengan pengobatan.

Setelah kemoterapi selesai, dilakukan CT scan pada 7 Maret 2007 yang menunjukkan paru kanan kolaps parah dengan lesi massa berukuran 6 cm dekat dengan hilus. Mark harus menjalani prosedur untuk mengembalikan fungsi paru.

Mark diberitahu bahwa kemoterapi tidak efektif. Dia diminta untuk mengkonsumsi obat oral, Tarceva yang mana menghabiskan RM 270 / pil. Respon dari perawatan sebagai berikut:

1.   CT  scan pada 9 Maret 2007 menunjukkan massa 7.5 cm x 6 cm dan nodul tambahan berukuran 4.5 cm x 3.5 cm.

2.   CT scan pada 31 Mei 2007 menunjukkan massa berukuran 4 cm x 2 cm, terjadi penyusutan yang signifikan pada ukuran massa paru kanan.

3.   CT scan pada 13 September 2007 menunjukkan tidak ada perubahan yang berarti dibandingkan CXR sebelumnya.

4.   CT scan pada 13 November 2007 menunjukkan massa yang lebih besar berukuran 8 x 6 x 4 cm. Terdapat fibrosis di apeks kanan dan basis paru kanan. Terdapat penghancuran salah satu dari iga bawah sebelah kiri diduga berhubungan dengan metastasis tulang.

Dengan Tarceva, Mark diberitahu bahwa awalnya ukuran tumor sudah berkurang sekitar delapan puluh persen dari ukuran awalnya. Sayangnya penyusutan ini tidak berlangsung lama. Setelah delapan bulan mengkonsumsi Tarceva (menghabiskan RM 64,000) sudahlah jelas bahwa pengobatan tersebut telah gagal.

Mark diberitahu berita mengecewakan bahwa tumor telah membesar lagi. Tarceva tidaklah efektif. Sebagai tambahan, metastasis tulangnya bertambah parah. Mark juga mengkonsumsi Bonefos sejak didiagnosis dan pengobatan ini menghabiskan sekitar RM 400 sebulan.

Mark dan istrinya datang menemui kita pada Desember 2007. Mereka ingin tahu apakah dengan mengkonsumsi obat herbal tersebut tumor akan menyusut dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk obatnya bekerja. Jujur respon saya adalah: Maaf saya tidak tahu.

Komentar

Mark dan istrinya datang mencari kami untuk mendapat jaminan bahwa obat herbal dapat menyembuhkan dia.

Kami mempunyai pasien penderita kanker paru yang diberitahu oleh dokternya bahwa dia cuma bisa bertahan hidup selama 6 bulan, tetapi dengan mengkonsumsi obat herbal mereka hidup normal selama dua atau tiga tahun lebih sebelum akhirnya mereka benar-benar menyerah pada kanker.

Seorang pria dengan kanker tulang diberitahu: Pulanglah dan siapkan surat wasiat anda. Anda cuma mempunyai waktu enam bulan. Dia menolak pengobatan Bonefos, mengkonsumsi obat herbal dan masih hidup sampai hari ini – sudah hampir tujuh tahun sekarang.

Bagaimanapun, tetap salah kalau kita menuntut bahwa obat herbal dapat mengobati kanker. Sayangnya ketika Mark datang menemui kami, saya tidak dapat memberikan jaminan bahwa obat herbal dapat menyembuhkan apapun jika alasan itulah yang membuat dia dan istrinya datang. Saya memberitahu mereka, kami cuma dapat melakukan yang terbaik untuk membantu.

Saya diingatkan apa yang dibilang oleh Randall Fitzgerald (pada The Hundred Years Lie) :

  • Untuk kebanyakan orang yang tumbuh dan bergantung pada teknologi dan obat-obatan laboratorium dari pengobatan Barat, melepaskan paradigma itu atau bahkan berpikir untuk menggunakan pengobatan yang “kedengaran aneh” dari budaya lain, membutuhkan keyakinan dan kepercayaan.
  • Untuk mayoritas dari kita, sebelum kita menemukan penyembuhan alternatif, kita harus  pertama mengalami perasaan depresi dan capek terhadap rangkaian pengobatan kimia sintetis yang ditawarkan oleh pengobatan moderen.

Bagaimanapun, untuk beberapa orang pengalaman akan kegagalan tidak memberikan isyarat apapun. Kebenaran yang menyedihkan tentang kanker paru stadium lanjut adalah bahwa tidak adanya penyembuhan untuk penyakit tersebut – bahkan dengan kemoterapi maupun Tarceva.

Stephen Spiro dan Joanna Porter dalam sebuah artikel: Lung cancer– where are we today? (Kanker paru – kemana kita sekarang ?)  (American J. Respiratory and Critical Care Medicine. 166:1166 – 1196, 2000), menulis: walaupun kemoterapi merupakan pendekatan yang logis, secara virtual tidak terdapat bukti bahwa itu dapat menyembuhkan NSCLC (non – small cell lung cancer).

Ronald Feld dkk. (pada Lung. Clinical Oncology. 2nd ed. Harcourt Asia) meringkas pembicaraan: Di samping banyaknya pasien berdasarkan percobaan klinis, peranan daripada sistemik kemoterapi pada penatalaksanaan NSCLC merupakan salah satu dari isu yang paling controversial pada onkologi medis zaman sekarang.

Dr. Jeffrey Tobias dan Kay Eaton (pada Living with Cancer) lebih jelas ketika mereka menulis

  • Untuk pasien dengan NSCLC … (perawatan) sebenarnya lebih mengarah ke perbaikan gejala daripada perawatan dengan prospek untuk penyembuhan … sebuah kesembuhan tidaklah dapat benar-benar diusahakan.
  • Respon awal yang dramatis terhadap kemoterapi jarang bertahan sampai satu atau dua tahun … mungkin dalam enam bulan (terdapat) bukti yang jelas bahwa kanker telah kembali.

Apa itu Bonefos?

Bonefos digunakan pada beberapa kanker untuk mengurangi kerusakan pada tulang yang dapat mengakibatkan sakit dan patah tulang. Nama kimianya berupa Clodronate disodium yang digolongkan dalam kelas obat bernama bifosfonat. Cara kerjanya dengan menghentikan keluarnya kalsium dari tulang yang membuatnya makin lemah dan juga meningkatkan resiko terjadinya fraktur dan nyeri di samping meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Sekarang tertulis bahwa itu menyembuhkan kanker tulang. Dan dalam kasus ini, Bonefos tidaklah efektif.

Apa itu Tarceva?

Bukalah website dan carilah kebenaran yang pahit tentang obat oral yang satu ini. Menurut website perusahaan, http://www.tarceva.net/survivalresults.aspx, Tarceva merupakan obat oral pertama dan satu-satunya yang bersifat penghambat HER1/EGFR tirosin kinase yang terbukti memperpanjang angka harapan hidup. Obat ini secara signifikan meningkatkan angka harapan hidup sampai 37% dan juga mendemonstrasikan keuntungan gejala dengan memperpanjang waktu perburukan gejala.

Tulisan ini sangat menarik. Tetapi seperti biasanya, biarkan saya memperingatkan pasien untuk membaca menggunakan akal sehat. Tanyalah apa artinya kenaikan angka harapan hidup sampai 37% dalam kalimat sederhana? Data yang tersedia pada perusahaan sebagai berikut:

1.   median angka harapan hidup adalah 9.5 bulan dengan Tarceva vs 6.7 bulan dengan plasebo. Dalam kalimat sederhananya Tarceva cuma meningkatkan angka harapan hidup sampai 2.8 bulan. Secara matematis benar untuk mengatakan bahwa kenaikan angka harapan hidup dengan tarceva adalah 41.8%. Tentu saja kenaikan 41.8% terdengar sangat menggiurkan.

2.   Tarceva memperpanjang angka harapan hidup bebas progresif secara signifikan (PFS) sebanyak 82%. Angka sebenarnya adalah PFS dengan Tarceva adalah 3.6 bulan vs 1.8 bulan dengan plasebo.

Sekarang TIDAK ada pada literatur medis tertulis bahwa Tarceva menyembuhkan kanker paru! Pasien perlu untuk memutuskan apakah pantas menghabiskan RM 8,000 tiap bulan untuk pengobatan yang menunjukkan hanya dapat memperpanjang hidup selama 2.8 bulan. Pada kasus ini, Mark telah menghabiskan RM 64,000 dan menemukan bahwa Tarceva telah gagal.

 

Mengkonsumsi Obat Herbal dan Tetap Sehat Selama Tujuh Tahun Sampai sekarang

Siew (A948) berusia 20 tahun ketika dia menderita demam tinggi yang naik turun pada 1996. Terdapat juga sebuah benjolan di sisi kiri dari lehernya. Dia berkonsultasi ke sinshe Cina yang memberitahu dia bahwa ini terjadi dikarenakan kepanasan. Karena permasalahannya menetap,

Pengobatan meliputi:

Fase Induksi

1.   Vincristine pada hari 1, 8, 15, 22, dan 29.

2.   Daunorubicin pada hari 1, 8, 15, 22, dan 29.

3.   Prednisolon pada hari 1 sampai 22.

4.   L – asparginase pada hari 15 sampai 28.

Setelah fase induksi, pengobatan diistirahatkan selama 2 minggu dan fase kedua dimulai dengan:

Fase 2

1.   Siklofosfamid pada hari 26 sampai 50.

2.   Ara C (andriamisin) pada hari 13 sampai 16, 43 sampai 46, 50 sampai 53 dan 57 sampai 60.

3.   6 – MP, melalui iradiasi kranial.

4.   MTX.

5.   Iradiasi kranial selama 15 kali.

Setelah Fase 2 terselesaikan, pengobatan diistirahatkan selama 2 minggu dan dilanjutkan dengan:

Fase 3

1.   Mitoxanthrone pada hari 2 dan 3.

2.   Ara C pada hari 1 sampai 4.

Pada 31 Juli 1997,  enzim hepar Siew meningkat dan HbsAg reaktif.

Dokternya beranggapan bahwa ini mungkin dikarenakan transfusi darah pada hepatitis. Kemoterapi lanjutan dilakukan. Fungsi hati Siew kembali normal dan tes ultrasound pada abdomennya juga normal. Aspirasi Sumsum Tulang (AST) dilakukan pada 17 September 1997, menunjukkan tidak adanya bukti infiltrasi.

Dari 1 Oktober 1997, Siew diobati dengan MTX, L – asparginase, asam folinat dan metotreksat. Pada 29 Oktober 1997, AST dilakukan dan hasilnya negatif. Lebih banyak lagi pengobatan kemoterapi dilakukan berdasarkan basis reguler sampai Mei 1998.

Siew menjalani pengobatan oral pada 1999. Pada 2000 dia terlihat sehat dan tidak pada pengobatan apapun. Pada Juli 2000, Siew datang untuk mencari bantuan. Dia diresepkan beberapa obat herbal tetapi kunjungannya yang pertama juga merupakan kunjungannya yang terakhir.

Sekitar 2 tahun kemudian, pada Maret 2002, Siew datang kembali menemui kita. Keadaan waktu datang:

1.   Merasa berat pada kepala.

2.   Kelelahan.

3.   Pembengkakan pada sisi kanan dari lehernya. Terdapat sensasi tertarik dengan rasa nyeri singkat.

Kami menganjurkan Siew untuk kembali mengunjungi dokternya di rumah sakit untuk pengobatan medis yang lebih jauh. Siew menolak dengan datar. Dia memberitahu bahwa dokter ingin melakukan biopsi pada benjolan. Dia juga tahu bahwa pada akhirnya dia harus menjalani kemoterapi lagi. Siew mengatakan bahwa dulu dia sangat beruntung bisa keluar dari rumah sakit dan masih hidup. Ketika di rumah sakit menerima pengobatan, dia melihat banyak pasien dengan kondisi yang serupa tidak berhasil dan meninggal.

Kami menghormati keputusan Siew untuk menggunakan obat herbal disamping melakukan kemoterapi. Kami memberitahukan bahwa benjolan di lehernya mungkin tidak akan hilang. Dan tidak ada jaminan bahwa dia akan merasa baikan juga. Siew dan istrinya mengerti resiko-resiko yang dia ambil.

Siew merasa baikan setelah satu minggu mengkonsumsi obat herbal. Kepalanya tidak merasa berat lagi. Benjolan di lehernya tampak mengendor dan tidak ada sensasi ketarik. Bagaimanapun, dia masih merasa lelah.

Setelah kira-kira dua bulan mengkonsumsi obat herbal, Siew memperhatikan bahwa benjolan di leher bertamabah bengkak. Juga, terdapat benjolan tambahan. Bagaimanapun, kesehatan Siew tetap baik.

Setelah kira-kira setahun mengkonsumsi obat herbal, Siew melaporkan bahwa dia mengalami lebih sedikit episode demam dibanding waktu dulu. Bagaimanapun, kadang-kadang dia juga merasa kepanasan. Obat herbal Heat Flu kami membantu dia menyelesaikan masalah ini. Awalnya, Siew menunjukkan kepada kita 3 benjolan yang membentuk menjadi satu di lehernya. Tetapi kemudian, 2 benjolan telah hilang. Ukuran dari benjolan yang menetap juga telah mengecil.

Seperti halnya tulisan ini, April 2009, telah 7 tahun sejak Siew memutuskan untuk meninggalkan perawatan medis dan datang menemui kami. Selama masa ini, dia mengkonsumsi obat herbal kami dengan sangat patuh dan taat pada semua anjuran diet kami. Siew tampak sehat dan tidak menderita masalah apapun. Dia baik-baik saja sampai hari ini.

Pada 12 April 2009, kami berbincang singkat dengan Siew dan istrinya. Berikut adalah cuplikan pembicaraan kami.

Chris (C): Anda tampak sehat.

C: Anda menderita kanker pada 1997?

S : Ya. Terdapat benjolan pada leher saya. Saya pergi ke rumah sakit umum untuk kemoterapi.

C: Berapa lama anda menjalani kemoterapi?

S (Siew) : Sekitar 2 tahun, masuk keluar rumah sakit.

W (Istri) : Setelahnya kambuh lagi. Dalam waktu satu setengah tahun, terdapat benjolan besar lagi.

S : Sekarang juga terdapat benjolan.

W: Tetapi sangat kecil, sangat sangat mini.

C: Coba saya lihat. Kenapa warnanya merah?

S : Saya menyentuhnya.

W: Tidak dapat merasakannya lagi. Terakhir kali, saya dapat dengan mudah merasakannya. Jauh lebih besar.

S : Terakhir kali, saya dapat merasakannya begitu saya menaruh tangan saya ke leher. Sekarang, saya harus benar-benar mencari untuk menemukannya. Saya harus menekan leher untuk menemukannya.

W: Seperti yang anda katakan: Hiduplah dengan itu.

C: Dalam tujuh tahun ini, apakah anda mempunyai masalah?

S : Tidak juga. Kadang-kadang saya mungkin demam sedikit.

W: Sangat jarang sekarang. Dulu, sangat sering.

C: Saya ingat, anda dulunya sangat sering demam.

W: Setuju.

S : Ketika saya mengalami sakit kepala, demam juga akan menyerang saya.

W: Tetapi itu tidak serius.

C: Jadi, setelah kemo, terjadi kekambuhan?

W: Dokter menginginkan dia menjalani biopsi. Tetapi dia kabur.

(Semua orang tertawa)

C: Dokter mengajurkan kemo?

S : Tetapi mereka ingin melakukan biopsi terlebih dahulu.

W: Saya membawanya keluar dari rumah sakit.

S : Dia membawa saya pulang. Dia membantu saya melarikan diri.

C: Apa yang membuat anda melakukan hal itu?

W: Kami telah tahu bahwa itu adalah kanker. Apa tujuan dari melakukan biopsi lain lagi? Itu tidaklah masuk akal. Itulah yang saya pikirkan kemudian. Jadi, saya membawa dia ke sini. Saya tidak menyetujui ide untuk mengusik benjolan tersebut.

S : Bagi saya tidak apa untuk melakukan biopsi. Tetapi setelah itu, mereka menginginkan saya untuk menjalani kemoterapi. Saya tidak ingin menjalani kemoterapi lagi. Cara berpikir istri saya memberikan saya kesempatan (pilihan) untuk menolak kemoterapi.

W: Dia tidak ingin menjalani kemoterapi lagi dikarenakan penderitaan yang dia alami ketika menjalani kemoterapi yang lalu.

C: Apakah kemoterapi begitu menyeramkan?

W: Dia bahkan pingsan di jalan suatu kali.

S : Itu cuma gelap mendadak – tetapi hanya untuk waktu yang singkat. Itu terjadi pada hari-hari saya dikemoterapi.

W: Dan livernya juga terpengaruh. Tidak ada masalah dengan livernya sebelum dia menjalani kemoterapi. Dokter mengatakan bahwa dia mempunyai hepatitis dan hal-hal lainnya. Mereka menginginkan dia menjalani lebih banyak pengobatan. Karena dia mempunyai pilihan, dia memilih untuk ke sini. Kami melakukan persis seperti yang anda beritahukan. Dia minum jus apel dan jus hasil ekstraksi dari dedaunan dari tumbuhan tujuh jarum dan lainnya.

C: Saya ingat. Ketika anda pertama kali datang, saya juga turut khawatir.

S : Pada waktu itu, saya hanya berumur dua puluh tahun lebih. Sekarang saya sudah berumur tiga puluhan lebih.

W: Tetapi hal yang paling penting adalah makanan yang dia makan.

S : Jika saya menjalani kemo lagi, saya tidak dapat bekerja sama sekali.

C: Maksud anda, dua tahun selama anda dikemo, anda tidak kerja?

S : Ya, saya tidak kerja. Anda lihat, saya susah makan. Saya muntah. Saya merasa lemah.

C: Bagaimana dengan daya ingat atau memori anda?

S : Lumayan.

W: Kamu sangat pelupa. Kamu tidak mempunyai daya ingat yang bagus.

S : Tentu saja saya dapat mengingat hal-hal yang terjadi sehari atau dua hari kemarin. Tetapi untuk hal yang telah terjadi lama sekali, saya tidak dapat mengingatnya dengan jelas.

W: Dia tidak dapat mengingat wajah-wajah. Tidak dapat mengenali orang-orang yang dia temui.

C: Dibandingkan dengan waktu sebelum anda dikemo. Apakah ada perbedaan dalam daya ingat anda?

S &W : Ya, ada perbedaan.

S : Saya lebih mudah lupa. Saya sudah tidak seteliti dulu.

W: Dia cukup lamban.

S : (Setuju) Ya. Ketika saya bicara, tidak terasa seperti dulu. Saya tidak dapat berbicara selancar dulu. Terkesan seperti sedikit cadel. Tidak sejelas dulu.

W: Dan rambutnya tidak sebanyak dulu. Telah banyak menipis. Dan tidak tumbuh menjadi sebanyak dulu.

S : Ketika saya bicara, pada saat yang sama saya tidak dapat mengekspresikan diri dengan baik.  Saya tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat  yang dimaksudkan untuk diungkapkan.

C: Sebelum kemoterapi anda, apakah anda mengalami hal seperti ini?

S : Tidak, tidak pernah.

W: Satu masalah adalah dia tidak dapat memakan apapun yang dimakan orang lain.

C: Jangan terlalu dipikirkan soal makanan.

S : Itu tidaklah penting, bahwa saya masih hidup itu sudah cukup bagus.

Komentar

Kami telah mendokumentasikan kasus yang serupa tentang Devi. Dia segera mengalami kekambuhan setelah kemoterapinya selesai dijalani. Dia mengkonsumsi obat herbal dan mendapatkan kesehatannya kembali. Telah berjalan 12 tahun dan Devi masih baik-baik saja, menjalani hidup yang normal. Jadi kesembuhan Siew bukanlah tembakan keberuntungan semata! Itu merupakan keulangan dari kasus Devi. Perulangan dan inilah semuanya tentang ilmu alam!

Devi: Seorang Nyonya Yang Menderita Limfoma Non-Hodgkin (NHL)

Devi terdiagnosis limfoma pada tahun 1997. Setelah menyelesaikan perawatan medis dia datang ke CA Care pada Agustus 1998 dan memulai Terapi CA Care. Pada 18 Maret 1999 kami bertemu dengan Devi dan mendokumentasikan kondisi kondisinya lewat videotape. Yang berikut merupakan kutipan-kutipan percakapan kami.

Apa yang terjadi pada anda?

Devi: Saya terdiagnosis limfoma dua tahun lalu. Ada satu konflik terhadap perawatan yang akan saya terima. Seorang onkolog mengatakan bahwa saya dapat disembuhkan lewat radiasi. Beberapa orang lainnya mengatakan bahwa kemoterapi merupakan solusi terbaik. Saya memilih kemoterapi. Setelah dosis kemoterapi pertama, sistem pencernaan keseluruhan badan  saya terserang berat. Saya menghabiskan dua minggu dirumah sakit, dengan dosis morfin. Mereka tidak dapat menemukan mengapa saya bereaksi seperti itu.

Mengapa anda menggunakan morfin?

Devi: Karena saya merasa nyeri. Ketika saya mengkonsumsi makanan, saya menderita nyeri sangat berat. Saya terbaring dirumah sakit selama dua minggu sampai suatu hari saya mengamuk karena saya overdosis morfin….Saya tidak semakin membaik. Saya mengenal seorang dokter bedah yang baik yang melakukan operasi dan ketika dia mengunjungi saya, Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak membaik. Dia setuju. Itu nampaknya tidak seperti anda. Inginkah anda dikeluarkan? Tanyanya. Jadi, saya keluar sendiri.

Saya pergi kesebuah klinik yang mempraktekkan terapi selasi dan dokter menanyakan kepada saya diet apa yang saya terapkan? Saya diminta untuk berhenti mengkonsumsi makanan padat dan melanjutkan buah buahan, sayur-sayuran, makanan semi padat dan cairan. Dalam dua hari setelah diet yang dianjurkan, nyeri lenyap.

Anda menghentikan kemoterapi sepenuhnya?

Devi: Ya. Saya tidak menginginkan kemoterapi apapun. Radioterapi dilakukan lima hari seminggu, terus menerus.

Setelah radiasi, apa yang terjadi pada anda?

Devi: Agaknya, saya menjalani radiasi cukup baik. Setelah radiasi, saya dikirim untuk menjalani scan dan dokter mengatakan tidak ada bukti kanker. Saya menganggap itu merupakan akhir . Saya bahkan tidak pernah membayangkan bahwa kanker muncul kembali. Saya berpikiran bahwa saya sembuh. Pastinya setahun berikutnya, limfoma saya kambuh kembali.

Setelah radiasi, anda beranggapan bahwa anda sembuh? Apakah anda kembali kepada diet lama anda?

Devi: Ya. Saya kembali ke gaya hidup lama saya. Saya melupakan tentang jus buah. Kanker saya kambuh; kali ini didaerah perut. Tidak ada nyeri tetapi perasaan ketidaknyamanan didaerah perut. Saya dikirim untuk menjalani CT scan. Mereka mendeteksi tumor didaerah perut.Dokter mengatakan radiasi tidak bisa . Saya menjalani 6 kali chemoterapi. Masalah yang saya hadapi selama kemoterapi ialah bahwa setelah setiap sesi kemoterapi, bahkan untuk dosis pertamanya, jumlah darah putih saya biasanya turun hingga 0,7—sungguh-sungguh batas dasar.

Setiap kali jumlah darah saya turun, saya berada dirumah sakit setidaknya lima hari. Saya diberikan sejumlah injeksi untuk menaikkan jumlah darah. Kemoterapi yang saya jalani merupakan sesi setiap tiga minggu.

Setelah enam sesi kemoterapi, sayamenjalani scan. Tidak ada tanda kanker. Saya sangat baik.

Tetapi, saya merasakan kalah lagi setelah kemoterapi. Ada satu ketakutan pada diri saya, seperti apa yang akan terjadi bila kanker muncul kembali. Kanker itu muncul kembali sebelumnya. Akankah ada obat apapun atau sesuatu apapun yang dapat saya makan yang dapat menjaga kanker itu tetap jauh dari saya? Dokter mengatakan bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang dapat saya perbuat. Upayakan chek-up, cari tanda-tanda dan bila ada suatu apapun, lakukan scan.

Mengapa selanjutnya anda mencoba ramuan?

Devi: Seperti yang saya katakan sebelumnya, setelah kemoterapi ini merupakan akhir jalannya.Secara medis, mereka tidak mempunyai sesuatu apapun yang bisa diberikan kepada anda. Ketika saya ada dirumah sakit, saya mendengar pasien membicarakan tentang rodent tuber. Tetapi tidak ada seorangpun yang benar-benar mencobanya. Sehingga, saya mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa bila ilmu pengetahuan medis tidak mempunyai sesuatu apapun yang bisa diberikan kepada saya setelah ini, satu-satunya opsi lain yang tersedia bagi saya adalah kembali ke alam. Saya mempunyai perasaan ini dalam diri saya—kita terlalu sibuk mencoba mengembangkan hal-hal untuk menyembuhkan diri kita sendiri sehingga seringkali kita mengabaikan bahwa jawaban atas semua penyembuhan ini pada dasarnya ada dialam.

Saya merasakan bahwa saya tidak mempunyai beban dengan mencoba rodent tuber. Dan itulah ketika saya datang mengunjungi anda.

Ketika anda mengunjungi saya, apakah anda merasa baik?

Devi: Tidak, ketika saya mengunjungi anda, saya baru saya menyelesaikan enam putaran kemoterapi dan saya merasa sangat lemah.

Ketika anda pertama kali mulai meminum ramuan itu, apa reaksi awal anda? Apakah anda ragu-ragu terhadapnya?

Devi: Cukup jujur, saya sedikit ragu-ragu. Tetapi pada saat bersamaan, saya menganggapnya sebagai satu-satunya harapan. Ketika anda mempunyai penyakit seperti kanker, anda harus mencoba apapun yang diberikan kepada anda.

Setelah meminum ramuan itu, apakah anda benar benar menemukan kepercayaan diri atau memperoleh bantuan?

Devi: Sejalan waktu berlalu, saya sesungguhnya dapat merasakan tubuh saya pulih jauh lebih cepat.Saya merasa jauh lebih baik. Saya lebih sehat dan jauh lebih hidup. Saya biasanya separuh mati.

Apakah anda benar-benar merasa lebih baik atau apakah ini hanya merupakan sebuah efek placebo?

Dewi: Tidak, tidak, tidak. Saya benar-benar dapat merasakan tubuh saya merespon. Untuk satu hal, saya benar-benar dapat merasa bahwa saya mempunyai lebih banyak energi. Ketika saya menjalani kemoterapi, dan ketika saya menyelesaikan kemoterapi, ada waktu-waktu ketika saya merasa seperti saya tidak ingin bangkit dari tempat tidur. Saya hanya bangkit untuk makan dan selanjutnya kembali pergi ke tempat tidur. Tetapi setelah meminum ramuan, saya dapat merasakan diri saya sendiri membangun energi dan saya lebih aktif. dan sekarang ini, saya cukup sehat dan saya bahkan kembali bekerja.

Sebelum anda meminum ramuan dan sementara anda menggunakan perawatan medis, apakah anda kembali bekerja?

Dewi: Tidak…selama 7 bulan.

Ketika anda meminum ramuan anda mulai bangkit lagi sendiri?

Dewi: Ya, saya mempunyai lebih banyak energi. Saya lebih hidup dan berharap mulai membaik. Ini juga mempengaruhi saya secara psikologis. Saya mulai merasa bahwa saya semakin baik. Saya kembali menuju kehidupan sebagaimana seharusnya bukannya sekedar berbaring ditempat tidur. Sehingga, saya mulai bekerja dan saya kembali secara penuh waktu.

Bagaimana tentang diet anda?

Dewi: Saya menjadi lebih vegetarian saat ini, saya menghindari daging merah dan makanan laut kecuali ikan. Saya makan buah-buahan dan sayur-sayuran.

Sejumlah orang mengatakan bahwa bila tidak dapat mengkonsumsi makanan kegemaran saya, kehidupan tidak bernilai. Apa komentar anda tentang hal itu?

Dewi: Apa yang perlu saya katakan kepada orang-orang itu adalah, Kehidupan adalah bernilai lebih dari sekedar makanan kegemaran anda. Ini merupakan pengorbanan sangat kecil yang perlu dilakukan. Kehidupan jauh lebih bernilai dari sekedar makanan.

Anda merupakan seorang pemakan daging sebelumnya dan kini anda menjadi seorang vegetarian. Banyak orang mengatakan bahwa bila anda tidak memakan daging, anda tidak mempunyai kekuatan. Apa yang perlu anda katakan tentang hal itu?

Dewi: Tidak, tidak benar. Pastinya, saya merasa jauh lebih sehat saat ini sehingga saya menyingkirkan daging dari diet saya. Saya sama sekali tidak kehilangan energi.

Sejauh ini baik-baik saja?

Devi: Ya. Saya mengatakan kepada dokter saya bahwa saya memakai perawatan ramuan, meditasi dan doa. Dan selama chek-up terakhir, dia menanyakan saya apakah saya masih menggunakan ramuan, doa dan meditasi….Saya katakan, ya, dengan keimanan tinggi, dan dia hanya tertawa!

Bahagian 1: Devi minum herbal

 

Bahagian 2: Pengalaman kemoterapi


 

Ia Menolak Operasi dan Kemoembolisasi yang Gagal

Goh adalah seorang pria berusia 75 tahun dari Indonesia. Ia menjalani pemeriksaan medis pada tahun 2008 dan dokter menemukan SGOT (AST) meninggi, mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres di livernya. Goh melakukan ultrasonografi dan hasilnya adalah terdapat tumor pada lobus kiri liver nya sebesar 6,3 x 8,9 cm.

Goh kemudian ke singapura dan melakukan CT-Scan, dan dipastikan terdapat tumor pada liver nya. Dokter menyarankan Goh melakukan operasi reseksi tumor. Prosedur ini menghabiskan biaya S$20.000. Goh menolak operasi.

Setelah kembali ke Indonesia, Goh diberitahu tentang sebuah rumah sakit di China. Goh pergi ke China. Sekali lagi dokter menyarankan untuk operasi. Dan sekali lagi dokter menyarankan untuk dioperasi. Goh menolak kembali. Bagaimanapun juga, ia setuju untuk melakukan kemoembolisasi. Ini menghabiskan biaya sekitar 10.000 RM. Setelah terapi kemo, Goh kembali ke indonesia. Sekitar satu bulan kemudian, ia kembali ke China untuk terapi kedua. Tetapi, pada saat pemeriksaan, dokter memberitahu Goh kalau kemoembolisasi yang dilakukan sebelumnya tidak efektif. Terapi lebih lanjut dibatalkan. Goh kembali ke Indonesia dan mulai mengkonsumsi suplemen. Ia juga memonitor AST nya secara reguler selain melakukan USG. Nilai AST dan ukuran tumor terus meningkat. USG yang dilakukan pada 12 Maret 2009 (dibawah) mengindikasikan tumor berukuran 9,7 cm x 8,0 cm.

Pada 22 Maret 2009, Goh dan putranya mencari kami untuk bantuan. Kami mengirimkan Goh Full Blood Test dan meresepkan Capsule A, dan herbal liver milik kami: Liver-P, Liver 2, dan LL Tea.

  5 Dec. 08 13 Jan. 09 23 March 09
ESR n/a n/a 4
Haemoglobin n/a n/a 14.2
Platelet n/a n/a 223
Total biliburin n/a n/a 42
Alkaline phosphatase n/a 68 68
SGOT /AST 262  H 699  H 451  H
SGPT / ALT 11 23 21
GGT n/a n/a 103  H
Alpha-fetoprotein n/a 2.9 4.1
CA 125 n/a n/a 6.6

Komentar:

Jika dilihat biasa saja, Goh tidak menunjukan gejala apapun. Ia terlihat sehat. Tentu, tapi ia memiliki tumor pada livernya. Dokter berkata itu berbahaya dan harus disingkirkan. Tetapi, coba dipikirkan. Ada pilihan pada kasus ini. Goh dapat belajar bagaimana untuk hidup dengan tumor, dapat makan, tidur, dan bergerak bebas tanpa masalah. Atau ia melakukan operasi. Tetapi apa efek dari operasi yang dilakukan padanya setelah itu adalah yang menjadi pertanyaan. Kita perlu untuk melihat dan mempelajari kasus di bawah ini:

1.   Doris, berusia 46 tahun dan melakukan operasi untuk memindahkan tumor di livernya di singapura. Ia melakukan kemoembolisasi. Dalam waktu 8 bulan ia meninggal.

2.   Sam, berusia 51 tahun, terdapat tumor berukuran 3,5 x 3,5 cm di livernya dan dioperasi di Penang. Ia melakukan kemoembolisasi dua kali. Terapi ini tidak berhasil. Hampir 5 bulan kemudian, nilai alpha-fetoprotein –nya mencapai 239.595,00. Dokter bedah tidak mau menemuinya lagi.

3.   Suria, berusia 37 tahun dan melakukan operasi di Singapura untuk mengeluarkan tumor pada livernya. Dokternya di Indonesia memberitahu ia untuk melakukan operasi dan ia mungkin dapat hidup 10 tahun lebih lama. Dokter bedah di Singapura berkata ia memiliki 98% kemungkinan. Tiga bulan kemudian, Suria mengalami kekambuhan dan meninggal ketika akan melakukan kemoterapi ke onkologis.

4.   Pang, berusia 61 tahun. Ia memiliki tumor berukuran 5,2 x 5,3 x 6,5 cm pada lobus kanan livernya dan kanker juga bermetastase ke paru-paru nya.

Berdasarkan kisah di atas, Goh adalah yang tertua diantara mereka semua. Ia berusia 75 tahun dan tumor di livernya berukuran 9,7 cm x 8,0 cm, yang terbesar diantara yang lain. Apa yang anda pikirkan, apa yang akan terjadi pada Goh jika ia melakukan saran dari dokter bedah di Singapura danChina untuk melakukan operasi?

Dalam kata pembukaan buku: Cared cured naturally yang ditulis Betty Khoo, Chris menulis ini:Setelah satu dekade menolong pasien kanker, saya sampai pada kesimpulan kecil ini: Semakin terpelajar anda atau semakin banyak uang yang anda miliki, semakin tinggi kemungkinan anda akan mati karena kanker! Kematian ini mungkin akibat dari terapi daripada penyakit itu sendiri. Saya sering melihat bahwa dengan tidak melakukan apapun mungkin akan lebih baik daripada melakukan sesuatu!

Ada juga yang berkata: Seorang manusia yang terpelajar tidak harus bijaksana, seorang bijaksana tidak harus terpelajar.

 

 

Operasi dan PEI Gagal, Pang Diminta untuk Mengkonsumsi Obat Oral yang Mahal

Pang (H5) adalah seorang pria berusia 61 tahun. Beberapa waktu pada bulan Februari 2008, ia mengalami rasa nyeri pada abdomen. Hasil ultrasonography menunjukan ada massa bulat berbatas tegal berukuran 5.2 x 5.3 x 6.5 cm pada lobus kanan heparnya (Segmen 6).

Pang dirujuk ke spesialis bedah di rumah sakit swasta. Hasil CT-scan menunjukan hepatoma lobus kanan dengan ukuran 8 x 7 x 8 cm pada segmen 6 dan 7. Pang menjalani operasi reseksi tumor pada 25 Maret 2008. Operasi ini menghabiskan biaya 20.000 RM.

Laporan Histologi

Berat liver 305 gm, dengan ukuran 135 x 90 x 75 mm. Permukaan luar ireguler dan nodular. Nodul pada liver: hepatocellular carcinoma (karsinoma hepatoseluler) yang berdifernsiasi baik, tipe trabekuler, menginfiltrasi kapsula hepar, stadium III (T3NxMx).

Pang diberitahu bahwa operasi ini akan mengangkat tumornya tetapi tidak akan menyembuhkannya. Ia memerlukan kemoterapi. Sayangnya, dokternya tidak dapat memberinya kemoterapi karena ia tidak dapat menemukan “pembuluh darah”.

Setelah 5 bulan kemudian, pada September 2008, Pang mengalami kekambuhan. Timbul dua nodul baru pada liver yang masih ada. Tidak ada banyak lagi yang dapat dokter bedah lakukan. Ia diminta untuk melakukan percobaan klinis yang dilakukan di luar rumah sakit. Terapi ini dikenal dengan PEI (percutaneous ethanol injection) dan diberikan bebas dari biaya.

Pang menjalani terapi ini dari September 2008 sampai Februari 2009 dan melakukan total 5 sesi. Tapi hasilnya mengecewakan. Hasil CT-Scan menunjukkan metastasis ke paru-paru. Jumlahnya ada 5 nodul pada paru-paru kiri dan kanan. Ukurannya berdiameter sekitar 6 sampai 12 mm masing-masing. Hasil CT-Scan juga menunjukkan 2 partially nekrotik tumor pada Segmen 7/8 dari livernya. Ukurannya berdiameter kira-kira 4,5 x 6 cm dan 3,5 x 3,5 cm masing-masing.

Tidak ada banyak lagi yang dokter bedah dapat lakukan. Pang kemudian pindah mencari onkologis. Onkologi tersebut menawarkan pada Pang obat kemo oral yang akan menghabiskan dananya sebesar 20.000 RM per bulan (pada cerita lain Sam mendapat Nexavar yang juga menghabiskan 20.000 RM per bulan). Dibalik biaya yang tinggi itu, Pang diberitahu oleh onkologisnya bahwa obat ini hanya 20 sampai 30 % efektif (apapn itu maksudnya!). Pang menolak. Inilah yang dikatakannya kepada kami:

Pang: Dokter itu berkata ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk paru-paru saya. Saya pergi ke  GH untuk menanyakan pendapat kedua. Satu dokter muda di bagian paru-paru mempelajari kasus saya dan berkata: Maaf sekali paman, anda hanya mempunyai enam bulan sampai satu tahun dari sekarang. Setelah itu ia mengirim saya ke bagian onkologi. Dokter onkologi berkata, Lakukan Kemo.

Chris: tentu saja anda dapat melakukan kemo. Tetapi apakah anda akan hidup atau mati, itu adalah persoalan lain.

P: Ada dua jalan. Satu dengan kemo. Jalan lain dengan obat-obatan. Jika dengan obat-obatan, itu sangat mahal.

C: Berapakah biayanya?

P: Di Lam Wah Ee menghabiskan biaya 20.000 RM bukan dua ribu, itu adalah dua puluh ribu.

C: RM 20.000 per bulan?

P: Ya, dan keefektifannya hanya 20 sampai 30 % dan itu menghabiskan biaya dua puluh ribu. Jika saya menjual rumah saya, paling tidak saya dapat mengkonsumsi obat itu selama satu tahun – tanpa harapan dan tanpa garansi.