Kanker Rahim-Paru, Bagian 1: Hampir Kehilangan Nyawa Setelah Menghabiskan Dua Miliar Rupiah untuk Kemoterapi di Singapura

Sesaat setelah menjalani kemoterapi di Singapura bulan Desember 2011, perjalanannya berakhir di rumah sakit di Medan. Inikah tujuan terakhir setelah petualangan panjang – satu setengah tahun kemo dan dua miliar rupiah dana yang dikucurkan? Pada tanggal 17 Desember 2011, semua anggota keluarga dari berbagai kota di Indonesia datang mengunjunginya. Nafasnya megap-megap dan dia tidak bisa mengenali orang di sekitarnya – matanya menggulung ke atas dan tidak merespons. Dokter hanya meminta keluarga untuk berdoa.

Pada tanggal 18 Desember 2011, sebuah mukjizat terjadi – tiga hari setelah minum ramuan herbal Lung 1 dan Lung 2 ditambah Lung Phlegm. Dia dapat bernafas normal dan tidak memerlukan bantuan oksigen lagi. Tanggal 20 Desember 2011 dia beserta keluarganya terbang ke CA Care Penang. Informasi lebih jelas, baca Bagian 2 & 3 cerita ini.

Kutipan: Menurut Perusahaan Besar Obat-Obatan Yang Mengendalikan Industri Obat Kanker, kematian akibat kemoterapi dapat diterima asalkan protokol kemoterapi standar telah dipenuhi.

 ~ Dr James Forsythe, The Compassionate Oncologisthal.  91.

——————————————————————————————————————–

RJ adalah seorang wanita berusia 55 tahun. Dia mantan juara tenis. Suatu waktu di bulan April 2010 dia menemani puterinya ke Penang. Puterinya datang untuk memeriksakan kandungannya. RJ ahirnya ikut menjalani pemeriksaan juga untuk dirinya.  Dari hasil pemeriksaan tersebut, ahli ginekologi menyarankan kepada RJ untuk mengangkat tumor sebesar 8 cm yang berada di dalam rahimnya. Jadi, RJ menjalani prosedur THBSO (total abdominal hysterectomy-bilateral salpingo-oophorectomy). Yang dilakukan saat itu adalah upaya untuk membuang tumor tersebut tanpa memperhatikan apakah itu kanker atau bukan  Kemudian hasilnya diperiksakan di Lab untuk ditetliti lebih lanjut.

Setelah operasi disarankan untuk CT Scan dan hasilnya dinyatakan bersih, tetapi untuk memastikan kemudian RJ disarankan lagi untuk PET Scan.

Sekitar 3 bulan kemudian, RJ melakukan pemeriksaan lagi dan pada saat ini hasil Patologi yang telah dilakukan sebelumnya dicocokkan dengan hasil PET Scan, ternyata tumor tersebut kanker dan RJ disarankan untuk menjalani kemoterapi tetapi dia menolaknya.

Untuk mendapatkan hasil opini yang lebih jelas, RJ membawa hasil pemeriksaan ini ke Singapura. Disini RJ menjalani PET Scan ulang, dan hasilnya ternyata diketemukan lagi kanker di paru-paru nya. Kemudian RJ menjalani kemoterapi infus sebanyak 16 kali selama satu setengah tahun. Obat-obatan yang digunakan adalah:  Gemzar & Docetaxel dan Doxorubicin & Avastin.

Dan setelah itu paru-paru nya dinyatakan bersih, kemudian dilanjutkan dengan pengobatan kemo oral dengan obat Iressa selama 3 bulan.

Setelah minum Iressa selama 3 bulan mulai muncul efek samping sebagai berikut : muncul bintik-bintik merah pada bagian muka , gatal-gatal pada seluruh tubuh dan batuk. Pada dahaknya ada noda darah. Menurut dokter onkologi prognosanya hanya 40 % dan kepada keluarganya diminta untuk berdoa kemudian diminta untuk mengikuti saja apa yang diamanahkan oleh RJ dan agar menuruti semua pesan-pesan yang disampaikannya.

Hasil PET scan tanggal 16 Februari 2011 menunjukkan:

1. Multiple Bilateral Nodule yang berada di dalam paru  dengan variasi ukuran (3,2, 2,1 cm) sementara itu nodul yang lebih kecil berada di bawah jangkauan resolusi FDG PET.

2.Tidak terdapat  cairan di paru  ataupun cairan diselaput  jantung.

3. Sebaran FDG di pinggiran sebuah nodul di sisi kanan pelvis, telah membatasi kolon sigmoid dan bagian atas kandung kemih.

4. Adanya nodul yang letaknya disekeliling pembuluh darah besar dan disekitar pembuluh darah mesenterik.

Dia kembali lagi ke Singapura – dan kali ini ke rumah sakit yang berbeda. Dia diberitahu bahwa masalah itu timbul akibat Iressa dan karena itu harus menghentikan cara pengobatan tersebut.

Hasil CT Scan tanggal 29 September 2011 menunjukkan:

1.Nodul yang berukuran antara 0,5 cm hingga 2,9 di kedua paru-paru. Masa kanker yang terbesar di dalam lobus lingualis berukuran kira-kira 7,2 x 5,8 cm. Masa kanker ini berdekatan dengan selaput jantung .  Terdapat  juga sedikit cairan diselaput jantung.

2.Juga adanya sedikit cairan pada paru sebelah  kiri. 

CT Scan tanggal 29 September 2011

Catatan medis yang tertulis pada tanggal 5 Oktober 2011: “Konseling Depresi:  Tak bisa menerima akan kematian mendatang. Tak bisa tidur. Mengharapkan kesembuhan.”

RJ diminta menjalani lebih banyak kemoterapi. Dia melakukannya. Dia menjalani kemo terakhirnya di awal bulan Desember 2011. Dua hari sepulang dari Singapura dia mulai batuk dan demam. Dia dirawat di Medan tanggal 8 Desember 2011. Ketika di rumah sakit kondisinya memburuk dan nafas sesak. Meski dengan bantuan oksigen, nafasnya tetap sulit dan dia bernafas megap-megap seperti ikan yang perlu udara.  Matanya menggulung dan dia tidak mengenali orang sekitarnya.

Saat itu, seorang pengunjung memberitahu keluarganya: ” Kenapa tidak pergi dan menemui Dr. Teo ? ” Hari berikutnya, 14 Desember 2011, dua puterinya terbang ke CA Care Penang untuk meminta bantuan kami. Berikut percakapan kami saat itu.

Catatan: Pihak keluarga telah mengizinkan penggunaan video dan gambar tanpa harus menutupi wajah pasien.

Biaya Pengobatan Medis

Kedua anak pasien bercerita bahwa seluruh biaya pengobatan menghabiskan nyaris 2 miliar rupiah. Di bawah ini adalah biaya untuk menjalani kemoterapi di Singapura (dalam dolar Singapura. 1,00 SGD$= 2,43 RM, 1,00 SGD$ = 7.240 IDR).

Tabel 1: Perkiraan biaya kemoterapi dengan Docetaxel + Gemcitabine.

Tabel 2. Biaya satu siklus Gemcitabine (Gemzar) + Docetaxel)

Dari satu siklus kemoterapi di atas menghabiskan biaya sekitar S$ 5.000. Untuk suatu perencanaan yang sistimatis 6 siklus kemo akan menghabiskan total biaya sekitar S$ 45.000. Ditambah pengeluaran untuk scanning dll. perlu tambahan S$ 3.000. Jadi secara keseluruhan, seorang pasien harus menyediakan total biaya sekitar S$ 50.000 atau RM 120.000 atau IDR 350 juta untuk tahap pertama kemoterapi.  Akan tetapi tahap pertama belum tentu cukup baik. Pasien bisa saja memerlukan lebih banyak tahapan lagi.

Biayanya akan semakin melonjak ketika Avastin digunakan seperti dalam kasus ini. Namun apa manfaat Avastin yang sebenarnya ? Tahukah Anda ? Klik link berikut ini untuk mengetahuinya: https://cancercareindonesia.com/2012/01/01/membedah-kemoterapi-bagian-6-avastin-tidak-menyembuhkan-kanker/

Tabel 3.  Biaya satu siklus dengan Avastin sekitar S$ 12.000 (RM 29.000 atau IDR 84 juta).

Beberapa pertanyaan untuk direnungkan

  1. Selain telah menghabiskan waktu sekitar satu setengah tahun pengobatan medis dan sejumlah besar tumpukan rupiah – apa yang anda pikirkan tentang kasus ini?  Mereka bilang pengobatannya terbukti secara ilmiah – tetapi bagaimana kenyataannya? Apa yang dibuktikan ?
  2. Bertahan selama satu setengah tahun tapi menghabiskan banyak waktu keluar dan masuk rumah sakit – apakah itu layak?  Sudahkah anda membaca tulisan ini – Berapa harga hidup anda? https://cancercareindonesia.com/2011/12/15/membedah-kemoterapi-bagian-4-berapa-harga-hidup-anda-erbitux-untuk-kanker-paru/

Percayakah anda  bahwa kemoterapi memiliki 40 persen kesempatan kesembuhan seperti yang ditegaskan dokter ? Menurut perkiraan anda berapa persentase keberhasilannya dalam kasus ini ? Apa yang dikatakan literatur medis tentang penyembuhan kanker paru ?

  1. Saat ini adalah era teknologi informasi. Periksa melalui internet dan tanyakan apakah obat-obatan kemo seperti Gemzar, Docetaxel, Doxorubicin dan Avastin pernah menyembuhkan jenis kanker ini ? Pesan untuk para pasien – kalian harus memberdayakan diri kalian !
  2. Sering kali, para praktisi obat-obatan alternatif dituduh sebagai tukang obat, penjaja barang yang tak teruji dan yang paling buruk pemberi harapan palsu ! Dalam situasi seperti ini, ada pepatah mengatakan : diri sendiri yang bersalah tetapi menyalahkan orang lain. Siapa yang sesungguhnya yang memberi harapan palsu kepada pasien?
  3. Pernahkah terpikir oleh anda untuk bertanya – Bagaimana jika saya TIDAK MELAKUKAN APA-APA ? Apa anda berpikir akan berahir dengan kondisi hampir mati setelah satu setengah tahun ? Bacalah cerita tentang Ella http://cancercaremalaysia.com/2010/12/11/an-evening-with-ella-our-patient-our-friend/

Ketika puteri RJ datang kepada kami pada tanggal 14 Desember 2011, inilah yang saya katakan kepada mereka: Dalam keadaan demikian ( seorang ibu yang sudah menjelang kematian) saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan atau lakukan. Saya bisa memberi beberapa obat herbal dan anda bisa pulang dan mencobanya. Jika dia bertahan, datanglah kembali dengan membawa semua catatan medis. Saat ini, yang bisa saya katakan adalah – coba saja. Jika beruntung dan disertai berkat Tuhan dia bisa saja keluar rumah sakit dengan selamat, selain dari itu saya tidak tahu apa-apa.”

Ini bukanlah kasus “menjelang kematian” yang pertama yang menimpa kami. Kami sangat sering menemui kasus semacam ini. Ketika tidak ada lagi yang bisa dilakukan, anggota keluarga datang dan meminta bantuan kepada kami. Apa yang bisa saya lakukan? Berpura-pura saya seorang superman? Atau, Tuhan?  Karena misi dari CA Care adalah untuk membantu orang-orang tak berdaya dan tersesat, kami biasanya tidak akan membiarkan mereka. Jangan salah – kami tidak menjanjikan kesembuhan. Kami juga tidak menjanjikan bisa menyelesaikan masalah anda. Apa yang bisa kami lakukan adalah mencoba yang terbaik untuk membantu dengan cara yang kami ketahui.  Kami mengerti jika anda cukup menderita dan juga sudah menghabiskan banyak uang untuk pengobatan medis. Keberadaan CA Care bukan untuk “memeras” kekayaan terakhir sebelum anda meninggal. Kami tidak memiliki maksud untuk menyesatkan atau menipu anda.  Jika anda percaya kepada kami akan sebuah harapan “terahir”, kami di sini siap membantu – meski sering menghadapi “risiko” dinamai sebagai penjual obat atau dukun.  Namun demikian, risiko yang kami ambil terkadang berubah menjadi keberhasilan yang memuaskan – sebuah berkat yang menakjubkan seperti yang akan anda lihat dalam kasus ini.

Diterjemahkan oleh Andreas Kriswanto, diedit oleh Teddy Setiawan


Membedah Kemoterapi Bagian 6: Avastin TIDAK Menyembuhkan Kanker

Cerita tentang Avastin Yang Perlu Anda Ketahui

Pada tanggal 26 Februari 2004, PMO AS (Pengawas Makanan dan Obat-obatan Amerika Serikat) menyetujui Avastin (atau bevacizumab) sebagai pengobatan awal bagi pasien-pasien penderita kanker kolorektal metastatik, yaitu kanker yang sudah menyebar ke bagian tubuh lain.

Avastin terbukti memperpanjang masa hidup pasien sekitar lima bulan ketika diberikan sebagai pengobatan kombinasi bersama dengan obat-obatan kemoterapi standar untuk kanker kolon seperti IFL (ironotecan, 5-fluorouracil (5FU) dan leucovorin).

Catat fakta ini dengan cermat dan serius – tidak ada literatur medis mana pun juga yang mengatakan bahwa Avastin menyembuhkan kanker. Tidak ada. Ketika diberikan bersama obat-obatan kemo lainnya, Avastin memperpanjang kelangsungan hidup pasien sekitar lima bulan. Itu saja. Dan rata-rata waktu yang diperlukan sebelum tumor mulai tumbuh kembali atau adanya penyebaran tumor baru adalah 4 bulan lebih lama dari pasien yang menerima pengobatan dengan IFL saja.

Avastin Disetujui Sebagai Pengobatan Tahap Kedua Kanker Kolorektal Metatastik

Pada tanggal 20 Juni 2006, PMO memberikan persetujuannya untuk Avastin digunakan sebagai pengobatan tahap kedua pada kanker kolon yang telah menyebar ke organ yang lainnya. Anjuran ini dilandaskan pada adanya peningkatan kelangsungan hidup secara keseluruhan (KHK) pada pasien-pasien yang menerima Avastin + FOLFOX4 (5-flourouracil, leucovorin, dan oxaliplatin) ketika dibandingkan dengan mereka yang hanya menerima FOLFOX4 saja.

Rata-rata keseluruhan kelangsungan hidup pasien yang menerima Avastin + FOLFOX4 adalah 13,0 bulan sementara mereka yang menerima FOLFOX4 saja 10,8 bulan.

Artinya penambahan Avastin dalam meningkatkan kelangsungan hidup hanya 2,2 bulan. Lagi-lagi Avastin tidak menyembuhkan kanker kolon. Avastin hanya memberi 2,2 bulan masa hidup. Itukah yang pasien inginkan? Apakah onkologis benar-benar memberitahu pasien fakta ini sebelum memberikan Avastin?

Setiap suntikan Avastin menghabiskan biaya yang sangat besar. Avastin TIDAKLAH murah. Disamping melibatkan nilai Uang yang sangat besar , namun Avastin datang beserta segudang efek samping yang menghancurkan. Efek samping Avastin paling serius, dan terkadang fatal adalah:

  • perforasi gastrointestinal,
  • komplikasi penyembuhan luka,
  • pendarahan,
  • terjadinya thromboembolic,
  • krisis hipertensi,
  • sindrom nefrotik dan
  • gagal hati kongestif.

Hasil buruk yang paling umum pada pasien penerima Avastin adalah: lelah atau letih, rasa sakit, sakit perut, sakit kepala, hipertensi, diare, mual, muntah, hilangnya nafsu makan, stomatitis, sembelit, infeksi saluran pernafasan atas, hidung berdarah, sesak nafas, infeksi kulit dan protein berlebih dalam urin.   

Avastin untuk Kanker Kolon – Bergunakah?

Sebuah berita tanggal 19 September 2010 berjudul: Percobaan Avastin yang Kedua Tidak Menunjukkan Manfaat pada Kanker Kolon Stadium Awal. Menambahkan Avastin pada kemoterapi untuk kanker kolon stadium awal tidak mengurangi risiko kambuhnya kanker.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh perusahaan obat, Roche of Switzerland mengatakan bahwa:

  • Sebuah penelitian yang diketahui sebagai AVANT yang menguji penggunaan Avastin ditambah kemoterapi pada adjuvant terapi ( terapi segera setelah operasi ) pada kolon kanker stadium awal. Menunjukkan bahwa Avastin tidak meningkatkan kelangsungan hidup dari bebas penyakit pada kanker kolon stadium 3.
  • Evaluasi Avastin pada keadaan stadium awal , penelitian AVANT memperlihatkan bahwa kemoterapi standar ditambah satu tahun penggunaan  Avastin , TIDAK efektif  dalam mengurangi resiko kambuhnya kembali  kanker kolon stadium awal.

Berita lain tanggal 25 Januari 2011, dilaporkan bahwa penambahan Avastin pada kemoterapi standar tidak mengurangi kambuhnya kanker setelah operasi terhadap kanker kolon stadium 3. 

Apa Kata Media Masa 

Avastin Mengecewakan dalam Uji Coba Sebagai Pengobatan untuk Kanker Kolon .

 Sumber : http://www.nytimes.com/2009/04/23/health/23avastin.html

Andrew Pollack dari New York Times menulis pada tanggal 22 April 2009, ” Obat Avastin gagal menunjukkan efek signifikan dalam mencegah kambuhnya kanker kolon.  Avastin membukukan penjualan US$2,7 miliar di Amerikat Serikat saja pada tahun lalu.”

Melly Alazrakip dari Daily Finance menulis: Avastin yang diproduksi Perusahaan Obat  Roche Telah Gagal dalam Uji Coba pada Kanker Kolon Stadium Awal.

Sumber:  http://www.dailyfinance.com/2010/09/20/avastin-cancer-drug-roche-fails-colon-study/

“Avastin sebagai obat untuk melawan kanker yang laku keras,  pernah diyakini berpotensi membantu pengobatan banyak penderita kanker, dan dikatakan telah berhasil mengalahkan para pesaingnya dalam suatu tes. Pada penelitian uji coba tingkat 3 yang dilakukan baru-baru ini , Avastin telah gagal meningkatkan kelangsungan hidup bebas penyakit pada pasien kanker kolon stadium awal ketika digunakan segera setelah operasi dilakukan.”

Roche, pembuat obat-obatan kanker terbesar dunia, mengatakan data dari penelitian itu menunjukkan bahwa penambahan Avastin pada kemoterapi standar selama satu tahun setelah operasi, tidak efektif dalam mengurangis risiko kambuhnya penyakit kanker.Bottom of Form

Sebagai obat kanker paling laku di dunia , Avastin membukukan nilai penjualan hampir mendekati USD 6 miliar pada tahun lalu. Tetapi Britania Raya menolak izin penggunaan Avastin untuk kanker kolorektal karena alasan biayanya yang mahal., dan pada penelitian terahir yang lainnya memperlihatkan bahwa Avastin telah gagal untuk memperpanjang kelangsungan hidup pada pasien pria yang menderita kanker prostat stadium lanjut dibandingkan dengan pengobatan yang ada pada saat ini.

Catatan: Avastin tidak dizinkan di Britania Raya karena alasan biayanya yang mahal. Di negara-negara tertinggal, bisakah Avastin digunakan ?  Masuk akal ? 

Avastin untuk Kanker-kanker Lainnya

Meski hasilnya buruk, Avastin umumnya telah dan masih digunakan pada jenis kanker-kanker berikut:

1.  Metastatic Renal Cell Carcinoma ( MRCC). Avastin diberikan untuk  pengobatan kanker ginjal yang telah menyebar dikombinasikan dengan interferon alfa.

2.  Non Squamus Non-Small Cell Lung Cancer ( NSCLC ). Avastin diberikan untuk pengobatan tahap awal pada kanker yang tidak memungkinkan dioperasi, kanker stadium lanjut dan kambuhan atau kanker paru Non Small Cell Lung Cancer dengan dikombinasikan dengan carboplatin dan paclitaxel.

3. Kanker otak.

4. Beberapa waktu lalu, Avastin juga diberikan untuk pengobatan kanker payudara.

Istana yang Dibangun di atas Pasir – Avastin untuk Kanker Payudara

Andrew Pollack dari New York Times (23 Februari 2008,

melaporkan bahwa PMO menyetujui Avastin sebagai pengobatan kanker payudara – keputusan yang nampak sedikit mengherankan bagi pemikiran umum.  Namun seperti biasa, kita mengetahui bahwa perizinan PMO berarti penambahan ratusan juta dolar untuk penjualan tahunan Avastin.

Sebagai sebuah pengobatan untuk kanker payudara, Avastin menghabiskan biaya pengobatan sekitar US$7.700 sebulan, atau US$92.000 setahun.

Mari kita lihat hasil percobaan klinis kanker payudara di mana izin itu diberikan.

  • Wanita yang menerima Avastin dengan penambahan  obat kemo Taxol (atau paclitaxel) memiliki rata-rata kelangsungan hidup selama 11,3 bulan sebelum kanker mereka memburuk atau mereka meninggal. Wanita yang menerima Taxol saja memiliki rata-rata kelangsungan hidup selama 5,8 bulan. Artinya Avastin hanya menunda kanker yang memburuk selama 5,5 bulan.
  • Wanita yang menerima Avastin hidup rata-rata selama 26,5 bulan, dibandingkan 24,8 bulan bagi mereka yang menerima Taxol saja. Artinya Avastin memperpanjang masa hidup selama 1,7 bulan yang tidak berarti dan perbedaan ini mungkin hanya karena kebetulan dan bukan karena kenyataan.
  • Wanita yang menerima Avastin menderita lebih banyak efek samping. Lima atau enam dari dari 363 meninggal akibat obat itu sendiri.

Meski hasil yang buruk, Avastin tetap diberikan untuk pengobatan kanker payudara. Dan banyak pasien di dunia ini, termasuk Malaysia, diberikan Avastin oleh onkologis mereka.

Sebuah istana yang dibangun di atas pasir tidak akan bertahan! 

Matthew Perone dari Associated Press, pada 15 Desember 2010 menulis:

Otoritas kesehatan federal menganjurkan bahwa Avastin tidak lagi digunakan untuk mengobati kanker payudara, mengatakan penelitian terbaru gagal menunjukkan janji awal obat tersebut untuk membantu memperlambat pertumbuhan penyakit dan memperpanjang kelangsungan hidup pasien.

Keputusan tersebut merupakan pukulan telak bagi obat kanker terlaris di dunia ini dan mungkin kerugian ratusan juta dolar bagi Roche pembuat obat dari Swiss itu.

PMO mengizinkan penggunaan Avastin untuk kanker payudara pada tahun 2008 berdasarkan sebuah penelitian yang menyatakan Avastin dapat menghentikan penyebaran kanker payudara selama lebih dari lima bulan ketika dikombinasikan dengan kemoterapi. Namun penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa penundaan itu berlangsung tidak lebih dari tiga bulan, dan pasien menderita efek samping yang membahayakan.

Roche menjual Avastin dengan harga grosir US$7.700 sebulan. Semua biaya termasuk pengobatan satu tahun dengan Avastin dapat melebihi US$100.000.

Komentar 

Avastin – terkait dengan nilai uang yang besar tetapi dengan hasil yang sangat buruk. Avastin gagal mencapai harapan pasien. Pasien berharap obat kemo dapat menyembuhkan kanker mereka atau setidaknya memperpanjang kelangsungan hidup mereka selama bertahun-tahun! Kenyataannya adalah, Avastin tidak dan tidak bisa menyebuhkan kanker.

Diterjemahkan oleh Andreas Kriswanto, diedit oleh Teddy Setiawan.

 

Membedah Kemoterapi Bagian 4: Berapa Harga Hidup Anda? Erbitux untuk Kanker Paru

Hanya ikan-ikan mati saja yang mengikuti arus

Di dunia ini kita melihat banyak ikan. Kebanyakan dari apa yang kita lihat dan ketahui hanyalah ikan-ikan mati. Ikan-ikan mati tidak bergerak melawan arus. Mereka hanya mengapung turun mengikuti arus.  Drs. Graeme Morgan, Robyn Ward dan Michael Barton dari Australia (lihat Bagian 2 & 3 artikel ini) bukanlah ikan-ikan mati – mereka berenang melawan arus. Saya menghormati mereka atas kerja keras mereka untuk bicara.

Dr Tito Fojo dan Christine Grady di Amerika Serikat juga nampaknya berenang melawan arus. Mereka menulis makalah yang menarik: Berapa harga hidup Anda: Cetuximab, kanker paru bukan sel kecil dan pertanyaan senilai $440 juta. Penulis pertama berasal dari Medical Oncology Branch of the National Cancer Institute, Bethesda, Amerika Serikat, sementara Dr. Grady berasal dari Clinical Center, National Institutes of Health, Bethesda, Amerika Serika.

Klik di sini untuk versi lengkap makalah mereka. http://jnci.oxfordjournals.org/content/101/15/1044.full

 Latar belakang

Saat ini dunia tengah berperang melawan kanker. Dengan demikian kanker merupakan sebuah industri yang menghasilkan banyak uang.  Dan “membuat obat ampuh” bagi kanker adalah bisnis besar dengan keuntungan yang luar biasa. Dikatakan bahwa tahun 2008 adalah saat yang baik di mana “beberapa gebrakan besar” dalam kanker disiarkan.  Pada tahun itu juga Erbitux (atau cetuximab) ditambahkan ke dalam cisplatin dan vinoreline sebagai obat “ajaib” untuk mengobati kanker paru bukan sel kecil (KPBSK).

Ketika Erbitux pertama kali diluncurkan, para ilmuan menulis: Erbitux atau “cetuximab yang ditambahkan pada kemoterapi berbasis platinum memberikan suatu standar baru untuk pengobatan awal terhadap pasien penderita KPBSK.” Dokter-dokter diberitahu: “temuan-temuan ini mungkin memiliki dampak signifikan terhadap penanganan pasien penderita jenis kanker ini.” Mereka yang membaca (dengan buta) akan menelannya bulat-bulat! Memang kita sedang memasuki masa di mana kita akan mengalahkan kanker!

Mari kita soroti sejumlah contoh dari gebrakan-gebrakan yang disebut ilmiah tersebut

  • Erbituxmeningkatkan kelangsungan hidup penderita kanker paru lanjut selama 1,2 bulan ketika dikombinasikan dengan kemoterapi.  Penelitian ini melibatkan lebih dari seribu pasien di 30 negara-negara penderita kanker paru bukan sel kecil. Meski 1,2 bulan nampak singkat, penelitian ini memberikan harapan bagi sekelompok penderita kanker paru-paru yang kesempatan angka kelangsungan hidup 1 tahunnya kurang dari 50%.
  • Sebuah penelitian di Spanyol yang dilakukan oleh Rosell dan rekannya (Ann Onclo. 2008. 19(2): 362-369) melibatkan 86 pasien. Kelompok A memiliki 43 pasien yang mendapatkan cisplatin/vinorelbine. Kelompok B memiliki 43 pasien yang mendapatkan Erbitux ditambah dengan cisplatin/vinorelbine.  Hasilnya:
  1. Kelangsungan hidup bebas pertumbuhan kanker rata-ratanya adalah 4,6 bulan di kelompok A dan 5,0 bulan di kelompok B. Artinya dengan penambahan Erbitux penyakitnya tidak berkembang selama 0,4 bulan (2 minggu?)
  2. Kelangsungan hidup rata-ratanya adalah 7,3 bulan di kelompok A dan 8,3 bulan di kelompok B. Artinya dengan penambahan Erbitux pasien bertahan 1 bulan lebih lama!

Dr Tito Fojo dan Christine Grady menulis: “Sayangnya, pengumuman perpanjangan kelangsungan hidup 1,2 bulan dalam KPBSK bukanlah kali pertama Erbitux diperhatikan karena manfaat yang kecilnya itu.”

PMO (Pengawas Makanan dan Obat-obatan) mengizinkan Erbitux untuk pengobatan kanker kolorektal lanjut setelah ditemukan bahwa ketika dikombinasikan dengan irinotecan, Erbitux memperpanjang keseluruhan kelangsungan hidup (KKH) selama 1,7 bulan  dibandingkan dengan Erbitux agen tunggal tetapi tidak berlaku dengan irinotecan agen tunggal. (Bagi mereka yang sedikit mengerti tentang ilmu pengetahuan, perizinan ini nampak jadi “keanehan” yang nyata – ada sesuatu yang tidak benar tetapi kita tidak akan teralihkan oleh hal ini.)

Perpanjangan 1,7 bulan kelangsungan hidup ini muncul beriringan dengan toksisitas kulit pada 85% pasien.

Dr Tito Fojo dan Christine Grady bertanya: “Tanpa mempertimbangkan biaya dan efek sampingnya, apakah pertambahan keseluruhan kelangsungan hidup selama 1,7 bulan itu merupakan sebuah keuntungan?”

Berlaku adil, penulis tidak hanya “menembak” pada Erbitux saja. PMO juga menunjuk obat lain yang disebut Avastin – obat yang cukup dikenal dan lumrah digunakan di dunia ini. Avastin dikombinasikan dengan carboplatin dan paclitaxel untuk pasien pengobatan awal penderita KPBSK metastatic nonsquamous berdasarkan peningkatan keseluruhan kelangsungan hidup selama 2,0 bulan.  Hasilnya, meski terdapat tentangan di antara spesialis kanker paru tentang manfaat sesungguhnya, penambahan Avastin pada kemoterapi kemudian menjadi standar terapi bagi KPBSK nonsquamous. Avastin juga ditambahkan pada kemoterapi untuk pengobatan kanker payudara. Manfaat Avastin bagi kanker payudara ini mungkin tidak ada. Saat ini, jika PMO Amerika Serikat sudah menarik perizinan ini.

Pada kanker pankreas, penambahan Tarceva (erlotinib) pada gemcitabine meningkatkan keseluruhan kelangsungan hidup hanya selama 10 hari (KKH – 6,24 bulan melawan 5,91 bulan).

Dr Tito Fojo dan Christine Grady lagi-lagi bertanya: “Apakah hasil percobaan ini memberikan satu gebrakan?” Mereka mengatakan: “Namun satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah peluru anti-kanker ajaib yang diarahkan pada target penting meleset jauh.”

Mereka bertanya:

  • Hal apa yang dianggap sebuah manfaat dalam pengobatan kanker?
  • Bagaimana pertimbangan faktor BIAYANYA?
  • Siapa yang harus memutuskan?

Berapa harga hidup Anda?

Tabel di atas adalah versi ringkasan Tabel 1 dalam makalah Dr. Fojo & Grady dan inilah apa yang mereka katakan tentang biaya:

  1. Di Amerika Serikat, Pengobatan kanker paru dengan Erbitux berharga rata-rata US$80,000 dan memperpanjang kelangsungan hidup selama 1,2 bulan, yang dapat diartikan dengan jumlah pengeluaran US$800,000 untuk memperpanjang hidup seorang pasien selama satu tahun.
  2. Pendapatan rumah tangga rata-rata masyarakat AS adalah US$50.233.
  3. Biaya pengobatan Avastin yang katanya memperpanjang kelangsungan hidup selama 1,5 bulan adalah US$90.816 .
  4. Biaya pengobatan Tarceva yang katanya memperpanjang kelangsungan hidup selama 10 hari adalah  US$15.752.
  5. Biaya pengobatan Nexavar yang katanya memperpanjang kelangsungan hidup selama 2,7 bulan adalah US$34.373.
  6. Jauh lebih besar dari 90% agen-agen anti kanker yang diizinkan oleh PMO dalam 4 tahun terakhir ini yang menghabiskan lebih dari US$20.000 untuk 12 minggu pengobatan.

Contoh-contoh ini menantang komunitas onkologi untuk membahas beberapa pertanyaan serius:

  • Hal apa yang dianggap sebuah manfaat dalam kanker?
  • Berapa jumlah minimal manfaat yang diperlukan untuk menetapkan sebuah terapi sebagai standar baru?
  • Apakah 1,2 bulan pertambahan kelangsungan hidup itu “hal yang baik”?
  • Seberapa besar arti 1,2 bulan itu? Atau biayanya?

(Catat: tidak ada dari obat-obatan ini yang menyembuhkan kanker. Mereka hanya memperpanjang kelangsungan hidup dalam beberapa hari atau bulan)

 Komentar 

Menghabiskan US$350,000 untuk Mati Akibat Kanker di Amerika Saat Ini

Saat Anda menambah biaya operasi, radiasi, kemo, rumah sakit, perawatan, dll., menghabiskan sekitar US$350.000 untuk mati akibat kanker di Amerika.

Tentu saja, pengobatan medis modern konvensional bisa berkhasiat. Seperti yang dikatakan Julian Whitaker, M.D, radiasi dan kemoterapi adalah plasebo yang berbahaya. Namun plasebo terkadang bekhasiat ~ Frank Cousineau, Presiden, Cancer Victors, Cancer Breakthrough Amerika Serikat.

Untuk lebih lanjut klik tautan ini: http://cacare.com/index.php?option=com_easyfaq&task=cat&catid=109&Itemid=39

Menyimpulkan makalahnya, Dr. Fojo & Grady menulis:

  • Semua kebiasaan pemberian obat-obatan baru yang memberi manfaat kecil kepada pasien dengan kanker lanjut harus benar-benar dicegah.
  • Bilamana tidak ada pilihan pengobatan lebih lanjut, penekanan pertama harus pada kualitas hidup dan kemudian biaya.
  • Untuk terapi dengan manfaat kecil, efek racun harus diawasi dengan lebih ketat.
  • Kita harus berkutat dengan naiknya harga terapi kanker saat ini.
  • Kondisi saat ini tidak boleh berlanjut … waktu untuk memulai adalah sekarang.

Sebelumnya, Dr. Fojo & Grady juga memperingatkan bahwa: “Sebagai onkologis, kami tidak bisa pergi tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Karakter moral pekerjaan kami bergantung pada jawaban tersebut.”

Memang, saya senang sekali jika nilai atau karakter moral dinyatakan di sini! Mari sedikit berbicara tentang uang, dan lebih memperhatikan nilai-nilai moral.

—————————————-—————————————————————————-

The Economist pada 26 Mei 2011 memuat artikel berjudul: Perang berbiaya mahal pada kanker – Obat-obatan kanker baru secara teknis mengesankan. Tetapi haruskah obat-obatan itu menguras banyak biaya? http://www.economist.com/node/18743951?story_id=18743951

Artikel tersebut mengatakan:

  • KANKER bukan penyakit tunggal. Jenisnya banyak. Namun selama ini onkologis menggunakan senjata tumpul yang sama untuk memerangi jenis-jenis kanker yang berbeda-beda — mengangkat tumornya, menghancurkannya dengan radiasi atau meledakannya dengan kemoterapi yang membunuh sel-sel jahat juga sel-sel baik.
  • Hambatanya adalah, dari sudut pandang masyarakat, obat-obatan ini luar biasa mahal.
  • Tidak semua obat-obatan baru ini berkhasiat.
  • Pada bulan Desember PMO menyatakan bahwa efek samping Avastin makin berkurang pada kanker payudara.
  • Secara umum, sejumlah orang mulai berhitung-hitung bahwa obat-obatan kanker yang baru hanya memberikan manfaat kecil dengan harga yang sangat besar.
  • Provenge (untuk kanker prostat lanjut) menelan biaya US$93.000 untuk sebuah layanan pengobatan dan menambah kelangsungan hidup selama rata-rata empat bulan.
  • Yervoy (untuk melanoma, jenis kanker kulit) menelan biaya US$120.000 demi tiga setengah bulan. Beberapa pasien yang mengkonsumsi obat-obatan itu bertahan lebih lama. Tetapi yang lain menghabiskan banyak namun memperoleh sedikit.
  • Siapa yang akan mereformasi sistem rusak ini?
  • Tahun lalu Gleevec mencatatkan keuntungan kotor US$4,3 miliar. Roche melalui Herceptin (obat HER2) dan Avastin bahkan mencatat hasil lebih besar: masing-masing US$6 miliar dan US$7,4 miliar.

Komentar saya: Pada akhirnya – ini hanya tentang memanfaatkan keuntungan besar dengan mengorbankan penderita kanker yang tak berdaya.

Diterjemahkan oleh:  Andreas Kriswanto

Pengobatan Medis Tidak Diindikasikan Beralih Ke Obat Herbal

K118, seorang wanita berusia 75 tahun. Dia menderita asma kronik dan juga tekanan darah tinggi. Pada 28 Januari 2003, sebuah CT Scan mengindikasikan bahwa terdapat lesi yang jelas pada mediastinum anterior sampai aorta ascenden bagian kiri. Berdiameter 2.5 cm. Efusi pleura sedang sisi kanan dengan kolaps pasif dari lobus bawah kiri.

Sebuah biopsi mengindikasikan adenokarsinoma di paru. Seusia dia, kemoterapi dan radioterapi tidak diindikasikan. Anaknya datang ke kami memohon pertolongan. Dia pun segera mengkonsumsi obat herbal.

Kami menerima dua e-mail dari anaknya yang ingin membagi kebahagiaannya dengan kita semua.

E-mail tanggal 25 Maret 2003

Untuk CA CARE,

Hanya ingin mengekspresikan kebahagiaan saya tentang kemajuan pada kasus Ibu saya. Ibu saya terdiagnosa kanker paru pada 14 Feb. 2003. Dia berumur 74 tahun. Paru kirinya penuh dengan cairan dan kakinya bengkak.

Dokter menasehati bahwa kondisinya tidak cocok untuk melakukan kemoterapi atau radioterapi. Merupakan sebuah kebetulan kita dikenalkan dengan CA Care.

Ibu saya mulai mengkonsumsi Kapsul A, teh C, Teh Paru, dan selanjutnya Teh Paru 2) ditambahkan dan The Dahak-Paru, mulai 17 Feb 03. Pada 22 Feb 03, dokter kami memeriksa dia dan menemukan bahwa paru kirinya telah bersih dari cairan dan pembengkakan di kakinya pun telah hilang.

Kami melanjutkan mengkonsumsi obat herbal dari CA Care. Pada 22 Maret 2003 dilakukan sebuah foto X-ray dan dokter terkejut bahwa benjolan di paru kiri telah meyusut sekitar sepertiga dari ukuran awal.

Kondisi ibu saya sangat baik. Nafsu makannya baik dan dia melanjutkan sebagian besar kegiatan normalnya. Saya Cuma sangat bahagia dengan ini dan ingin membagi informasi ini dengan semua orang. Konsultasi berikutnya pada tanggal 24 Mei 03. Saya akan terus mengabari kondisi beliau.

Saya harus mengucapkan terima kasih saya kepada …

Dengan damai,

ST dari KL.

E-mail tanggal 25 Mei 2003

Kepada Prof. Chris Teo,

Saya ingin memberitahu perkembangan dari kasus ibu saya. Sudah tiga bulan sejak dia mengkonsumsi obat herbal anda. Seperti yang telah disebutkan pada e-mail tanggal 25 Maret 03, dia positif sembuh setelah mengkonsumsi obat herbal anda.

Pada 24 Mei 03, kami membawa beliau ke spesialis paru yang sama untuk diperiksa. Dokter mengatakan bahwa parunya normal, denyut jantung normal kecuali tekanan darahnya sedikit tinggi 160/80. Dia perlu untuk terus mengkonsumsi obat tekanan darah tinggi.

Kabar baik lainnya adalah berat badannya meningkat empat pon kali ini. Kami memutuskan untuk tidak melakukan X-ray selama sisa tahun 2003 guna mengurangi paparan terhadap radiasi mengingat dia telah melakukan banyak X-ray dan CT Scan tiga bulan lalu.

Saya menghabiskan beberapa jam dengan ibu saya kemarin dan menemukan bahwa dia dapat melakukan tugas rumah dengan normal dan dia dapat berbicara sekeras sebelumnya. Saya sepenuhnya percaya bahwa obat herbal anda telah membawa dia kembali dari kegelapan. Selain obat herbal, saya juga menemukan bahwa pasien kanker benar-benar membutuhkan dukungan emosional dan moral yang berlimpah setap harinya. Kami semua harus tabah dan kuat untuk dapat memenangkan pertarungan kanker ini.

Terima kasih untuk kontribusi anda terhadap kemanusiaan dalam pertarungan yang susah melawan penyakit ini. Tuhan memberkati anda.

Dengan damai,

ST.

Komentar

Pasien meninggal pada Desember 2004 – setelah dua tahun terdiagnosa kanker paru. Dia mampu hidup secara normal, bebas dari sakit dan masalah yang melemahkan tubuh. Apakah kematiannya disebabkan kanker atau usia tua?

 

Pasien Meninggal Setelah Penurunan Yang Tidak Berarti Dari CA 15.3 dan Penyusutan Tumor Dengan Pengobatan Iressa dan Tarceva

Saya menerima satu e-mail dari Dr. Mark (bukan nama sebenarnya) , seorang Ph.D. pada bidang biologi kanker yang bekerja di sebuah rumah sakit. Berikut isi e-mailnya:

Setelah mengunjungi situs CA CARE … saya menyadari bahwa inilah yang selama ini saya cari untuk menolong ibu saya. Saya menginginkan agar ibu saya mencoba terapi herbal anda.

Ibu saya berumur 70 tahun. Dia menderita batuk selama berbulan-bulan tahun lalu dan dokter umumnya mengatakan bahwa dia menderita asma yang sebelumnya dia tidak sadari. Dokternya tidak menganjurkan untuk foto X-ray. Akhirnya dia sembuh dari batuk dan kami cuma melupakan kejadian itu.

Pada akhir April 2007, dia terus-menerus mengeluh tentang nyeri perut, kembung dan kehilangan nafsu makan. Dia pergi menemui spesialis pencernaan dan didiagnosa terkena infeksi kuman H.pyloridan dia pun menerima pengobatan antibiotik. Tanpa terduga, foto X-ray juga dilakukan dan ditemukan adanya abnormalitas pada paru-parunya. Dia melakukan CT scan dan tes darah termasuk penanda tumor pada hari yang sama. Hasil menunjukkan adanya kemungkinan kanker paru. Seminggu kemudian dia menjalani biopsi paru. Hasil menunjukkan bahwa massa tumor paru adalah adenokarsinoma yang berdiferensiasi sedang. Bagaimanapun, dia tidak mempunyai kesulitan bernafas atau batuk pada saat yang bersamaan.

Dia kemudian dirujuk ke ahli kanker (onkologis) pada rumah sakit yang sama. Ibu saya adalah seorang wanita Asia tanpa riwayat merokok dan tipe tumornya adalah adenokarsinoma. Dia termasuk dalam kategori yang berespon baik terhadap obat baru bernama Iressa (penghambat Tirosin Kinase). Dokter mengatakan bahwa kita bisa mengikuti perkembangannya melalui CA 15.3, penanda tumor dengan titer tertinggi ketika pertama kali ditemukan (CA 15.3 = 5147 pada 24 April 2007).

Setelah mengkonsumsi Iressa selama satu bulan, CA15.3 nya menurun sampai 367 (pada 28 Mei 2007). Pada 30 Juli 2007, menurun sampai 68. Kami sangat bahagia dengan kerja obat tersebut. CT scan menunjukkan adanya penyusutan tumor (Agustus 2007). Pada bulan keempat, CA 15.3 meningkat sampai 154 (pada 27 Agustus). Dokter merasa sedikit khawatir tetapi ibu melanjutkan mengkonsumsi Iressa. Sebulan kemudian penanda tumor meningkat sampai 713 (pada 28 September 2007). CT scan menunjukkan adanya tambahan bayangan di paru-paru dibandingkan pada CT scan yang dilakukan pada Agustus 2007. Dia juga melakukan CT scan otak untuk pertama kalinya dan terdapat beberapa metastase pada otak dan tulang tetapi lesinya kecil.

Ibu saya mulai mencoba obat lain bernama Tarceva (bekerja dengan mekanisme yang sama tetapi keliatan lebih efektif). Dia mengalami efek samping seperti ruam, kulit kering dan hilangnya nafsu makan. Kami sangat yakin pada obat baru ini karena menurut literatur makin banyaknya efek samping berarti kesempatan untuk respon juga semakin meningkat. Bagaimanapun setelah satu bulan mengkonsumsi Tarceva, CA 15.3-nya meningkat sampai 1496 (pada 26 Oktober 2007). Dokter menyarankan agar dia terus menkonsumsi obat tersebut untuk satu bulan ke depan dan kemudian melakukan CT Scan. Saya telah bertanya pada dokter apabila hasilnya menunjukkan bahwa Tarceva tidak efektif, dia akan menjalankan kemoterapi pada ibuku. Tapi karena kondisinya yang lemah, maka akan dilakukan yang ringan saja.

Ibu baru saja melakukan tes darah rutin kemarin. Hasilnya menunjukkan bahwa ginjal dan hatinya berfungsi normal. Dia tidak anemia, tetapi hitung limfositnya lumayan rendah (10%). Dia sangat lemah sekarang dan tidak dapat berjalan tegak. Dia telah terjatuh beberapa kali karena kakinya yang lemah. Untungnya dia tidak terluka atau mematahkan tulangnya sendiri. Dia makan bubur tiap hari karena nafsu makannya yang buruk dan tidak mempunyai tenaga untuk mengunyah. Juga karena perutnya yang tidak nyaman dan sendawa yang terlalu sering sehabis makan maupun minum. Kadang dia mengeluh tentang sakit kepala. Tidurnya nyenyak dan BABnya lancar. Dia tidak mengeluh tentang sesak nafas ataupun batuk.

Disamping mengkonsumsi Tarceva, dia juga mengkonsumsi Bonefos untuk metastasis tulangnya. Kami juga memberikannya suplemen-suplemen.

Sejalan dengan itu saya juga ingin dia meningkatan daya tahan tubuhnya melalui obat Tradisional Cina. Bagaimanapun, saya belum menemukan sesuatu yang cocok. Saya setuju dengan terapi holistik anda dan menginginkan supaya ibuku mencoba.

Pada 18 Desember 2007, CA Care menerima e-mail dari Dr. Mark lagi, berbunyi:

Ibu saya telah meninggal dunia  pada 30 November 2007. Saya merasa dia meninggal karena pneumonia. Paru-paru sebelah kirinya benar-benar putih total. Dia juga mempunyai dahak kuning kental yang lengket tapi tidak mempunyai kekuatan untuk mengeluarkannya. Jumlah sel darah putihnya benar-benar tinggi dan jumlah netrofilnya lebih dari 94%.

Ibu saya cuma berencana untuk mengkonsumsi obat herbal dan kapsul A+B selama beberapa hari sampai dia benar-benar tidak bisa menelan apapun termauk minum. Dia sangat berani dan positif. Dia tahu bahwa saya mambawa obat herbal yang dapat membantu penyakitnya. Setelah meminumnya, dia bilang kalo obat herbalnya pahit dan asin, tetapi tetap dia masih meneruskan untuk meminum. Dia bertambah buruk semakin cepat. Saya tidak memperhatikan bahwa dia ada masalah paru sebelum bekonsultasi dengan anda, maka dari itu saya juga tidak mendapat teh  dahak paru  untuknya.

Untuk memonitor perkembangannya, kami mulai menulis diari untuknya sejak 21 November 2007. kami mencatat segala sesuatu yang dimakan dan responnya terhadap pengobatan herbal. Bagaimanapun, itu berakhir setelah beberapa hari.

Pada sore tanggal 26 November 2007, kami memutuskan untuk mendatangkan dokter ke rumah. Dia bilang bahwa paru sebelah kiri buku tidak lagi berfungsi dan bahwa dia menderita dehidrasi. Bagaimanapun, tekanan darahnya normal dan tidak demam. Dia menyarankan untuk memberikan oksigen dan infus dengan dekstran saline. Dia bilang kondisinya sedang stabil dan menyuruh kita untuk bersiap-siap untuk yang terburuk – apakah mau tetap dirumah atau dikirimkan ke rumah sakit. Ibu saya menggelengkan kepalanya ketika saya bertanya apakah dia mau ke rumah sakit. Hari berikutnya, kita menyewa tabung oksigen dan seorang suster untuk mengawasi tetesan infus. Suster menunjukkan bahwa ibu saya mempunyai dahak yang banyak dan karena dia tidak sanggup untuk mengeluarkannya, dia beresiko terkena pneumonia.

Pada 28 November 2007, dia tidak mengalami kemajuan sama sekali dan saya bertanya sekali lagi mencoba meyakinkan dia untuk ke rumah sakit guna mengatasi masalah dahak dan sembelit. Akhirnya dia menganggukkan kepalanya. Jadi kami buru-buru memanggil ambulans untuk mengirimnya ke rumah sakit yang berjarak sekitar 5 sampai 10 menit dari rumah kami.

Sebuah film X-ray menunjukkan bahwa paru sebelah kirinya putih total. Jantungnya terdesak ke arah kanan, mungkin karena cairan di paru. Tekanan darahnya tinggi dan denyut jantungnya lebih dari 130/menit. Malam pertama di rumah sakit, kami semua merasa dia lebih segar dan nyaman dan kami pun lebih lega. Bagaimanapun, pada sore hari kedua, dia tidak sadarkan diri. Dokter mengatakan pada kita bahwa mereka tidak akan melakukan resusitasi yang cuma akan memperpanjang penderitaannya. Pada malam hari ketiga kami kehilangan dia, ketika seluruh anggota keluarga berkumpul mengelilinginya. Walaupun kami sangat sedih, kami juga bersyukur bahwa dia tidak perlu menderita lebih banyak lagi. Saudaraku yang diluar negeri sempat pulang tepat waktu dan menemani ketika dia masih sadar.

Saya benar-benar ingin mengucapkan terima kasih pada anda dan juga pada isti anda, atas kebaikan dan kemurahan hati anda dan tentu saja untuk obat herbal anda. Sudah terlambat bagi ibuku untuk mengkonsumsi obat herbal anda. Bagaimanapun, tidaklah terlambat untuk mengenal anda dan terapi CA CARE.

KOMENTAR

Dr. Mark telah menuliskan secara terperinci kasus ibunya – terima kasih kepada latihannya sebagai ilmuwan observasi. Saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu Dr. Mark ketika dia datang menemui saya dengan laporan medis ibunya pada 20 November 2007. Yang paling mengejutkan saya adalah pada kasus ini digunakan CA 15.3 untuk memonitor perkembangan dari kanker paru. Saya bertanya apakah itu merupakan kesalahan pengetikan pada e-mailnya. Mengejutkan ternyata jawabannya tidak.

Awalnya pada 24 April 2007, dokter-dokter menggunakan penanda tumor seperti CEA = 462.9; CA 125 = 324; CA 15.3 = 5147; dan CA 19.9 = 14. diantara semuanya CA 15.3 memberikan pembacaan yang paling tinggi. Itulah yang membuat dokter beranggapan CA 15.3 dapat mencerminkan hasil kemajuan pengobatan paling bagus. Biasanya CA 15.3 digunakan umumnya untuk memonitor pasien dengan kanker payudara.

Salah satu efek samping yang paling nyata dari Iressa adalah toksisitas paru. Pasien yang mengkonsumsi Iressa telah dilaporkan menderita penyakit kompleks yang dikenal sebagai interstitial lung disease (ILD). Penyakit seperti ini menyebabkan kesulitan bernafas dengan atau tanpa batuk atau demam ringan. Gejalanya bertambah parah dengan cepat dan pasien harus dimasukkan ke rumah sakit.

Surat khabar New Strait Times tanggal 6 Desember 2002, berjudul: 81 kematian berhubungan dengan obat kanker paru. Kementerian Kesehatan Jepang memastikan 291 kasus efek samping dan 81 pasien meninggal karena Iressa.

Pada 19 September 2005, Japan Today, berjudul: Obat kanker ajaib berubah menjadi perubahan yang mematikan: Obat tersebut menyebabkan efek sampingn yang serius sperti pneumonia parah, yang berujung ke kematian.

Mengingat apa yang dikatakan Dr. Mark: Kondisinya memburuk cepat sekali. Saya tidak memperhatikan adanya masalah pada paru sebelum mengunjungi anda. Apakah ibu Dr. Mark merupakan salah satu korban dari efek samping fatal Iressa? Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang berani bertanya? Atau tidak ada yang orang ingin tahu?

Kami merasa menyesal bahwa obat herbal kami tidak bisa membantu dalam kasus ini. Ini yang sering kami beritahukan kepada pasien-pasien kami. Bukan masalahnya seberapa lama kita sanggup bertahan hidup – tetapi kualitas daripada hidup kitalah yang dipermasalahkan. Bahagialah dan bersyukur apabila kita bisa makan, bisa tidur, dan dapat bebas bergerak.

Untuk memerangi dan menghancurkan kanker itu sendiri merupakan hal yang tidak mungkin walaupun orang lain menginginkan kita percaya seperti itu.

Penurunan awal dari penanda tumor dan penyusutan tumor tidaklah berarti seperti yang telah didemonstrasikan pada kasus ini. Janganlah tertipu dengan ilusi seperti ini. Pada kenyataannya, ini bukanlah kasus terisolasi. Kami telah mengumpulkan dan mendokumentasikan banyak kasus lain seperti ini, yang mana mengarah ke harapan yang salah arah dan salah tempat. Anda mungkin ingin membaca artikel kami yang lain (Penyusutan Tak  Berarti Dari Tumor Pada Pengobatan Tarceva, Bahkan Perawatan Berteknologi Tinggi Tidak Dapat Menjamin Bahwa Kanker Dapat Disembuhkan Atau Tidak Akan Menyebar) tentang Iressa, Tarceva, dan Bonefos dan apa yang dapat mereka lakukan untuk pasien-pasien kanker.

 

Kemo, Cryoablasi dan Biji Radioaktif Tidak Menyembuhkan Obat Herbal Membuatnya Merasa Baikan

Suatu waktu pada awal Agustus 2007, Swee (nama samaran, 71 tahun, wanita dari Indonesia) menderita batuk dengan dahak bebercak darah. Dia berkonsultasi dengan dokter umum yang memintanya melakukan X-ray, menduga dia mungkin menderita tuberkulosis. Foto X-ray menunjukkan adanya tumor di paru-paru. Dia langsung dirujuk ke spesialis yang melakukan CT-Scan dan menemukan massa jaringan lunak berukuran 4.8 x 3.9 cm dengan limfadenopati pada paru kanan. Itu adalah kanker stadium III-A. Biopsi dianjurkan tetapi Swee menolak dan memutuskan datang ke Penang untuk pendapat kedua.

Di Penang, biopsi bronkial dilakukan dan hasilnya memastikan diagnosa awal. Itu adalah jenis karsinoma yang menyebar, berdiferensiasi rendah. Swee dirujuk ke ahli onkologis untuk kemoterapi.

Sehari sebelum Swee dijadwalkan untuk kemoterapi dia menerima telepon dari kerabatnya yang memberitahukan dia untuk mencari pengobatan di China saja. Dia melakukan ini tanpa ragu-ragu.

Swee dirawat di rumah sakit swasta di China selama dua puluh delapan hari. Dia menjalani pengobatan seperti berikut:

1.         Kemoterapi dengan Navelbine.

2.         Cryoablasi dengan Argon-helium. Tiga cryoprobe dimasukkan ke lesi dan keseluruhan proses pembekuan di pantau dengan CT scan sampai”bola es”sepenuhnya meyelimuti massa target. Setelah dua siklus pembekuan cryoprobe dicabut

3.         Penanaman biji radioaktif iodin. Dibawah pengawasan CT Scan, 15 radioaktif iodin – 125 biji ditanamkan pada massa tumor.

Dokter menyimpulkan perawatan ini berhasil. Swee diijinkan pulang ke Indonesia.

Pada November 2007, Swee kembali ke China untuk perawatan yang kedua kalinya. Kunjungan kali ini sekitar lima belas hari. Dia menjalani perawatan yang sama: kemoterapi dengan Navelbine, cryoablasi dan penanaman biji iodine. Menurut para dokter, prosedur yang kedua berhasil dan kondisi pasien menjadi lebih baik.

Menurut putranya yang menemani dia ke China, dokter di China menganjurkan Swee menjalani total enam siklus perawatan. Putranya bilang: Dokternya menjamin bahwa tumornya akan hilang dan pada saat yang bersamaan memperingatkan bahwa kanker akan menyebar ke bagian lain dari tubuh. Tidak ada jaminan bahwa tidak akan ada penyebaran. Dia juga tidak pasti bagian tubuh mana yang akan terkena penyebarannya.

Setelah Swee kembali ke rumahnya, anggota keluarganya mengalami dilema. Mereka tidak mempunyai tabungan lagi untuk pengobatan yang lebih lanjut di China. Biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan pertama mereka adalah 87,000 Yuan. Pengobatan kedua 57,000 Yuan. Swee ingin menjual rumah yang sekarang ditempati keluarganya untuk membiayai perawatannya. Lima anaknya (dua putra dan tiga putri) tidaklah yakin bahwa ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Ini dikarenakan tidak adanya kepastian Swee akan sembuh total.

Putra Swee datang menemui kami pada Desember 2007 dan ingin mengetahui hal-hal berikut:

1.         Apa yang harus mereka lakukan?

2.         Apabila ada kemungkinan mengkonsumsi obat herbal kami dan pada saat yang bersamaan menjalani pengobatan China, apakah mereka harus memutuskan untuk ke China lagi. Maksudnya agar obat herbal ini dapat membantu Swee dalam beberapa hal yang mana pengobatan medis tidak dapat lakukan.

Saya memberitahu putranya bahwa hal yang paling penting yang mendapat pertimbangan serius adalah kemungkinan akan kanker tersebut menyebar ke otak. Tidak ada orang yang dapat mencegah hal itu dan kemungkinan untuk terjadi metastasis ini sangat tinggi.

Untuk hal ini putranya berkata : Ya. Ketika saya di rumah sakit di China saya telah melihat beberapa pasien yang menderita seperti ibu saya dan yang menjalani perawatan yang serupa. Sekitar enam bulan setelah perawatan kanker menyebar ke otak. Dokter juga memberitahu saya bahwa tipe kanker yang diderita oleh ibu saya adalah tipe yang sangat agresif dan terdapat 90% kemungkinan bahwa kanker akan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Tidak ada jaminan bahwa tidak akan menyebar.

Swee dan dua anak perempuannya  kunjungi CA Care (Penang) untuk pertama kalinya setelah mengambil herbal kami selama sekitar satu tahun.

Chris (C): Anda telah minum herbal selama 1 tahun. Bagaimana kesehatan Anda?
Swee (S): Bagus. Tidak ada masalah.

C: Setelah pengobatan di Cina, apakah Anda baik?
S: Ya. Tetapi saya tidak mampu untuk pergi lagi. Keuangan kami sangat terbatas.

C: Berapa kali Anda pergi ke Cina?
S: Dua kali.

C: Anda memutuskan untuk tidak melakukan chemo lagi di Cina? Dan Anda memutuskan untuk mengambil herbal kami?
S: Ketika saya datang dari Cina saya batuk pada malam hari.

C: Setelah Anda minum herbal, apakah Anda masih batuk?
S: Tidak ada lagi batuk.

C: Apakah Anda terus minum herbal kami sehingga sekarang?
S: Ya. Saya tidak berhenti minum herabal sejak tahun lalu.

Pada bulan Agustus 2009, hampir dua tahun ibunya minum herbal, putra Swee datang ke pusat CA Care.

C: Anda berkata ibumu dua kali pergi ke China. Karena kendala keuangan, dia berhenti pergi ke China?
Putra: Dia tidak kembali lagi di sana.

C: Selain mengambil herbal kami, apakah ia mengambil obat orang lain?
P: Tidak. Dia hanya mengambil herbal Anda.

C: Bagaimana kesehatan ibu? Apakah ia bagus?
P: Dia baik dan waspada. Tetapi jika ia bekerja terlalu keras dan tidak memiliki cukup istirahat ia merasa lelah. Kemudian dia batuk pada malam hari.

C: Ada apa-apa keluhan?
P: Sampai saat ini, semuanya okay. Tidak ada keluhan.

C: Ini sudah dua tahun sejak pertama kali Anda datang untuk berkonsultasi dengan saya.
P: Ya, sekitar dua tahun.

C: Saya pernah mendengar tentang temannya yang pergi ke China. . . . .
P: Mereka semua telah meninggal.

C: Bagaimana Anda tahu?
P: Mereka semua tinggal di dekat tempat kami di Medan. Tiga orang yang bersama-sama pergi ke Cina untuk pengobatan. Dari tiga, ibu saya adalah satu-satunya orang yang bertahan sampai sekarang dan masih hidup.

C: Oh, dua teman-teman lainnya sudah mati?
P: Dokter di China mengatakan kepada mereka tidak perlu datang lagi ke Cina untuk berobat.

C: Berapa lama mereka menjalani perawatan di Cina?
P: Mereka pergi ke China total 5 (lima) kali untuk perawatan.

C: Ibu Anda pergi dua (2) kali?
P: Ya.

C: Secara ikhlas, bagaimana ibu Anda sekarang? Seberapa sering Anda melihat dia?
P: Saya kembali ke Medan setiap bulan. Ia sehat dan normal.

C: Bagaimana ibumu sebelum ia pergi ke China?
P: Sebelum perawatan di China, ia terlihat lelah dan lesu. Setelah pengobatan di China, dia sedikit lebih baik. Tetapi setelah menminum herbal CA Care, dia lebih baik dan lebih baik dan sangat waspada dan normal sekarang.

C: Jadi, apa yang dia lakukan sekarang?
P: Kami memiliki bengkel motor. Ia bekerja sebagai kasir di sana. Dia mulai bekerja di sekitar 9 – 10 pagi. Ia memerlukan nap antara 2 – 4 sore. Setelah itu, dia terus bekerja lagi.

C: Anda berhati-hati bahwa ia tidak terlalu berkerja banyak atau overstress diri. Apakah dia terus minum herbal?
P: Dia terus minum. Dia juga jaga tentang dietnya.

C: Ketika ia kembali dari China, dia dapat bekerja seperti sekarang?
P: Tidak. Dia masih lemah. Dia tidak bisa memasak atau melakukan sesuatu pekerjaan. Setelah mengambil herbal anda, dia bisa memasak sendiri dan didihkan teh-teh itu.

C: Sebenarnya, herbal kami bagus?
P: Jika tidak baik, saya tidak akan kembali lagi!

C: Berapa banyak biaya pengobatan dua kali ke China?
P: Lehih kurang 250 juta rupiah.

C: Apakah itu bermanfaat dan bernilai?
P: Huh. Tersenyum. (Tidak beri apa-apa komentar)

C: Ingat. Tidak ada obat untuk kanker. Kita hanya bisa kontrolnya saja. Apakah Anda memahami hal ini?
P: Semua anak-anak di keluarga kita memahami ini. Kami hanya berharap tak terjadi apa-apa.

C: Jika seseorang bisa lebih baik, ini kearah pemulihan, tidak ada alasan bahwa ia akan mundur dan tiba-tiba mulai mendapatkan parah. Jika itu terjadi, berarti ada melakukan apa yang salah, seperti tidak minum herbal atau makan makanan yang tidak benar.

Komentar

Sangatlah sulit bagi saya dalam hal ini untuk menasehati, kecuali untuk mengatakan bahwa dari yang saya baca di literatur medis, kanker paru fatal dan kemungkinan sembuh itu nol. Tetapi bagaimana caranya saya mengirimkan pesan ini dalam sikap yang tidak traumatik kepada pasien dan/atau anggota keluarga mereka?

Alexander Spira dan David Ettinger (Multidisciplinary management of lung cancer. New Englang J. of Med. 350:379-392) menulis: Walaupun bertahun-tahun penelitian dilakukan, prognosis untuk pasien dengan kanker paru tetap mengecewakan.

Menurut Stephen Spiro dan Joanna Porter (Lung cancer – where are we today? Amer. J. Respiratory and Critical Care Med. 166:1166-1196):  Walaupun kemoterapi merupakan pendekatan yang logis, tidak ada bukti nyata bahwa itu dapat menyembuhkan NSCLC. Biaya keuangan … tinggi. Biaya lain dari kemoterapi adalah toksisitas dan potensinya untuk menurunkan kualitas hidup. Mengecewakan seperti yang didengar, ini merupakan kenyataan dari situasi ini.

Bahkan apabila apa yang saya katakan (kanker paru tidak ada kesembuhan) mungkin benar, umumnya pasien tidak akan mempercayai atau menerima itu dengan baik. Mereka menginginkan suatu kesembuhan dan  mereka mengharapkan kesembuhan itu dari perawatan yang ditawarkan kepada mereka. Apabila  kita menawarkan obat herbal dan mengajari mereka untuk mengganti kebiasaan hidup mereka dengan harapan dapat memperpanjang hidup mereka atau meningkatkan kualitas hidup mereka, mereka tetap memaksa kami untuk meberitahukan kemungkinan untuk sembuh.

E-mail ini merupakan satu contoh bagus untuk menggambarkan inti yang saya maksud.

Pasien menaruh kepercayaan total pada dokter untuk menuliskan metode resep terbaik, menaruh hidup mereka pada tangan dokter-dokter medis. Perusahaan farmasi besar … membuktikan mereka cukup meyakinkan dengan penjelasan ilmiah sampai hari ini. Itulan sebabnya kenapa banyak pasien masih memilih obat-obat mereka. Sebaliknya, pengobatan herbal tidak menawarkan penjelasan bagaimana cara kerjanya dan sampai sejauh mana dapat membantu pasien. Dalam kata lain, tidak ada jaminan bahwa dengan mengkonsumsi obat herbal akan membuat anda merasa baikan. Sama saja, apabila saya menanyakan kepada anda, secara pribadi, bagaimana dan sampai sejauh mana obat herbal anda dapat membantu pasien, saya tidak berpikir saya akan mendapatkan jawaban yang konkrit.

Sekali lagi, anda mungkin bilang itu tergantung dari pasien untuk memutuskan dan menaruh kepercayaannya pada keputusan apapun yang dibuat. Ini seperti memberitahu pasien untuk memilih apapun yang menurutnya merupakan pengobatan yang tepat. Saya tidak berpikir ini benar. Apabila saya mengetahui ada sesuatu di luar sana yang  ampuh – baik itu adalah herbal maupun obat, saya tidak akan takut untuk berkomitmen dan membela fakta bahwa obat tersebut ampuh.

Ada pertanyaan-pertanyaan yang mungkin pasien akan tanyakan ketika mempertimbangkan obat herbal anda sebagai pengobatan alternatif seperti: apakah anda dapat dengan percaya diri mengatakan bahwa obat herbal anda lebih efektif daripada pengobatan modern?

Saya sepenuhnya mengerti pasien menginginkan jaminan atau janji akan kesembuhan. Tetapi pengalaman kami mengatakan bahwa tidak ada kesembuhan untuk kanker, baik untuk stadium awal maupun akhir.

Untuk memberitahu pasien sebaliknya, sejumlah kebohongan dengan berbagai cara dilakukan. Untuk kami, menyembuhkan (catatan: bahwa kata menyembuhkan yang dimaksud bukan berarti kesembuhan total) dari kanker bukan cuma dengan mengkonsumsi obat herbal saja. Kebanyakan pasien melewatkan inti bahwa mereka terlebih dahulu harus belajar untuk membantu diri mereka sendiri dengan mengganti gaya hidup mereka, diet, dan perubahan pola pikir apabila mereka mencari sebuah penyembuhan.

Sayangnya, perubahan semacam ini merupakan hal yang sulit dilakukan oleh pasien. Dalam kasus ini, putranya memberitahu kami bahwa Swee bukan orang yang mau berubah. Dia tidak siap untuk merubah dietnya dan makan semua makanan yang dia suka. Argumennya: kenapa saya tidak diperbolehkan makan segala yang saya suka – saya tetap akan segera meninggal. Tidak terjadi pada Swee bahwa mungkin saja gaya hidup yang tidak sehatlah yang meyebabkan kematian suaminya (komplikasi hipertensi, diabetes, dan lain-lain). Sebagai tambahan saudara perempuannya meninggal karena kanker kolon, saudara laki-laki karena kanker abdomen (perut) dan bibinya karena kanker nasofaringeal (NPC).

Kedua, obat herbal tidak akan terasa enak dan anaknya bahkan tidak mengharapkan Swee mau meminumnya. Pendek kata, kebanyakan pasien seperti Swee hanya tertarik mencari penyembuhan dengan cara mereka sendiri. Mereka mencari peluru ajaib yang akan dapat membuat merasa sehat.

Drs. Richard Deyo dan Donald Patrick, profesor-profesor di University of Washington, Seattle, USA, dalam buku mereka, Hope or Hype: the obsession with medial advances and the high cost of false promises, menulis:

1.          Kita terlahir dengan kepercayaan buta kita sendiri dalam perusahaan medis yang memangsa ketakutan terbesa kita, semuanya alih-alih demi pertolongan kita dengan “kesembuhan ajaib”.

2.         Kombinasi dari keserakahan industri,??? , Publikasi media massa yang gencar, kebijaksanaan politik, dan pola pikir kita sendiri yang “techno-consumption” mengarahkan kita lebih dan semakin lebih pada ketergantungan pada terapi yang mahal harganya, sedikit keefektifannya – dan kadang sangat berbahaya.

3.         Ketika adanya  pilihan menyangkut cara pengobatan terbaru, asumsi atau anggapan orang adalah bahwa semakin banyak dan semakin baru pasti akan lebih baik?

4.         Dikatakan bahwa dokter lebih suka menuliskan resep dengan obat-obat terbaru bahkan tanpa  melihat bukti nyata apapun yang membuat mereka senang, membuat pasien senang dan membuat medical representation (sales obat) merasa senang.

Kami tidak mempercayai bahwa terdapat hal seperti peluru ajaib untuk kanker. Kami menyimpang dari sebab dan mengkhianati misi kami apabila kami bilang atau bertindak  seakan kita mempunyai itu. Sangatlah sulit bagi kebanyakan orang untuk mengerti bahwa kami disini hanya mencoba untuk membantu. Kami tidak berkeinginan untuk memaksakan obat herbal kami. Kami pun tidak mematok target penjualan dan tidak bertujuan untuk menaklukkan pasar bisnis. Kerja kami berlandaskan cinta dan semangat, bukan keuntungan. Apabila ada asuransi atau garansi yang didapatkan pasien dari kami, akan berupa: Cobalah obat herbal kami untuk seminggu atau dua minggu. Apabila pasien tidak merasa enakan, berhenti konsumsi obat herbal kami dan carilah orang lain yang dapat membantu.

Mari saya ringkaskan denga cerita ini.

Kanker paru sebelumnya diobati dengan Iressa. Ketika Iressa pertama kali diedarkan diumumkan di media sebagai: Obat Masa Depan; Obat Ajaib; Obat Pintar; Kesembuhan Ajaib – obat yang Bangkit dari Abu dan berbagai macam nama lainnya.

Pesan ke dunia sudah jelas: Suatu terobosan mutakhir di tangan – terdapat harapan dan antisipasi yang besar. Pasien penderita kanker paru tidak perlu meninggal lagi. Sebuah obat ajaib akhirnya ditemukan. US – Food and Drug Administration menyetujui penggunaan obat ini. Ini membuatnya lebih menyakinkan. Jaminan seperti inilah yang dibutuhkan bagi pasien kanker di seluruh dunia sebelum mereka menelan pil pertama mereka – nama penulis e-mail diatas tercantum.

Dalam sebuah artikel: Iressa seharusnya tidak pernah disetujui (http://npojip.org/iressa/iressaISDB-Feb-2.html) Rokuro Hama menulis:

  • Sejauh ini kira-kira 23,500 orang di Jepang telah menggunakan Iressa, 644 menderita efek samping. Karena ini telah meninggal 183 orang. Obat ini disetujui pada Juli 2002 di Jepang dan pada akhir Januari 2003 – hampir enam bulan kemudian, kematian yang berhubungan dengan reaksi efek samping Iressa telah mencapai 183 orang.

Pada negara-negara Barat, Iressa ditarik dan terbukti tidak efektif lagi berhubung besarnya pemberitahuan lewat media sebelumnnya. Tetapi di negara-negara Timur, Iressa masih diresepkan pada banyak pasien kanker, bahkan hari ini. Pasien harus menghabiskan RM 7,000 sampai RM 8,000 untuk persediaan Iressa selama sebulan.

Dengan Iressa dijelekkan, beberapa ahli onkologis beralih ke obat lain bernama Tarceva, obat yang bersaudara dengan Iressa. Satu pil Tarceva seharga RM 270 yang akan menjadi RM 8,100 jika diakumulasikan untuk persediaan selama sebulan. Apakah Tarceva efektif? Website perusahaan mengatakan bahwa itu sudah terbukti telah menaikkan angka harapan hidup secara keseluruhan sebanyak 37% dan telah menunjukkan keuntungan yang signifikan dengan memperpanjang waktu perburukan gejala. Dokter-dokter dan pasien-pasien menyukai jaminan seperti itu. Statistik secara ilmiah juga sangat menakjubkan. Tetapi apakah arti dari 37% ? kenyataannya: jika anda mengkonsumsi Tarceva, anda dapat hidup selama 9.5 bulan dan jika anda tidak mengkonsumsi Tarceva anda hanya dapat hidup selama 6.7 bulan. Dalam kalimat sederhana Tarceva hanya meningkatkan angka harapan hidup sebanyak 2.8 bulan.

Bagaimana jaminan seperti ini kedengaran bagi pasien? Apakah pasien tahu atau diberitahukan mengenai hal ini? Ingat, janji untuk sanggup bertahan 2.8 bulan lebih panjang itu datang dengan label harga RM 8,000 sebulan.

Laporan Terkini

Ibu memutus tidak pergi ke China untuk rawatan selanjutnya. Rumah kediaman seluruh keluarganya tidak perlu dijual!

 

Kemo Gagal dan Dia Melanjutkan Berobat Dengan Tarceva Penyusutan Tak Berarti dari Tumor dengan Pengobatan Tarceva

Mark (nama samaran) adalah seorang laki-laki berumur 34 tahun. Suatu ketika  bulan September 2006 dia menderita batuk yang kemudian didiagnosa sebagai kanker paru.  Paru kanannya juga mengandung cairan (efusi pleura). Sebagai tambahan, terdapat beberapa lesi metastatik pada separuh lobus kanan tengah dan bawah dari paru yang kolaps. Paru sebelah kiri bersih. Sayangnya kanker telah menyebar ke iga IV dan VI. Biopsi bagian inti dari massa yang terdapat di paru mengindikasikan papillary adenokarsinoma yang berdiferensiasi sedang.

Dari Desember 2006 ke Februari 2007, Mark menjalani kemoterapi dengan Gemzar dan Cisplatin. Setiap bulannya dua siklus dan dia menerima total enam siklus. Biaya dari setiap siklusnya sekitar RM 4,000. Ahli onkologis memberitahunya bahwa tidak menjamin dapat sembuh tetapi ukuran dari tumor akan berkurang dengan pengobatan.

Setelah kemoterapi selesai, dilakukan CT scan pada 7 Maret 2007 yang menunjukkan paru kanan kolaps parah dengan lesi massa berukuran 6 cm dekat dengan hilus. Mark harus menjalani prosedur untuk mengembalikan fungsi paru.

Mark diberitahu bahwa kemoterapi tidak efektif. Dia diminta untuk mengkonsumsi obat oral, Tarceva yang mana menghabiskan RM 270 / pil. Respon dari perawatan sebagai berikut:

1.   CT  scan pada 9 Maret 2007 menunjukkan massa 7.5 cm x 6 cm dan nodul tambahan berukuran 4.5 cm x 3.5 cm.

2.   CT scan pada 31 Mei 2007 menunjukkan massa berukuran 4 cm x 2 cm, terjadi penyusutan yang signifikan pada ukuran massa paru kanan.

3.   CT scan pada 13 September 2007 menunjukkan tidak ada perubahan yang berarti dibandingkan CXR sebelumnya.

4.   CT scan pada 13 November 2007 menunjukkan massa yang lebih besar berukuran 8 x 6 x 4 cm. Terdapat fibrosis di apeks kanan dan basis paru kanan. Terdapat penghancuran salah satu dari iga bawah sebelah kiri diduga berhubungan dengan metastasis tulang.

Dengan Tarceva, Mark diberitahu bahwa awalnya ukuran tumor sudah berkurang sekitar delapan puluh persen dari ukuran awalnya. Sayangnya penyusutan ini tidak berlangsung lama. Setelah delapan bulan mengkonsumsi Tarceva (menghabiskan RM 64,000) sudahlah jelas bahwa pengobatan tersebut telah gagal.

Mark diberitahu berita mengecewakan bahwa tumor telah membesar lagi. Tarceva tidaklah efektif. Sebagai tambahan, metastasis tulangnya bertambah parah. Mark juga mengkonsumsi Bonefos sejak didiagnosis dan pengobatan ini menghabiskan sekitar RM 400 sebulan.

Mark dan istrinya datang menemui kita pada Desember 2007. Mereka ingin tahu apakah dengan mengkonsumsi obat herbal tersebut tumor akan menyusut dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk obatnya bekerja. Jujur respon saya adalah: Maaf saya tidak tahu.

Komentar

Mark dan istrinya datang mencari kami untuk mendapat jaminan bahwa obat herbal dapat menyembuhkan dia.

Kami mempunyai pasien penderita kanker paru yang diberitahu oleh dokternya bahwa dia cuma bisa bertahan hidup selama 6 bulan, tetapi dengan mengkonsumsi obat herbal mereka hidup normal selama dua atau tiga tahun lebih sebelum akhirnya mereka benar-benar menyerah pada kanker.

Seorang pria dengan kanker tulang diberitahu: Pulanglah dan siapkan surat wasiat anda. Anda cuma mempunyai waktu enam bulan. Dia menolak pengobatan Bonefos, mengkonsumsi obat herbal dan masih hidup sampai hari ini – sudah hampir tujuh tahun sekarang.

Bagaimanapun, tetap salah kalau kita menuntut bahwa obat herbal dapat mengobati kanker. Sayangnya ketika Mark datang menemui kami, saya tidak dapat memberikan jaminan bahwa obat herbal dapat menyembuhkan apapun jika alasan itulah yang membuat dia dan istrinya datang. Saya memberitahu mereka, kami cuma dapat melakukan yang terbaik untuk membantu.

Saya diingatkan apa yang dibilang oleh Randall Fitzgerald (pada The Hundred Years Lie) :

  • Untuk kebanyakan orang yang tumbuh dan bergantung pada teknologi dan obat-obatan laboratorium dari pengobatan Barat, melepaskan paradigma itu atau bahkan berpikir untuk menggunakan pengobatan yang “kedengaran aneh” dari budaya lain, membutuhkan keyakinan dan kepercayaan.
  • Untuk mayoritas dari kita, sebelum kita menemukan penyembuhan alternatif, kita harus  pertama mengalami perasaan depresi dan capek terhadap rangkaian pengobatan kimia sintetis yang ditawarkan oleh pengobatan moderen.

Bagaimanapun, untuk beberapa orang pengalaman akan kegagalan tidak memberikan isyarat apapun. Kebenaran yang menyedihkan tentang kanker paru stadium lanjut adalah bahwa tidak adanya penyembuhan untuk penyakit tersebut – bahkan dengan kemoterapi maupun Tarceva.

Stephen Spiro dan Joanna Porter dalam sebuah artikel: Lung cancer– where are we today? (Kanker paru – kemana kita sekarang ?)  (American J. Respiratory and Critical Care Medicine. 166:1166 – 1196, 2000), menulis: walaupun kemoterapi merupakan pendekatan yang logis, secara virtual tidak terdapat bukti bahwa itu dapat menyembuhkan NSCLC (non – small cell lung cancer).

Ronald Feld dkk. (pada Lung. Clinical Oncology. 2nd ed. Harcourt Asia) meringkas pembicaraan: Di samping banyaknya pasien berdasarkan percobaan klinis, peranan daripada sistemik kemoterapi pada penatalaksanaan NSCLC merupakan salah satu dari isu yang paling controversial pada onkologi medis zaman sekarang.

Dr. Jeffrey Tobias dan Kay Eaton (pada Living with Cancer) lebih jelas ketika mereka menulis

  • Untuk pasien dengan NSCLC … (perawatan) sebenarnya lebih mengarah ke perbaikan gejala daripada perawatan dengan prospek untuk penyembuhan … sebuah kesembuhan tidaklah dapat benar-benar diusahakan.
  • Respon awal yang dramatis terhadap kemoterapi jarang bertahan sampai satu atau dua tahun … mungkin dalam enam bulan (terdapat) bukti yang jelas bahwa kanker telah kembali.

Apa itu Bonefos?

Bonefos digunakan pada beberapa kanker untuk mengurangi kerusakan pada tulang yang dapat mengakibatkan sakit dan patah tulang. Nama kimianya berupa Clodronate disodium yang digolongkan dalam kelas obat bernama bifosfonat. Cara kerjanya dengan menghentikan keluarnya kalsium dari tulang yang membuatnya makin lemah dan juga meningkatkan resiko terjadinya fraktur dan nyeri di samping meningkatkan kadar kalsium dalam darah. Sekarang tertulis bahwa itu menyembuhkan kanker tulang. Dan dalam kasus ini, Bonefos tidaklah efektif.

Apa itu Tarceva?

Bukalah website dan carilah kebenaran yang pahit tentang obat oral yang satu ini. Menurut website perusahaan, http://www.tarceva.net/survivalresults.aspx, Tarceva merupakan obat oral pertama dan satu-satunya yang bersifat penghambat HER1/EGFR tirosin kinase yang terbukti memperpanjang angka harapan hidup. Obat ini secara signifikan meningkatkan angka harapan hidup sampai 37% dan juga mendemonstrasikan keuntungan gejala dengan memperpanjang waktu perburukan gejala.

Tulisan ini sangat menarik. Tetapi seperti biasanya, biarkan saya memperingatkan pasien untuk membaca menggunakan akal sehat. Tanyalah apa artinya kenaikan angka harapan hidup sampai 37% dalam kalimat sederhana? Data yang tersedia pada perusahaan sebagai berikut:

1.   median angka harapan hidup adalah 9.5 bulan dengan Tarceva vs 6.7 bulan dengan plasebo. Dalam kalimat sederhananya Tarceva cuma meningkatkan angka harapan hidup sampai 2.8 bulan. Secara matematis benar untuk mengatakan bahwa kenaikan angka harapan hidup dengan tarceva adalah 41.8%. Tentu saja kenaikan 41.8% terdengar sangat menggiurkan.

2.   Tarceva memperpanjang angka harapan hidup bebas progresif secara signifikan (PFS) sebanyak 82%. Angka sebenarnya adalah PFS dengan Tarceva adalah 3.6 bulan vs 1.8 bulan dengan plasebo.

Sekarang TIDAK ada pada literatur medis tertulis bahwa Tarceva menyembuhkan kanker paru! Pasien perlu untuk memutuskan apakah pantas menghabiskan RM 8,000 tiap bulan untuk pengobatan yang menunjukkan hanya dapat memperpanjang hidup selama 2.8 bulan. Pada kasus ini, Mark telah menghabiskan RM 64,000 dan menemukan bahwa Tarceva telah gagal.