Payudara Busuk: Menderita setelah tiga minggu minum Letronat

LAH menderita kanker payudara dan menjalani operasi tetapi menolak kemoterapi. Dia menoleh ke sinseh untuk meminta bantuan. Setelah sekitar satu setengah tahun mengkonsumsi herbal dan suplemen buatan AS, kankernya kambuh kembali. Payudaranya berubah “busuk”. LAH pergi ke rumah sakit untuk meminta bantuan. Dokter mengatakan kepada LAH bahwa ia hanya memiliki tiga bulan untuk hidup. Tidak bisa dioperasi atau dikemo. Kankernya adalah pada tahap terakhir. Pada saat inilah LAH datang untuk mencari bantuan kami.

Kami meresepkan herbal. Kondisi LAH membaik setelah minum teh herbal selama sekitar dua minggu. Saya mengatakan kepada LAH bahwa jika dia terus melakukan apa yang dia lakukan yang telah membantunya, saya berpikir dia tidak akan mati dalam tiga bulan!

Sekitar satu bulan kemudian, LAH dan putrinya datang ke pusat kami lagi. Kali ini, LAH tampak setengah mati. Inilah yang terjadi.

Chris: Selama kunjungan terakhir, dokter memberi tahu Anda bahwa Anda akan mati dalam waktu tiga bulan. Dan dia juga meminta Anda untuk minum obat.

LAH: Letronat – hormon. Saya minum satu tablet sehari.

Letrozole 2.JPG

C: Berapa biaya obat ini?

L: Gratis (dari rumah sakit pemerintah).

C: Setelah minum obat selama satu minggu – apa yang terjadi? Apakah Anda baik-baik saja?

L: Oke.

C: Setelah dua minggu?

L: Masih oke.

C: Setelah tiga minggu?

L: Saya mulai punya masalah – tidak enak badan.

C: Sekarang, apakah Anda masih meminum obat ini?

L: Tidak, saya berhenti minum obat ini dua hari yang lalu. Secara total, saya meminum obat ini selama lebih dari tiga minggu.

C: Apa masalah yang Anda derita?

L: 1. Saya sesak nafas.

2. Lemah, capek. Saya hanya ingin “tidur” atau berbaring sepanjang hari. Ketika saya “tidur”, saya tidak merasa ingin bangun. Saat mengkonsumsi obat herbal, saya tidak merasa capek semacam itu.

3. Demam. Ini biasanya datang di malam hari. Sedangkan semasa yang minum herbal, saya tidak mengalami demam.

4. Tidak bisa tidur di malam hari – saat sedang minum herbal, saya tidur nyenyak.

5.  Nyeri di berbagai bagian tubuh. Saat minum obat herbal, saya tidak sakit.

6. Pembengkakan tangan dan kaki. Tidak ada bengkak seperti itu ketika saya sedang mengkonsumsi herbal. Pembengkakan ini terjadi seminggu yang lalu.

Swelling both hand and leg.JPG

C: Ketika Anda mulai minum obat dokter, apakah Anda berhenti minum herbal?

L: Ya. Saya berhenti minum obat herbal Anda dan beralih ke Letronat.

C: Sekarang Anda tahu hal sebenarnya — pengobatan dokter itu memberi Anda banyak masalah. Ketika Anda datang sekitar sebulan yang lalu, saya sudah memperingatkan Anda untuk tidak minum obat ini. Anda mendengar apa yang saya katakan, kan?

L: Saya tidak mengikuti saran Anda. Saya mempercayai dokter! Anak saya bersikeras agar saya mengikuti saran dokter. Jadi saya minum obat dokter itu.

C: Baik, Anda percaya dokter. Ingat, dokter juga mengatakan Anda akan mati dalam tiga bulan. Sekarang, apakah Anda juga percaya yang Anda akan mati dalam waktu tiga bulan? Ketika Anda datang menemui saya setelah minum obat herbal, saya melihat wajah Anda dan Anda terlihat sangat baik. Saya tidak pernah percaya Anda akan mati dalam tiga bulan. Tapi sekarang, Anda begitu terengah-engah – sepertinya Anda setengah mati.

L: Saya tidak percaya Anda. Sekarang, saya pukulan … pukulan. Tidak tahu apa yang saya lakukan.

C: Apakah putra Anda masih bersikeras agar Anda terus minum obat dokter?

L: Ya.

C: (kepada putrinya). Melihat ibu Anda dalam kondisi ini, apakah Anda masih ingin dia minum obat dokter?

Putri: Terserah dia apakah dia mau minum obat itu atau tidak.

C: Anda masih ingin dia minum obat? Hanya beberapa minggu yang lalu, dia terlihat sangat sehat. Sekarang kesehatannya memburuk. Dia tidak seperti sebelumnya.

L: Saya sudah berhenti mengonsumsi Letronat dua hari yang lalu.

C: Oke, pulanglah. Teruskan meminum ramuan herbal ltu lagi (karena Anda sudah berhenti minum obat dokter). Saya akan memberikan herbal Lung Phlegm untuk ditambahkan ke Teh Paru. Saya harap ini akan membantu Anda dengan pernapasan Anda. Datang temui saya lagi setelah seminggu.

Komentar

1. Ini memang kisah sedih. Saya telah menemukan banyak kisah serupa ini. Setelah pasien rasa membaik – mereka bertingkah aneh, percaya bahwa mereka atau teman-teman mereka lebih tahu. Mereka mulai makan apa yang mereka sukai atau berhenti minum obat herbal.

Karena masalah ini bukan hal yang “baru”, saya menerima kenyataan ini. Untuk sembuh atau mati adalah pilihan dan tanggung jawab pasien.

LAH mendengar saya berkata dengan sangat jelas bahwa dia seharusnya tidak meminum Letronat itu. Ya, dia mendengarnya, tetapi dia lebih percaya pada dokternya! Tidak apa-apa – itu adalah pilihannya.

2. Saran saya untuk semua pasien. Sebelum menjalani perawatan apa pun, lebih baik Anda jelajahi internet dan mencari tahu lebih banyak tentang efek samping dari perawatan atau pengobatan itu. Dalam hal ini, efek samping Letronat yang saya dapat dari google adalah seperti berikut:

  • Letronat adalah bentuk generik dari letrozole, penghambat aromatase (menurunkan produksi estrogen). Letrozole umumnya dikenal sebagai Femara, digunakan untuk mengobati kanker payudara pada wanita pascamenopause.
  • Letronat atau Femara sering diberikan kepada wanita yang telah mengonsumsi tamoxifen (Nolvadex, Soltamox) selama lima tahun.
  • Beberapa efek samping Letronat yang diketahui dan didokumentasikan adalah:

 pusing, kantuk, kelemahan, perasaan lelah

 hot flashes, kehangatan di wajah atau dada Anda

 Nyeri tulang, nyeri otot atau persendian, nyeri punggung, nyeri dada

 fraktur tulang

 hot flushes – flushing (kehangatan, kemerahan, atau perasaan geli)

 sakit kepala

 peningkatan keringat

 edema atau pembengkakan

 pertambahan berat badan

 sembelit

 peningkatan kadar kolesterol dalam darah

 meningkatkan rasa haus

 kecemasan dan kegugupan.

3. Jika Anda ingin tahu lebih banyak lagi, baca apa yang orang lain katakan tentang mengonsumsi Letronat / Femara atau Tamoxifen. Saya sudah cukup membaca. Itu sebabnya saya bilang pada LAH untuk tidak minum obat itu.

Biarkan saya berbagi dengan Anda apa yang terjadi pada pasien yang datang menjumpai kami.

Kasus 1: Dewi adalah seorang wanita Indonesia berusia 33 tahun yang bekerja di Macau. Setelah diagnosis kanker payudaranya, dia menjalani mastektomi di Hong Kong. Setelah operasi, Dewi menjalani enam siklus kemoterapi dan tiga puluh sesi perawatan radiasi. Semuanya baik-baik saja setelah itu. Tetapi tiga tahun kemudian, Dewi mulai mengalami sakit punggung. Pemindaian PET menunjukkan kankernya telah menyebar secara luas ke tulang-tulangnya.

Dewi diberi resep Xeloda dan Tamoxifen. Setelah minum obat obat itu, Dewi tidak bisa duduk atau berjalan. Dia harus dirawat di rumah sakit dan kemudian harus menggunakan kursi roda. Xeloda / Tamoxifen memberinya masalah, bukan?

Kasus 2: Lenny adalah seorang wanita berusia tiga puluh tujuh tahun dari Surabaya. Dia memiliki benjolan di payudaranya tetapi awalnya menolak untuk menjalani perawatan medis. Dia mengandalkan pengetahuannya yang dangkal bahwa suplemen tertentu akan menyelesaikan masalahnya. Tumor di payudaranya mulai tumbuh lebih besar. Dia tidak punya pilihan selain mencari perawatan medis dan mulai menjalani radioterapi. Saya tidak percaya ini — Lenny menjalani total seratus enam sesi radiasi! Kanker menyebar ke tulangnya dan bagian lain tubuhnya.

Dokter kemudian meresepkan Tamoxifen (cerita yang sama seperti LAH kecuali obat itu disebut Letronat). Dua minggu setelah mengambil Tamoxifen jari-jarinya menjadi sakit dan kaku. Satu bulan meminum Tamoxifen Lenny tidak bisa berjalan. Otot tenggorokannya menjadi kencang dan sempit.

4. Satu soalan penting yang pasien harus tanya adalah, Apa gunanya mengonsumsi Tamoxifen atau Letronat? Bisakah obat jenis ini menyembuhkan Anda? Jawabannya adalah tidak. Untuk menambahkan lebih banyak garam ke luka, dalam kasus-kasus parah seperti LAH, Dewi atau Lenny, obat itu membawa lebih banyak masalah. Saya tidak melihat alasan atau kebijaksanaan dalam mengonsumsi obat tersebut.

Baca ini dengan kritis: Letronat atau Femara sering diberikan kepada wanita yang telah mengonsumsi tamoxifen (Nolvadex, Soltamox) selama lima tahun. Tidak pernah dikatakan ada gunanya bagi mereka yang menderita kanker payudara yang telahpun menyembar secara luas.

Pertanyaan yang Anda mungkin ingin tanyakan adalah: Jika itu “buruk” seperti yang Anda katakan, mengapa dokter meresepkan obat tersebut kepada pasien? Tepat, karena dokter meresepkannya – LAH dan anggota keluarganya percaya bahwa dokter melakukan yang terbaik untuknya!

Baca dengan cermat apa yang ditulis oleh dua dokter dan seorang profesor tentang Tamoxifen.

Kedua dokter ini menyampaikan pesan jelas kepada kita sekalian – Dokter tidak memiliki jalan lain lagi setelah operasi, kemo dan radioterapi. Dan dalam kasus-kasus seperti LAH, Dewi dan Lenny – tidak ada apa lagi yang bisa mereka tawarkan setelah kanker telah menyebar luas. Jika dokter tidak dapat menawarkan kepada Anda hal lain, dokter tidak memiliki pilihan lain selain menawarkan sesuatu kepada Anda (jika tidak, Anda mungkin merasa mereka bukan dokter yang “baik”). Jadi mereka meminta Anda untuk meminum Tamoxifen / Femara atau Letronat. Sayangnya apa yang disebut “peluru terakhir yang terbukti secara ilmiah” ini tidak membawa manfaat apa pun. Sebaliknya “peluru” itu dapat menyebabkan lebih banyak masalah.

Profesor Jane Plant juga seorang pasien kanker payudara. Anda mungkin ingin merenungkan apa yang dia katakan di bawah ini. Mungkin ada pilihan yang lebih baik daripada hanya “secara membabi buta” menelan obat apa pun yang direkomendasikan dokter Anda!

Resensi Buku: “What your doctor may not tell you about Breast Cancer” (Apa yang dokter anda tidak mungkin mengatakan kepada Anda tentang Kanker Payudara)

Para penulis:  Dr John Lee, lulus dari Harvard University dan University of Minnesota Medical School. Dia adalah seorang ahli dalam terapi sulih hormon alami. Dr David Zava, adalah seorang Ph.D.dan Virginia Hopkins,MA adalah seorang penulis medis yang mengkhususkan diri dalam kesehatan perempuan.

Mengapa kedokteran modern berjalan di tempat dalam upayanya untuk mengobati kanker payudara?
Penelitian kami telah menemukan bahwa jawaban atas pertanyaan ini terletak terutama

  • Politik kedokteran
  • Industri Kanker-Payudara.
  • Dan industri yang menciptakan polusi yang berkontribusi terhadap kanker payudara
  • Kekuatan yang akan menjaga agar hal-hal tetap sama –  mereka sangat kuat dan sudah berakar.

Selama beberapa dekade terakhir, pengobatan konvensional hanya melakukan sangat sedikit sekali perbedaan yang berarti dalam hal apa yang terjadi pada Anda jika Anda terserang kanker payudara, dan hampir tidak ada yang dilakukan untuk mengurangi insiden timbulnya penyakit.

Pengobatan Kanker Payudara

  1. Statistik dengan jelas memberitahu kita bahwa obat-obatan konvensional untuk mengobati kanker payudara, seperti tamoxifen, radiasi dan kemoterapi saja tidak berguna untuk jangka panjang.
  2. Terapi kanker payudara saat ini adalah cara melakukan sesuatu yang tidak tahu harus berbuat apa lagi.
  3. Bagaimana kita bisa begitu berani untuk menyatakan bahwa pengobatan medis konvensional untuk kanker payudara tidak bekerja? Hal tersebut didokumentasikan dengan baik. Tampaknya seolah-olah setiap kali kita membuka sebuah jurnal medis, ada sebuah artikel yang menunjukkan kepada kita bahwa pengobatan kanker payudara konvensional tidak efektif, berbahaya, atau bahkan keduanya.
  4. Bukti-dasar kedokteran telah menunjukkan
  • Mammogram tidak benar-benar menyelamatkan hidup.
  • Terapi radiasi tidak benar-benar menyelamatkan hidup.
  • Tamoxifen tidak benar-benar menyelamatkan hidup.
  • Kemoterapi tidak menyelamatkan nyawa.

Jadi apa yang tersisa bagi dokter konvensional untuk mengobati pasien kanker payudara ? Tidak ada, selain operasi pengangkatan tumor yang sama yang sudah mereka lakukan lima puluh tahun yang lalu.
Dokter-dokter di Amerika perlu menghadapai kenyataan pahit bahwa faktanya terapi saat ini tidak bekerja dan harus membuka mata mereka mencari alternatif untuk pencegahan dan pengobatan kanker payudara.

Radioterapi

  • Radiasi melenyapkan tumor kanker payudara dalam persentase kecil pada wanita, tapi pada prosesnya menyebabkan banyak dari mereka meninggal oleh karena penyakit lain.
  • Tidak ada manfaat jangka panjang menggunakan terapi radiasi untuk mengobati kanker payudara, karena meskipun kanker mungkin tidak kambuh di lokasi radiasi, kemungkinan angka keselamatan hidup secara keseluruhan tetap sama atau bahkan sedikit lebih buruk.
  • Dan  meskipun faktanya bahwa radiasi membantu sebagian kecil wanita dan pada akhirnya membunuh banyak dari orang-orang yang terbantu dalam jangka pendek, dan terapi radiasi tetap menjadi standard dalam kedokteran untuk terapi wanita yang dengan kanker payudara.
  • Meskipun begitu … jika Anda memiliki kanker payudara, dokter anda kemungkinan besar akan bersikeras bahwa Anda harus menjalani terapi radiasi daripada mencari alternatif kemungkinan terapi yang lebih aman.
  • Bagaimana ini bisa terjadi ?

Tamoxifen

  • Kami berharap bahwa mereka yang mempromosikan tamoxifen agar ingat untuk menyebutkan berapa banyak wanita yang menderita:
  • Gangguan pembekuan darah.
  • Penurunan penglihatan.
  • Penurunan kualitas hidup (hot flashes (aura panas), berkeringat di malam  hari)
  • Berapa banyak perempuan telah terpaksa melakukan histerektomi karena keagresifan dari tamoxifen yang dapat menyebabkan kanker rahim?
  • Jarang disebutkan bahwa wanita dapat meninggal karena kanker rahim yang disebabkan oleh pemakaian tamoxifen.
  • Tamoxifen telah beredar selama 25 tahun dan efeknya pada pencegahan kanker payudara masih diperdebatkan. Bukankah hal ini memberitahu kita sesuatu.
  • Satu-satunya alasan ini adalah suatu pengobatan yang populer sekarang adalah bahwa tampaknya ahli onkologi berpendapat lebih baik melakukan hal ini daripada tidak melakukan apapun.

Kemoterapi

  • Kemoterapi adalah suatu upaya untuk meracuni tubuh yang hanya mempersingkat kematian dudalam upayanya untuk membunuh sel kanker sebelum seluruh tubuh terbunuh. Dan sebagian besar terapi ini tidak berhasil.
  • Beberapa kemoterapi dapat memperpanjang hidup selama beberapa bulan, tetapi pada umumnya harus membaya harga yang tinggi atas efek sampingnya yang sangat merusak tubuh. Jika seorang wanita beruntung  dapat bertahan dari perlawanannya terhadap kanker, tubuhnya rusak secara permanen, dan mempunyai tingkat kekambuhannya yang tinggi..
  • Penggunaan kemoterapi adalah murni spekulasi, dan kami tidak berpikir itu layak dicoba.  Kadang-kadang hal tersebut berhasil, dan kadang-kadang tidak, dan kadang-kadang itu memperburuk kesehatan.
  • Tampaknya jauh lebih cerdas untuk menemukan terapi alternatif dengan histori yang baik yang dapat membantu tubuh Anda dalam melawan kanker dan meningkatkan taraf kesehatan anda.

Politik Industri Kanker Payudara

  • Mendeteksi kanker dan pengobatan kanker payudara sangat menguntungkan di Amerika Serikat, menghasilkan miliaran dolar per tahun.
  • Mammogram, biopsi, lumpektomi dan mastektomi, dan semua kemoterapi, radiasi dan tamoxifen, menciptakan aliran pendapatan yang substansial untuk rumah sakit, dokter, staf pendukung mereka, mereka yang membuat semua peralatan dan terutama mereka yang membuat obat.
  • Kemana perginya insentif keuangan keluar kerangka ini?

Wanita – Takut dan Bingung

  • Kemanakah wanita dengan kanker payudara seharusnya ? Dia sangat takut dan bingung, tapi dia juga cukup banyak menderita kehancuran akibat oleh roda gigi mesin-mesin medis.
  • Dia akan beringsut ke meja operasi atau ke klinik radiasi bukan karena itu adalah yang terbaik baginya sebagai seorang individu,  dan bukan karena itu adalah apa yang akan benar-benar membantu dan menyembuhkan, tapi karena dia cocok ke dalam slot itu.
  • Itu adalah cara kerja industri mesin kanker payudara, dan tidak ada pilihan lain.
  • Apa yang dipaparkan oleh pengobatan konvensional adalah bahwa dia akan mati jika dia tidak melakukannya.
  • Tapi jika dia menelaah statistik dengan benar, dia akan menyadari bahwa jika dia memiliki non-lokal kanker, yang berarti bahkan jika ia melakukan segala sesuatu yang dokter beritahu dia untuk lakukan masih ada satu dari tiga kemungkinan bahwa dia akan mati, oleh karena kanker atau sebagai akibat dari pengobatan.
  • Jalan menuju kemungkinan sembuh ditaburi dengan pengobatan yang dapat menyebabkan kerusakan permanen. 

Kanker Payudara Metastatik: Dari Putus Asa Menuju Harapan dan dari Harapan Menuju Kesembuhan

Riwayat medis

Pasien ini terdiagnosa kanker payudara yang telah menyebar ke tulang-tulangnya. Dia pergi ke Cina untuk berobat – menggunakan kemoterapi, cryoablation dan radioactive particle seed implant.  Pada tahun 2008, dia pergi ke Cina sebanyak tiga kali, dua kali di tahun 2009 dan satu kali di tahun 2010.  Pengobatan ini tidak lantas membuatnya sembuh. Sejak bulan Februari 2011, dia tidak bisa berjalan. Kaki sebelah kirinya sakit dan bengkak. Dua bulan kemudian dia menjalani operasi untuk kaki sebelah kirinya. Namun sakitnya tidak hilang.

Di akhir bulan September 2011, dia merasakan sakit di sekitar perut dan karenanya dilarikan ke rumah sakit. Keluarga menolak tawaran pengobatan lebih lanjut. Mereka mendengar perihal CA Care lewat seorang pasien lainnya (lihat kasusnya) https://cancercareindonesia.com/2011/09/21/kanker-paru-otak-penyembuhan-yang-tidak-mungkin-bagian-3-renungan-dan-pengakuan-suami/

Tanpa ragu, suami pasien dan menantu perempuannya segera membawanya untuk meminta bantuan kami di hari berikutnya, 9 Oktober 2011.

Dari Putus Asa Menuju Harapan 

Dia terjebak dalam kursi roda. Dia harus diangkat untuk dibawa ke dalam pesawat. Dia tidak bisa berdiri sendiri. Dia tidak bisa tidur karena menderita sakit di kakinya sepanjang hari. Setelah lima hari menjalani e-Therapy dan obat-obatan herbal, kondisinya membaik.  Rasa putus asa berubah menjadi harapan!  Pada tanggal 26 Oktober 2011, menantu perempuannya mengabarkan bahwa pasien (di rumahnya di Jakarta) bisa berjalan sendiri dengan bantuan tongkat berjalan. Pada hari ketika pasien pulang, dia mampu berjalan pelan-pelan ke dalam pesawat – tanpa perlu diangkat ke dalam pesawat seperti hari ketika dia pergi ke Penang. Baca cerita lengkapnya:  https://cancercareindonesia.com/2011/10/23/kanker-payudara-dari-keputusasaan-menuju-harapan-dalam-lima-hari/ 

Dari  Harapan Menuju Kesembuhan

Sekitar dua bulan kemudian, 7 Desember 2011, pasien beserta suami juga menantu perempuannya kembali mengunjungi kami. Kondisi pasien meningkat drastis. Dia bisa berdiri dan berjalan pelan tanpa bantuan apa pun. Dia berbicara dan tersenyum. Sungguh sebuah perbedaan yang besar dari kunjungan sebelumnya ketika semua orang terlihat serius, suram dan penuh antisipasi. Kunjungan kedua kali ini dipenuhi senyuman dan tawa – sangat santai.  Satu-satunya kecemasan yang dimiliki pasien saat ini adalah gangguan di kaki sebelah kanan serta kurangnya tenaga ketika berjalan.

Pembacaan Acugraph menunjukkan bahwa tingkat qi pasien hanya 19% (sangat rendah). Kami memberinya resep Energy Tea. Setelah tiga hari meninum teh herbal ini, tingkat qi meningkat jadi 31% (lihat gambar di bawah).

Pasien juga menjalani e-Therapy. Gangguan di kakinya itu hilang sedikit demi sedikit setelah pengobatan. Saksikan video ini dan lihat proses penyembuhan yang sedang berlangsung.

Catatan:  Pihak keluarga telah mengizinkan penayangan video tanpa harus menutupi wajah pasien.

Diterjemahkan oleh Andreas Kriswanto

Mengapa Pasien Menolak Menjalani Kemoterapi, Bagian 10: Enggak Kemo untuk Kanker Payudara Ibuku – Bijaksana Seorong Putra

Pasien seorang perempuan 55 tahun. Dia memiliki benjolan di payudara kanannya dan menjalani lumpectomy pada Juni 2011. Malangnya lumpectomy itu tidak dilakukan dengan sempurna. Margin resect tidak bersih. Pasien harus menjalani operasi lagi dan kali ini seluruh payudara harus dikeluarkan. Laporan histopatologi menyatakan karsinoma duktal infiltrasi, kelas 2 dengan DCIS kelas tinggi (lebih dari 25%) bersama 1/9 kelenjar getah bening ada metastasis. Tumornya: ER +, PR + dan C-ERB-B2: 2 +.

Setelah operasi, pasien disarankan kemoterapi dan radioterapi. Anak laki-laki memujuk ibu supaya enggak perawatan medis lebih lanjut. Pasien berjumpa kami dan diresepkan Kapsul A, Breast M dan C-Tea.

Pada tanggal 18 Oktober 2011, saya berkesempatan berbicara dengan pasien dan putranya.

 

 

Kamu disarankan kemoterapi? Pasien: Ya, tapi aku tidak ingin melakukannya.

Mengapa? P: (Melihat ke arah putranya) Dia tidak ingin aku melakukannya.

Ha, ha, anak kamu enggak melakukannya, bukan kau tidak ingin melakukannya.

Apakah  umurmu sekarang? P: Lima puluh lima tahun.

Anak: Saya tidak yakin dengan apa yang mereka lakukan pada ibuku. Dia pergi untuk suatu operasi dan setelah itu dokter menyarankan kemo. Sebelum operasi, saya tanya dokter, “Kenapa ibu saya menderita kanker payudara?” Jawab dokter, “Tak ada sebab. Jika itu terjadi, itu terjadi .”

Saya tidak berpikir ini adalah jawaban yang berlogik karena penyakit apapun harus ada penyebab. Dokter ini adalah seorang pakar – begitu terkenal namun itulah jawaban yang berikan padaku – jika kanker mau menyerang kau, ia menyerang kau.

Bagaimanapun,  setelah mastektomi, ibu saya dirujuk ke alhi onkologi. Dia disarankan menjalani enam kali kemoterapi danlimabelas sesi radioterapi. Dokter berkata, “Kau pergi dan melakukan ini dahulu. Kemudian saya akan beritahu kamu apa yang harus dilakukan kemudian. ”

Saya bertanya kepada dokter itu, “Ibu saya baru saja dioperasi. Bolehkah dokter beri konfirmasi jika masih ada sel-sel kanker dalam dirinya?” Jawabannya, “Tidak perlu bertanya. Kau harus pergi melakukan perawatan ini dahulu.” Saya bertanya kembali, “Jika tidak ada sel kanker lagi dalam dirinya, mengapa harus ibuku melakukan kemoterapi?” Jawab dokter,” Pasien di luar negeri melakukan perawatan. Kita harus mengikuti apa yang mereka lakukan. Jadi ibu kamu harus melakukan perawatan yang sama.” (Anak menggelengkan kepala). Saya tidak pikir kita harus ikuti saja apa yang dilakukan oleh orang lain. Ini tidak logis. Sebagai dokter, mereka tidak harus mengatakan itu –  apa orang lain buat, kita juga harus mengikuti. Sebenarnya, kita semua berbeda-beda.

Aku lagi bertanya dokter, “Jika dia melakukan kemo tiga siklus saja dan dia sudah sembuh – haruskah kita teruskan kemoterapi tiga kali lagi?” Jawabnya, “Tidak, tidak. Dia harus menyelesaikan keenam-enam siklus. Kita harus ikuti protokol. ”

Menurut pikiran saya, ini tidak betul. Saya lagi bertanya dokter, “Setelah kemoterapi dan radiasi, apakah kita masih harus melakukan perawatan lain.” Dokter menjawab, “Ya, ya, tapi kita jangan membahas langkah yang belum datang lagi.” Aku balas dokter, “Apakah dia perlu terus menerima pengobatan, satu demi satu sampai dia hampir masuk keranda sebelum pengobatan berakhir? ”

Dengan jawaban seperti itu, aku berkata kepada ibuku cara media tampaknya tidak betul.

Teman Saya Meninggal Setelah Kemo untuk Kanker Hatinya

Aku punya teman – rakan bisnis saya. Dia sakit perut. Pemeriksaan menunjukkan tumor hati. Dokter sarankan operasi untuk mengeluarkan tumour. Dia mencari pendapat kedua.  Dokter kedua mengatakan operasi  ada sangat banyak risiko. Dia mungkin mati. Dia tidak harus beroperasi. Teman aku mencari pendapat dokter ketiga. Dokter ini mengatakan dia harus menjalani kemoterapi. Teman saya bertanya dokter ini, “Tetapi dokter kau hanya lihat scan. Kamu tidak buat biopsy. ” Dokter jawab, “Jika saya buat biopsi, aku mungkin memecahkah kapsul hati.”

Akhirnya keluarga teman saya buat keputusan untuk menjalani kemoterapi. Tapi tidak faham tentang kemoterapi langsung. Setelah kemo, perut teman saya mengembung. Dia tidak bisa makan atau minum. Dia meninggal setelah beberapa bulan.

Saya melihat dengan mata saya sendiri apa yang terjadi pada teman saya. Jadi aku berkata kepada ibuku, “Kau tidak tahu apa itu kemo dan kamu tidak tahu tentang efek sampingnya yang dokter memberitahu kami. Mari kita cari jalan lain. “

Kemoterapi dan Radiasi Tidak Mungkin Menyembuhkan

Mereka meminta kamu pergi buat kemoterapi dan radiasi – apakah kamu tanya samada ini akan menyembuhkan ibumu? Anak: Tidak akan menyembuhkan. Mereka mengatakan kanker boleh kembuh kembali. Mereka tidak bisa menjamin apa pun.

Ya, benar – tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jaminan apa pun. Tapi aku agak bingung. Hanya karena orang di dunia Barat lakukan ini, kita juga harus mengikuti – kita harus buat yang sama.

Pasien Menghargai Pendapat Dokter Lebih Dari Pendapat Anak Mereka

Ayah dan ibuku tidak berpelajaran tinggi. Mereka hanya bergantung pada dokter untuk memberitahu mereka apa yang harus dilakukan. Sebagai anak mereka, mereka tidak mau dengar pendapat saya. Mereka lebih percayakan dokter.Adaperkara yang saya mengerti, tapi orang tua tidak mengerti walaupun saya beritahu mereka. Kadang-kadang kerabat datang – mereka juga memberikan pendapat mereka. Ini lagi mempersulitkan. Paman, bibi, tetangga datang dan meyebabkan lebih masalah kepada kami. Sampai sekarang, masih ada orang datang dan meminta saya hantarkan ibuku untuk dikemo. Mereka mengatakan bahwa orang ini atau orang itu telah sembuh sesudah dikemoterapi. Tapi kita semua tidaklah sama.

Saya telah membaca – ada orang yang meninggal setelah kemoterapi dan ada orang-orang yang sembuh dengan kemoterapi. Saya telah membaca semua ini dan memberitahu orang tua saya tentang ini. Mereka menjawab, “Mengapa pergi dan membaca semua ini.” Mereka sendiri tidak ada yakin.

Oh, mereka sendiri tidak ingin belajar? Mereka hanya mau dengar “hal baik” dan hanya pikir mereka bisa menang? Anak: Karena mereka hanya percaya apa yang dokter katakan pada mereka. Sebenarnya ramai orang tua adalah seperti ini.

Semua Ini adalah Tentang Uang Saja

Aku telah periksa semua informasi yang saya temui, apakah informasi itu benar atau salah. Itu semua karena uang. Seperti dalam kasus teman saya, itu semua tentang uang ketika mereka membincang kasusnya.

Website CA Care

Anda mengunjungi website kami dan menyaksikan video pasien menceritakan kisah mereka di Youtube. Bolehkah saya tanya kamu satu soalan – apakah kamu percaya apa yang mereka katakan? Anak: Aku tidak waham – informasi di sana lebih baik dari apa yang diberikan dokter. Ini adalah kisah benar orang-orang. Ya, saya juga ingin mengetahui apakah informasi tersebut benar atau salah. Saya tidak persoal apa yang dikatakan itu.

Biarkan aku mau tanya kamu – berapa yakinkah kamu bahwa video-video itu bukan yang palsu – cerita palsu dengan pelakun menyamar sebagai pasien? Seorang telah menulis e-mail kepada saya. Dia tanya berapa banyak saya bayar setiap pasien untuk berbicara atau bertindak seperti itu? Anak: Itu tidak terlintas pikiran saya sama sekali. Tidak, tidak, saya tidak ada perasaan seperti itu sama sekali. Dokter juga mengatakan yang sama – tidak ada jaminan tentang apa pun. Kamu buat kemo atau apa pun – tidak ada jaminan tapi uang harus datang lebih dahulu. Tapi tentang efek samping – itu bukan tanggung jawab mereka.

Nasihat Kepada Pasien

(Beralih ke pasien) Apakah hati mu berkata Bibi? P: Saya tidak pernah berpikir tentang ini sama sekali.

Teman atau kerabat mungkin meminta kamu buat kemo – apakah kamu bingung? P: Tidak (menggelengkan kepala).

Tidak seorang yang bisa membantu kamu kecuali kamu sendiri. Tolong jaga diri sendiri. Ini adalah penyakit kamu. Kami hanya dapat membimbing kamu setakat apa yang boleh dilakukan tetapi kamu harus bertanggung jawab bagi diri sendiri. Apa yang saya katakan mungkin berbeda dari apa yang dokter mu memberitahu kamu. Terserahlah kepada kamu untuk percaya atau tidak. Saya menyarankan kamu untuk menjaga diet kamu. Mereka kata kamu bisa makan apapun yang kamu suka. Selain itu saya menyarankan kamu berolahraga, mengambil herbal dan bahagia – jangan berpikir begitu banyak.

 

Kanker Payudara: Herbal dan e-Terapi Pulihkan Kesejahteraan Nya Setelah 106 kali Perawatan Radiasi Bagian 7: Perjalanan Saya Yang Kurang Pengetahuan

Penghargaan: Izin untuk menggunakan video ini tanpa harus menyembunyikan identitas dirinya diberikan oleh pasien.

Ini adalah kisah pahit-manis Le, seorang perempuan 37 tahun dariIndonesia. Dia datang mengunjungi kami pada tanggal 14 Oktober 2011 setelah didiagnosis dengan kanker payudara yang mungkin telah menyebar ke paru-parunya. Dia datang dengan keluhan sakit nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di sendi-sendi. Dia tidak bisa menekuk jari-jarinya. Dia tidak bisa tidur nyenyak dan batuk.

1. Saya menemukan benjolan kecil di payudara saya pada tahun 2003. Saya mengabaikannya. Pada tahun 2009, benjolan bertambah besar dan saya saya boleh merasa itu waktu terbaring. Saya jumpa seorang dokter yang meyarankan saya buat biopsi. Saya menolak. Saya enggak kemoterapi atau radiasi.

2. Mengapa Anda pergi jumpa dokter itu? Le: Hanya untuk tau adakah benjolan itu kanker atau tidak!

3. Dokter memastikan itu kanker. Saya menolak perawatan medis dan memilih terapi alternatif dan minum suplemen gantinya.

4. Saya minum “sesuatu.” Saya tidak tau apa ramuan itu. Ini berharga enam juta rupiah per bulan. Tumor tumbuh lebih besar.

5. Setelah minum ramuan itu, tumor bertambah lebih besar – tidakkah Anda menyadari bahwa Anda telah ikuti jalan yang salah? Le: Tidak, saya tidak pernah memikirkan itu!

6. Saya tidak tahu harus ke mana lagi. Saya membeli semua jenis produk untuk mencuba. Salah satu suplemen yang saya minum selama satu tahun, berharga 700,00 rupiah se hari – setiap meneguk suplemen ini biaya 700.000 rupiah.

7.Tumor tumbuh bertambah besar, dan akhirnya pecah.

8. Saya tidak punya pilihan lagi.  Saya pun setuju buat radioterapi.

9. Setelah radiasi, tumor mengecil. Tapi empat bulan kemudian tumor yang lain muncul di tulang selangka. Ia bermula sebagai benjolan kecil dan kian membesar sampai jadi benjolan yang sangat besar di leher saya.

10. Mengapa Anda tunggu sampai bejolan tumbuh begitu besar sebelum pergi radiasi sekali lagi? Le: Saya berharap benjolan akan mengecil jika saya minum suplemen.

11. Benjolan bertambah besar semasa Anda minum suplemen. Apa sebab Anda terus makan suplemen itu? Le: Saya terus minum suplemen itu dan tunggu tetapi benjolan kian membesar.

12. Jadi saya pergi  menjalani  lebih radiasi (totalnya saya diberi 106 perawatan radiasi). Kemudian mereka meradiasikan indung telur saya enam kali.

13. Sebelum semua perawatan radiasi saya selesai, satu lagi benjolan muncul di perut saya.

14. Waktu menjalani radioterapi, saya minum tamoxifen. Sepuluh hari setelah tamoxifen pergelangan tangan saya membengkak dan saya tidak bisa menekuk jari saya. Setelah satu bulan minum tamoxifen, saya tidak bisa berjalan.

15. Saya terpaksa guna kerusi roda dan suami saya medukung saya.

16. Teman baik saya dariMakassarmenelefon. Dia bilang tubuh saya tidak bisa tahan lebih radiasi lagi. Saya harus berhenti rawatan radiasi. Tapi di mana saya harus pergi? Saya telah mencoba semua alternatif dan gagal. Teman saya kata kepada saya, “Pergilah ke Chris Teo. Anda dapat mencarinya di internet. ”

17. Saya tanya Anda soalan ini – jika Anda di beri peluang memulai dari awal lagi, dari 2009 ketika Anda terasa benjolan di payudara mu – apa yang akan Anda lakukan? Le: Saya akan datang berjumpa kamu (CA Care). Saya tidak ingin perawatan medis.

18. Bila Anda jumpa benjolan kecil itu, Anda pergi jumpa dokter, tapi mengapa Anda tidak mau di menolong kamu? Le: Saya pergi jumpa seorang “sinseh”. Dia kata bahwa saya  menderita penyakit akibat dosa. Sinseh”apa itu?

19. Saya ingin tau ini, tau kah Anda bahwa jika Anda ada benjolan kanker di payudara mu, pilihan terbaik adalah untuk bejolan itu diambil oleh dokter? Le: Jika saya bertemu dokter kamu  waktu itu, kemungkinan besar saya akan ikut saran kamu dan keluarkan benjolan itu. Karena setelah itu saya dapat minum herbal, oke – itu, saya bersetuju. Tapi saya enggak kemoterapi atau radioterapi setelah operasi. Sayangnya, saya tidak kenal kamu pada masa awal itu.

Dengan kesedihan kami diberitahu bahwa Le harus diopname setelah dia kembali ke Surabaya karena kanker sudah menyebar ke hatinya. Dia meninggal pada 6 Januari 2012.

Baca cerita Le yang lengkap:

Bagian 1: Kesejahteraan  Pulih Setelah Dua Hari Minum Herbal dan e-Terapi

Bagian 2: Terapi Alternatif – Pengobatan Suplemen Dua puluh-Satu-Juta-Rupiah Se Bulan

Bagian 3: Mengapa Saya Menolak Kemoterapi / Pengobatan Medis

Bagian 4: Radiasi Membantu Tapi Tidak Menyembuhkan, Tamoxifen Bawa Bencana.

Bagian 5: Mimpi Saya dan Pengalaman Dekat Maut

Bagian 6: Penyembuhan Empat Hari Saya Setelah Perawatan di CA Care

Bagian 7: Perjalanan Saya Yang Kurang Pengetahuan

Kanker Payudara: Herbal dan e-Terapi Pulihkan Kesejahteraan Nya Setelah 106 kali Perawatan Radiasi Bagian 6: Penyembuhan Empat Hari Saya Setelah Perawatan di CA Care

Penghargaan: Izin untuk menggunakan video ini tanpa harus menyembunyikan identitas dirinya diberikan oleh pasien.

Ini adalah kisah pahit-manis Le, seorang perempuan 37 tahun dariIndonesia. Dia datang mengunjungi kami pada tanggal 14 Oktober 2011 setelah didiagnosis dengan kanker payudara yang mungkin telah menyebar ke paru-parunya. Dia datang dengan keluhan sakit nyeri di seluruh tubuhnya, terutama di sendi-sendi. Dia tidak bisa menekuk jari-jarinya. Dia tidak bisa tidur nyenyak dan batuk.

Setelah empat hari di sini, bagaimana Anda rasa sekarang? Le: Sehat. Saya rasa lebih baik.

Bila Anda datang pada Jumat lalu (empat hari lalu), dibandingkan dengan hari ini, adakah Anda rasa lebih baik? Le: Ya. Saya bisa berjalan lebih cepat sekarang. Saya lebih banyak bertenaga. Seperti  sebelum saya menderita kanker. Waktu saya datang ke sini saya lelah dan lesu. Tapi kemarin saya bisa berjalan kaki dari apartmen ke pasar. Suami saya mengambil jalan salah waktu kami ke pasar. Kami berjalan ke sinisana, merata-rata. Tapi saaya baik-baik saja. Saya tidak punya masalah berjalan. Dan saya juga berjalan cepat. Sebelum ini, saya menyeret kakiku ketika berjalan dan saya membongkok.

Bagaimana dengan tidur Anda? Sebelum saya datang ke sini, saya bangun lima kali semalam untuk buang air kecil. Saya terbatuk-batuk. Jadi tidur saya tidak nyenyak dan terganggu. Saya sering mimpi orang-orang yang saya cintai yang telah meninggal. Mereka datang untuk mengundang saya “pulang”. Setelah saya mengambil ramuan herbal dan menjalani e-Terapi,  saya bisa tidur nyenyak. Aku tidak punya mimpi lagi.

Dalam hal gerakan tubuh, adakah Anda lebih tangkas? Saya sedar pada hari pertama Anda di sini, anda sulit bergerak tangan, dll Le: Saya sudah seperti normal sekarang. Saya boleh buat semua ini  (menunjukkan semua tindakan):

1. Angkat lengan saya tinggi dan lurus ke atas.

2. Meletakkan tangan saya di belakang kepala saya dan boleh ikat rambutku. Sebelum ini rambut saya panjang. Putriku ikat rambut saya.

3. Saya bisa memegang sapu dan menyapu lantai. Saya bisa mengayunkan lengan saya.

4. Saya bisa membuat tempat tidur, angkat dan lipat selimut.

5. Saya bisa membongkok dan telapak tanganku sentuh ke lantai.

6. Saya bisa menekuk pergelangan tangan saya.

7. Saya bisa melepaskan butang, mengeluarkan pakaian dan memakai bra dengan sendiri.

8. Saya dapat melipat kaki saya dan memotong kuku.

9. Aku bisa merangkak ke tempat tidur.

10. Aku bisa melipat tangan dan menggunakan jari kelingking saya untuk membersihkan telinga saya.

11. Saya bisa bertepuk tangan – tidak ada rasa sakit.

12. Saya bisa gunakan tangan menampar nyamuk – tidak ada rasa sakit. Sebelum ini, sangat sakit untuk menyentuh kulit.

13. Saya bisa menjentikkan jari dan membuat bunyi klik.

14. Saya dapat memegang benda dan menekuk jari saya.

15. Ketika saya menyedut nafas panjang, dada saya tidak sesak lagi.

16. Pagi ini saya berjalan lebih cepat daripada suami saya.

Sekarang nampaknya gerakan dan kualitas hidup Anda sudah kembali seperti biasa. Adakah Anda rasa bahagia? Le: Ya. Memang inilah saya harapankan. Ketika  saya tak mampu berjalan saya beritahu pendeta saya bahwa saya ingin mati. Saya telah kehilangan semua harapan. Ini karena:

• Gerakan begitu sulit.
• Saya tidak bisa menggaruk punggung saya ketika gatal. Suami saya membantu saya mengaruk.
• Saya tidak bisa tombol celana saya – suami saya harus buat ini untuk saya.

Sekarang lihatlah. Saya bisa memutar tubuh saya ke kanan dan ke kiri tanpa rasa sakit. Saya bisa berdiri atas satu kaki dan saya bisa makan nasi dengan tangan.

Sekarang Anda masih mau mati? Le: Tidak, tidak lagi.

Saya benar-benar tidak tahu mengapa says melakukan apa yang saya lakukan pada hari Jumat itu (empat hari yang lalu). Biasanya saya hanya akan meminta pasien minum herbal dahulu untuk beberapa minggu sebelum disarankan e-Terapi. Namun, malam itu saya rasa kamu mengalami banyak kesulitan, maka kami buat keputusan memulakan e-Terapi dengan segera. Mungkin itu Tuhan yang membantu kamu!

Oke, empat hari menjalani terapi CA Care. Apakah kamu rasa baik? Le: Baik sekali.

Apakah kamy yakin sekarang? Le:  Yakin sekali. Ketika saya datang ke sini, saya tahu bahwa ini adalah jawaban Tuhan atas doa saya.

Apabila Anda pulang ke Surabaya, teruskan minum herbal seperti yang diajar. Anda harus jaga diet Anda seperti yang telah diajarkan. Berolehraga. Jangan berpikir terlalu banyak – rileks dan santai. Jangan terlalu banyak stres sendiri. Yang penting,  coba hidup normal. Le: Penampilan wajah saya kelihatan bagus sekarang. Lebih “berseri”.

Oke, saya sangat senang dan berhati-hati bila Anda pulang. Ingat apa yang kami telah katakan. Jangan lakukan apa yang salah. Dan penting sekali, ingatlah bahwa penyembuhan mengambil masa. Bersabarlah.

Baca cerita Le yang lengkap:

Bagian 1: Kesejahteraan  Pulih Setelah Dua Hari Minum Herbal dan e-Terapi

Bagian 2: Terapi Alternatif – Pengobatan Suplemen Dua puluh-Satu-Juta-Rupiah Se Bulan

Bagian 3: Mengapa Saya Menolak Kemoterapi / Pengobatan Medis

Bagian 4: Radiasi Membantu Tapi Tidak Menyembuhkan, Tamoxifen Bawa Bencana.

Bagian 5: Mimpi Saya dan Pengalaman Dekat Maut

Bagian 6: Penyembuhan Empat Hari Saya Setelah Perawatan di CA Care

Bagian 7: Perjalanan Saya Yang Kurang Pengetahuan