Kanker Rahim-Ovarium-Paru, Bagian 4: Kesehatan Membaik Setelah e-Therapy

Catatan: Pihak keluarga mengizinkan penggunaan video dan gambar tanpa harus menutupi wajah pasien

20 Desember 2011

  • Dia tidak bisa buang air kecil. Kantung kemih terasa penuh dan menggelembung.  Kami menyarankannya untuk mencari bantuan dokter jika masalah tetap berlanjut.
  • Kakinya lemas.
  • Setelah program Detox pertama, dia merasa lebih baik.

Chris: Apa yang dimaksud lebih baik?

Pasien: Jari-jari saya tidak kaku lagi – sebelumnya kaku.  Sekarang bisa menggerakan kaki. Sebelumnya tidak bisa.

(Pasien berdiri dengan bantuan puteranya – dia tidak bisa melakukan ini sebelumnya).

21 Desember 2011

  • Dia bisa buar air kecil – masalah terselesaikan.
  • Tenaga dan gerakan kakinya membaik. 

Bagaimana nafas Anda?

Pasien: Enak. Lebih enak.

Ibu datang kemarin. Bandingkan kondisinya sebelum dan sesudah melakukan terapi – merasa lebih enak?

Pasien: Ya, lebih enak. Saya bisa berdiri. Berjalan. Terasa lebih sadar.

Anak perempuan: Dia mulai buang air besar lagi.

Perlahan-lahan. Saya yakin beberapa hari lagi akan lebih baik. Sekarang sudah lebih baik. Silahkan pulang dan belajar merawat diri sendiri. Jangan lakukan hal yang tidak benar

Anak perempuan: Mama, baru satu minggu (di CA Care Therapy).

Saya tidak percaya kalau baru saja seminggu yang lalu dia di rumah sakit dibantu oksigen – dan sekarang di sini. 

22 Desember 2011

Pasien sudah menjalani tiga sesi e-Therapy.

  • Malam tadi tidak bisa tidur karena harus berak dan buang air kecil (Catat: pada hari pertama sebelum e-Therapy dia tidak bisa buang air kecil).
  • Kemarin dia enam kali buang air besar di siang hari dan empat kali di malam hari.
  • Karena seringnya buang air besar dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia juga merasa lemas.
  • Perutnya terasa tidak nyaman – dengan sakit yang bergejolak.
  • Terkadang dia batuk disertai dahak.
  • Kakinya masih lemas. 

23 Desember 2011

  • Perutnya masih kesakitan.
  • Jumlah berak berkurang jadi enam kali.
  • Batuknya berkurang.
  • Dia masih merasa lemas di kakinya. 

24 Desember 2011

RJ beserta keluarga siap pulang. Di pagi hari kami mengunjungi mereka di apartemennya.

  • Pasien baik-baik saja. Dia tidak lagi merasa sakit – sakit di perutnya sudah hilang.
  • Sama sekali tidak ada kesulitan bernafas dan dia bisa tidur dengan datar.
  • Masalah buang air besarnya terselesaikan.
  • Kesulitan tidur.
  • Batuk masih ada.

Anak perempuan: Sudah 2 hari bisa berjalan dan makan di meja makan sebelumnya makan di tempat tidur. Selera makan sudah bagus. Tadi malam gak bisa tidur. Sekarang masih batuk-batuk. Tetapi sudah berkurang banyak sekali dibanding ketika masih di rumah sakit.

Kanker Rahim-Ovarium-Paru, Bagian 3: Mukjizat Terjadi: Wawancara Bersama Anak Perempuan dan Adik Pasien

Catatan: Pihak keluarga telah mengizinkan penggunaan video dan gambar tanpa harus menutupi wajah pasien.

 

Pokok pembicaraan kami

  1. Dua hari sekembalinya dari kemoterapi di Singapura, RJ mulai batuk-batuk dan demam. Dia lemas. Dia dirawat di Methodist Hospital di Medan. Saat itu RJ masih bisa berjalan sendiri.
  2. Setelahnya hemoglobin dan trombositnya menurun dan dia menjalani transfusi darah. Delapan bungkus darah diberikan kepadanya.
  3. Setelah tiga atau empat hari berada di rumah sakit, dia tidak bisa berjalan. Dia lemas.
  4. Tiba-tiba nafasnya menjadi sesak. X-ray menunjukkan adanya cairan dalam paru-parunya. Dokter menyedot cairan dengan menggunakan suntikan. Penyedotan pertama terdari dari 19 kali sedotan dengan masing-masing sedotan 60 ml. X-ray menunjukkan masih terdapatnya cairan di paru.
  5. Penyedotan kedua dilakukan – terdiri dari 12 kali sedotan dengan masing-masing sedotan 60 ml.
  6. Bahkan setelah penyedotan pleural, RJ masih harus menggunakan bantuan oksigen untuk bernafas.
  7. Sebelum penyedotan pleural, RJ sulit bernafas dan menggunakan bantuan oksigen namun saat itu nafasnya masih baik. Setelah penyedotan pleural pertama – nafasnya masih sama. Namun setelah penyedotan yang kedua, nafasnya menjadi sesak dan megap-megap.
  8. Tanggal 15 Desember 2011, puterinya mulai memberi minum obat herbal CA Care. Capsule A, Lung 1 + Lung Phlegm dan Lung 2 + Lung Phlegm.
  9. Sejak 15 Desember 2011 dan setelahnya, RJ hanya meminum obat herbal CA Care. Puterinya menyembunyikan obat-obatan yang diberikan dokter.  Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan dokter atau suster di rumah sakit.
  10. Setelah meminum obat, RJ mulai mengeluarkan banyak dahak. Selain itu dia sering buang air besar dan mengeluarkan banyak kotoran. Ada bercak darah sedikit saat buang air besar yang pertama kali. Setelah itu normal – tidak ada darah.
  11. Tanggal 17 Desember (tiga hari setelah meminum herbal) RJ bisa bernafas dengan normal. Tidak perlu lagi menggunakan bantuan oksigen. Dia bisa mengenali orang-orang sekitarnya.  Sebelumnya dia tidak bisa mengenali anggota keluarga di sekitarnya.
  12. Meski dengan bantuan oksigen, RL masih sulit bernafas.
  13. Setelah meminum Cough tea no.5  selama dua hari, RJ tidak batuk-batuk lagi. Sebelumnya batuknya sangat parah. Setelah batuknya berhenti nafasnya kembali normal.
  14. X-ray menunjukkan paru-parunya sudah membaik.
  15. Setelah obat herbal mulai membantu RJ, anak perempuannya secara perlahan mulai mengurangi aliran oksigen kedalam selang yang masih terpasang dihidung. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan dokter atau suster. Tetapi ahirnya dokter dan perawat tahu , lalu bertanya kenapa aliran oksigen nya ditutup ?  Anaknya berkata kepada dokternya : saya mau mama saya berlatih tanpa oksigen , diam – diam saja yah …biar nanti saya yang bantu mengontrolnya … saya tidak mau mama saya ketergantungan dengan oksigen . Dokternya berkata : Wah kamu jadi dokter sendiri. Tetapi setelah itu ternyata kondisinya membaik walau tanpa oksigen.
  16. Tanggal 17 Desember 2011, dokter meminta keluarga untuk pulang dan berdoa. Kanker sudah menyebar ke sekujur tubuh. Anak perempuannya berkata, “Saat itu kondisi mama benar-benar buruk. Dia sulit bernafas, matanya menggulung ke atas dan tidak mengenali kami. Pandangan matanya kosong dan kondisi kesadarannya menurun , kalau ditanya pelan-pelan pun dia selalu terkejut lalu menjawab dengan jawaban pendek saja. Semua anggota keluarga sudah berkumpul ,yang tinggal jauh pun dari Papua pulang .. mereka hampir putus asa . Saya korek-korek mulutnya untuk ngeluarin dahak dan mama menggigit saya.”
  17.  Semua anggota keluarga dari berbagai penjuru di Indonesia terbang mengunjungi RJ.
  18. Tanggal 18 Desember 2011, keadaan membaik. Aliran oksigen dari tabung dihentikan sama sekali. RJ tidak memerlukan bantuan oksigen lagi. Dokter masuk dan bilang, “Sebuah mukjizat. Sekarang kondisinya sudah baik . Anda bisa segera pergi ke Penang.”
  19. RJ diizinkan keluar dari rumah sakit tanggal 19 Desember 2011, dan pagi hari berikutnya keluar dari rumah sakit  lalu dia beserta keluarganya terbang ke Penang.

Kami bertanya kepada anak perempuannya, “Apa mama benar-benar diuntungkan karena obat herbal itu?”

Dia menjawab, “Sekarang kondisi mama benar-benar beda. Dia sangat membaik. Dia sudah kuat dan bisa berjalan sendiri. Bahkan di hari pertama kami datang kemari, 20 Desember dan sekarang – dua hari kemudian, banyak sekali peningkatan. Satu-satunya masalah yang dia punya sekarang adalah sakit di perutnya.” (Catatan: sakit di perut ini hilang setelah e-Therapy!).

 

Kanker Rahim-Ovarium-Paru, Bagian 2: Harapan: Setelah Tiga Hari Minum Obat Herbal Ketika Dirawat di Rumah Sakit

Benar-benar sangat mengejutkan ketika pagi hari tanggal 20 Desember 2011, pasien, ditemani temannya seorang dokter dan beberapa anggota keluarga, datang ke CA Care. Pasien diperkenankan meninggalkan rumah sakit sehari sebelumnya dan pagi itu setelah keluar dari rumah sakit mereka lengsung terbang ke Penang.

Simak sendiri cerita menakjubkan ini.

 

Catatan: Pihak keluarga telah mengizinkan penggunaan video dan gambar tanpa harus menutupi wajah pasien.

 

Chris: Oo, kamu yang datang menemui saya pada minggu kemarin – waktu itu ibumu masih dirawat di Methodist Hospital di Medan?

Anak perempuan: Ya, ya. Ibu dirawat sekitar 12 hari dari tgl.8 sampai tgl.20 hari ini. Setelah boleh keluar dari rumah sakit pagi ini kami langsung kemari .

Wah, ini banyak orang?

Anak: Ini keluarga semua.Anak2 ada 3 orang , ini suami nya , itu adik dan keponakan , yang ini sahabat baik  dan juga seorang dokter .

Kamu datang tanggal 14 Desember 2011. Saya beri kamu obat. Apa mama meminumnya?

Anak: Ya. Sampai di Indonesia langsung saya kasih minum. Sejak tanggal 15, 16, 17, 18, 19 sudah lima hari.

(Berbalik ke pasien) Setelah minum obat selama 5 hari itu, bagaimana rasanya?

Pasien:  Enak. Ya engga pake oksigen lagi.

Adik: Sebelum minum obat, pake oksigen dan nafas sesak. Setelah 3 hari minum obat sudah tidak sesak dan oksigen dilepas.

Anak: Saya tidak kasih tahu dokter. Setiap dokter kasih pil untuk mama minum saya tidak kasihkan. Saya gantikan dengan obat-obat yang dokter Chris kasih. Tapi untuk yang suntik-suntik saya tidak berani.

Adik: Dokter terkejut. Ada mukjizat katanya mama bisa sembuh .

Anak: Setelah minum obat mama tidak pakai oksigen. Paru-paru sudah tidak ada air, sudah bersih. Sebelumnya nafasnya satu-satu seperti ikan megap-megap.  Waktu awal minum obat itu bisa tiga sampai empat kali buang air besar.

Ya, bagus. Itu yang saya mau, saya buang kotorannya.

Anak: Kami khawatir takut ada apa-apa, apa obatnya gak cocok. Saya bilang untuk terus minum, mungkin kotorannya sedang dibuang.

(Berbalik ke pasien) Ibu, waktu minum obat ada masalah?

Anak: Pahit!

Pasien: Minumnya gak susah.

Setelah minum obat beberapa hari, apa lebih susah?

Pasien: Tidak, lebih enak bukan lebih susah.

Jadi selama di rumah sakit pakai teh saya?

Anak: Ya, saya masak di rumah dan saya antar ke rumah sakit dan saya kasih minum. Pada waktu suster pergi , cepat-cepat saya kasih minum obat herbal dari dokter Chris.

Ibu, gimana rasanya sekarang

Pasien: Pikirannya serasa kosong … blank . Sulit pipis. Itu masalah utama saya. Kantung kemih saya terasa penuh.

Anak: Kakinya lemas.

Tapi setelah minum obat, apakah masih nampak ada masalah sekarang?

Pasien: Tidak ada.

Kanker Rahim-Paru, Bagian 1: Hampir Kehilangan Nyawa Setelah Menghabiskan Dua Miliar Rupiah untuk Kemoterapi di Singapura

Sesaat setelah menjalani kemoterapi di Singapura bulan Desember 2011, perjalanannya berakhir di rumah sakit di Medan. Inikah tujuan terakhir setelah petualangan panjang – satu setengah tahun kemo dan dua miliar rupiah dana yang dikucurkan? Pada tanggal 17 Desember 2011, semua anggota keluarga dari berbagai kota di Indonesia datang mengunjunginya. Nafasnya megap-megap dan dia tidak bisa mengenali orang di sekitarnya – matanya menggulung ke atas dan tidak merespons. Dokter hanya meminta keluarga untuk berdoa.

Pada tanggal 18 Desember 2011, sebuah mukjizat terjadi – tiga hari setelah minum ramuan herbal Lung 1 dan Lung 2 ditambah Lung Phlegm. Dia dapat bernafas normal dan tidak memerlukan bantuan oksigen lagi. Tanggal 20 Desember 2011 dia beserta keluarganya terbang ke CA Care Penang. Informasi lebih jelas, baca Bagian 2 & 3 cerita ini.

Kutipan: Menurut Perusahaan Besar Obat-Obatan Yang Mengendalikan Industri Obat Kanker, kematian akibat kemoterapi dapat diterima asalkan protokol kemoterapi standar telah dipenuhi.

 ~ Dr James Forsythe, The Compassionate Oncologisthal.  91.

——————————————————————————————————————–

RJ adalah seorang wanita berusia 55 tahun. Dia mantan juara tenis. Suatu waktu di bulan April 2010 dia menemani puterinya ke Penang. Puterinya datang untuk memeriksakan kandungannya. RJ ahirnya ikut menjalani pemeriksaan juga untuk dirinya.  Dari hasil pemeriksaan tersebut, ahli ginekologi menyarankan kepada RJ untuk mengangkat tumor sebesar 8 cm yang berada di dalam rahimnya. Jadi, RJ menjalani prosedur THBSO (total abdominal hysterectomy-bilateral salpingo-oophorectomy). Yang dilakukan saat itu adalah upaya untuk membuang tumor tersebut tanpa memperhatikan apakah itu kanker atau bukan  Kemudian hasilnya diperiksakan di Lab untuk ditetliti lebih lanjut.

Setelah operasi disarankan untuk CT Scan dan hasilnya dinyatakan bersih, tetapi untuk memastikan kemudian RJ disarankan lagi untuk PET Scan.

Sekitar 3 bulan kemudian, RJ melakukan pemeriksaan lagi dan pada saat ini hasil Patologi yang telah dilakukan sebelumnya dicocokkan dengan hasil PET Scan, ternyata tumor tersebut kanker dan RJ disarankan untuk menjalani kemoterapi tetapi dia menolaknya.

Untuk mendapatkan hasil opini yang lebih jelas, RJ membawa hasil pemeriksaan ini ke Singapura. Disini RJ menjalani PET Scan ulang, dan hasilnya ternyata diketemukan lagi kanker di paru-paru nya. Kemudian RJ menjalani kemoterapi infus sebanyak 16 kali selama satu setengah tahun. Obat-obatan yang digunakan adalah:  Gemzar & Docetaxel dan Doxorubicin & Avastin.

Dan setelah itu paru-paru nya dinyatakan bersih, kemudian dilanjutkan dengan pengobatan kemo oral dengan obat Iressa selama 3 bulan.

Setelah minum Iressa selama 3 bulan mulai muncul efek samping sebagai berikut : muncul bintik-bintik merah pada bagian muka , gatal-gatal pada seluruh tubuh dan batuk. Pada dahaknya ada noda darah. Menurut dokter onkologi prognosanya hanya 40 % dan kepada keluarganya diminta untuk berdoa kemudian diminta untuk mengikuti saja apa yang diamanahkan oleh RJ dan agar menuruti semua pesan-pesan yang disampaikannya.

Hasil PET scan tanggal 16 Februari 2011 menunjukkan:

1. Multiple Bilateral Nodule yang berada di dalam paru  dengan variasi ukuran (3,2, 2,1 cm) sementara itu nodul yang lebih kecil berada di bawah jangkauan resolusi FDG PET.

2.Tidak terdapat  cairan di paru  ataupun cairan diselaput  jantung.

3. Sebaran FDG di pinggiran sebuah nodul di sisi kanan pelvis, telah membatasi kolon sigmoid dan bagian atas kandung kemih.

4. Adanya nodul yang letaknya disekeliling pembuluh darah besar dan disekitar pembuluh darah mesenterik.

Dia kembali lagi ke Singapura – dan kali ini ke rumah sakit yang berbeda. Dia diberitahu bahwa masalah itu timbul akibat Iressa dan karena itu harus menghentikan cara pengobatan tersebut.

Hasil CT Scan tanggal 29 September 2011 menunjukkan:

1.Nodul yang berukuran antara 0,5 cm hingga 2,9 di kedua paru-paru. Masa kanker yang terbesar di dalam lobus lingualis berukuran kira-kira 7,2 x 5,8 cm. Masa kanker ini berdekatan dengan selaput jantung .  Terdapat  juga sedikit cairan diselaput jantung.

2.Juga adanya sedikit cairan pada paru sebelah  kiri. 

CT Scan tanggal 29 September 2011

Catatan medis yang tertulis pada tanggal 5 Oktober 2011: “Konseling Depresi:  Tak bisa menerima akan kematian mendatang. Tak bisa tidur. Mengharapkan kesembuhan.”

RJ diminta menjalani lebih banyak kemoterapi. Dia melakukannya. Dia menjalani kemo terakhirnya di awal bulan Desember 2011. Dua hari sepulang dari Singapura dia mulai batuk dan demam. Dia dirawat di Medan tanggal 8 Desember 2011. Ketika di rumah sakit kondisinya memburuk dan nafas sesak. Meski dengan bantuan oksigen, nafasnya tetap sulit dan dia bernafas megap-megap seperti ikan yang perlu udara.  Matanya menggulung dan dia tidak mengenali orang sekitarnya.

Saat itu, seorang pengunjung memberitahu keluarganya: ” Kenapa tidak pergi dan menemui Dr. Teo ? ” Hari berikutnya, 14 Desember 2011, dua puterinya terbang ke CA Care Penang untuk meminta bantuan kami. Berikut percakapan kami saat itu.

Catatan: Pihak keluarga telah mengizinkan penggunaan video dan gambar tanpa harus menutupi wajah pasien.

Biaya Pengobatan Medis

Kedua anak pasien bercerita bahwa seluruh biaya pengobatan menghabiskan nyaris 2 miliar rupiah. Di bawah ini adalah biaya untuk menjalani kemoterapi di Singapura (dalam dolar Singapura. 1,00 SGD$= 2,43 RM, 1,00 SGD$ = 7.240 IDR).

Tabel 1: Perkiraan biaya kemoterapi dengan Docetaxel + Gemcitabine.

Tabel 2. Biaya satu siklus Gemcitabine (Gemzar) + Docetaxel)

Dari satu siklus kemoterapi di atas menghabiskan biaya sekitar S$ 5.000. Untuk suatu perencanaan yang sistimatis 6 siklus kemo akan menghabiskan total biaya sekitar S$ 45.000. Ditambah pengeluaran untuk scanning dll. perlu tambahan S$ 3.000. Jadi secara keseluruhan, seorang pasien harus menyediakan total biaya sekitar S$ 50.000 atau RM 120.000 atau IDR 350 juta untuk tahap pertama kemoterapi.  Akan tetapi tahap pertama belum tentu cukup baik. Pasien bisa saja memerlukan lebih banyak tahapan lagi.

Biayanya akan semakin melonjak ketika Avastin digunakan seperti dalam kasus ini. Namun apa manfaat Avastin yang sebenarnya ? Tahukah Anda ? Klik link berikut ini untuk mengetahuinya: https://cancercareindonesia.com/2012/01/01/membedah-kemoterapi-bagian-6-avastin-tidak-menyembuhkan-kanker/

Tabel 3.  Biaya satu siklus dengan Avastin sekitar S$ 12.000 (RM 29.000 atau IDR 84 juta).

Beberapa pertanyaan untuk direnungkan

  1. Selain telah menghabiskan waktu sekitar satu setengah tahun pengobatan medis dan sejumlah besar tumpukan rupiah – apa yang anda pikirkan tentang kasus ini?  Mereka bilang pengobatannya terbukti secara ilmiah – tetapi bagaimana kenyataannya? Apa yang dibuktikan ?
  2. Bertahan selama satu setengah tahun tapi menghabiskan banyak waktu keluar dan masuk rumah sakit – apakah itu layak?  Sudahkah anda membaca tulisan ini – Berapa harga hidup anda? https://cancercareindonesia.com/2011/12/15/membedah-kemoterapi-bagian-4-berapa-harga-hidup-anda-erbitux-untuk-kanker-paru/

Percayakah anda  bahwa kemoterapi memiliki 40 persen kesempatan kesembuhan seperti yang ditegaskan dokter ? Menurut perkiraan anda berapa persentase keberhasilannya dalam kasus ini ? Apa yang dikatakan literatur medis tentang penyembuhan kanker paru ?

  1. Saat ini adalah era teknologi informasi. Periksa melalui internet dan tanyakan apakah obat-obatan kemo seperti Gemzar, Docetaxel, Doxorubicin dan Avastin pernah menyembuhkan jenis kanker ini ? Pesan untuk para pasien – kalian harus memberdayakan diri kalian !
  2. Sering kali, para praktisi obat-obatan alternatif dituduh sebagai tukang obat, penjaja barang yang tak teruji dan yang paling buruk pemberi harapan palsu ! Dalam situasi seperti ini, ada pepatah mengatakan : diri sendiri yang bersalah tetapi menyalahkan orang lain. Siapa yang sesungguhnya yang memberi harapan palsu kepada pasien?
  3. Pernahkah terpikir oleh anda untuk bertanya – Bagaimana jika saya TIDAK MELAKUKAN APA-APA ? Apa anda berpikir akan berahir dengan kondisi hampir mati setelah satu setengah tahun ? Bacalah cerita tentang Ella http://cancercaremalaysia.com/2010/12/11/an-evening-with-ella-our-patient-our-friend/

Ketika puteri RJ datang kepada kami pada tanggal 14 Desember 2011, inilah yang saya katakan kepada mereka: Dalam keadaan demikian ( seorang ibu yang sudah menjelang kematian) saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan atau lakukan. Saya bisa memberi beberapa obat herbal dan anda bisa pulang dan mencobanya. Jika dia bertahan, datanglah kembali dengan membawa semua catatan medis. Saat ini, yang bisa saya katakan adalah – coba saja. Jika beruntung dan disertai berkat Tuhan dia bisa saja keluar rumah sakit dengan selamat, selain dari itu saya tidak tahu apa-apa.”

Ini bukanlah kasus “menjelang kematian” yang pertama yang menimpa kami. Kami sangat sering menemui kasus semacam ini. Ketika tidak ada lagi yang bisa dilakukan, anggota keluarga datang dan meminta bantuan kepada kami. Apa yang bisa saya lakukan? Berpura-pura saya seorang superman? Atau, Tuhan?  Karena misi dari CA Care adalah untuk membantu orang-orang tak berdaya dan tersesat, kami biasanya tidak akan membiarkan mereka. Jangan salah – kami tidak menjanjikan kesembuhan. Kami juga tidak menjanjikan bisa menyelesaikan masalah anda. Apa yang bisa kami lakukan adalah mencoba yang terbaik untuk membantu dengan cara yang kami ketahui.  Kami mengerti jika anda cukup menderita dan juga sudah menghabiskan banyak uang untuk pengobatan medis. Keberadaan CA Care bukan untuk “memeras” kekayaan terakhir sebelum anda meninggal. Kami tidak memiliki maksud untuk menyesatkan atau menipu anda.  Jika anda percaya kepada kami akan sebuah harapan “terahir”, kami di sini siap membantu – meski sering menghadapi “risiko” dinamai sebagai penjual obat atau dukun.  Namun demikian, risiko yang kami ambil terkadang berubah menjadi keberhasilan yang memuaskan – sebuah berkat yang menakjubkan seperti yang akan anda lihat dalam kasus ini.

Diterjemahkan oleh Andreas Kriswanto, diedit oleh Teddy Setiawan


Membedah Kemoterapi Bagian 4: Berapa Harga Hidup Anda? Erbitux untuk Kanker Paru

Hanya ikan-ikan mati saja yang mengikuti arus

Di dunia ini kita melihat banyak ikan. Kebanyakan dari apa yang kita lihat dan ketahui hanyalah ikan-ikan mati. Ikan-ikan mati tidak bergerak melawan arus. Mereka hanya mengapung turun mengikuti arus.  Drs. Graeme Morgan, Robyn Ward dan Michael Barton dari Australia (lihat Bagian 2 & 3 artikel ini) bukanlah ikan-ikan mati – mereka berenang melawan arus. Saya menghormati mereka atas kerja keras mereka untuk bicara.

Dr Tito Fojo dan Christine Grady di Amerika Serikat juga nampaknya berenang melawan arus. Mereka menulis makalah yang menarik: Berapa harga hidup Anda: Cetuximab, kanker paru bukan sel kecil dan pertanyaan senilai $440 juta. Penulis pertama berasal dari Medical Oncology Branch of the National Cancer Institute, Bethesda, Amerika Serikat, sementara Dr. Grady berasal dari Clinical Center, National Institutes of Health, Bethesda, Amerika Serika.

Klik di sini untuk versi lengkap makalah mereka. http://jnci.oxfordjournals.org/content/101/15/1044.full

 Latar belakang

Saat ini dunia tengah berperang melawan kanker. Dengan demikian kanker merupakan sebuah industri yang menghasilkan banyak uang.  Dan “membuat obat ampuh” bagi kanker adalah bisnis besar dengan keuntungan yang luar biasa. Dikatakan bahwa tahun 2008 adalah saat yang baik di mana “beberapa gebrakan besar” dalam kanker disiarkan.  Pada tahun itu juga Erbitux (atau cetuximab) ditambahkan ke dalam cisplatin dan vinoreline sebagai obat “ajaib” untuk mengobati kanker paru bukan sel kecil (KPBSK).

Ketika Erbitux pertama kali diluncurkan, para ilmuan menulis: Erbitux atau “cetuximab yang ditambahkan pada kemoterapi berbasis platinum memberikan suatu standar baru untuk pengobatan awal terhadap pasien penderita KPBSK.” Dokter-dokter diberitahu: “temuan-temuan ini mungkin memiliki dampak signifikan terhadap penanganan pasien penderita jenis kanker ini.” Mereka yang membaca (dengan buta) akan menelannya bulat-bulat! Memang kita sedang memasuki masa di mana kita akan mengalahkan kanker!

Mari kita soroti sejumlah contoh dari gebrakan-gebrakan yang disebut ilmiah tersebut

  • Erbituxmeningkatkan kelangsungan hidup penderita kanker paru lanjut selama 1,2 bulan ketika dikombinasikan dengan kemoterapi.  Penelitian ini melibatkan lebih dari seribu pasien di 30 negara-negara penderita kanker paru bukan sel kecil. Meski 1,2 bulan nampak singkat, penelitian ini memberikan harapan bagi sekelompok penderita kanker paru-paru yang kesempatan angka kelangsungan hidup 1 tahunnya kurang dari 50%.
  • Sebuah penelitian di Spanyol yang dilakukan oleh Rosell dan rekannya (Ann Onclo. 2008. 19(2): 362-369) melibatkan 86 pasien. Kelompok A memiliki 43 pasien yang mendapatkan cisplatin/vinorelbine. Kelompok B memiliki 43 pasien yang mendapatkan Erbitux ditambah dengan cisplatin/vinorelbine.  Hasilnya:
  1. Kelangsungan hidup bebas pertumbuhan kanker rata-ratanya adalah 4,6 bulan di kelompok A dan 5,0 bulan di kelompok B. Artinya dengan penambahan Erbitux penyakitnya tidak berkembang selama 0,4 bulan (2 minggu?)
  2. Kelangsungan hidup rata-ratanya adalah 7,3 bulan di kelompok A dan 8,3 bulan di kelompok B. Artinya dengan penambahan Erbitux pasien bertahan 1 bulan lebih lama!

Dr Tito Fojo dan Christine Grady menulis: “Sayangnya, pengumuman perpanjangan kelangsungan hidup 1,2 bulan dalam KPBSK bukanlah kali pertama Erbitux diperhatikan karena manfaat yang kecilnya itu.”

PMO (Pengawas Makanan dan Obat-obatan) mengizinkan Erbitux untuk pengobatan kanker kolorektal lanjut setelah ditemukan bahwa ketika dikombinasikan dengan irinotecan, Erbitux memperpanjang keseluruhan kelangsungan hidup (KKH) selama 1,7 bulan  dibandingkan dengan Erbitux agen tunggal tetapi tidak berlaku dengan irinotecan agen tunggal. (Bagi mereka yang sedikit mengerti tentang ilmu pengetahuan, perizinan ini nampak jadi “keanehan” yang nyata – ada sesuatu yang tidak benar tetapi kita tidak akan teralihkan oleh hal ini.)

Perpanjangan 1,7 bulan kelangsungan hidup ini muncul beriringan dengan toksisitas kulit pada 85% pasien.

Dr Tito Fojo dan Christine Grady bertanya: “Tanpa mempertimbangkan biaya dan efek sampingnya, apakah pertambahan keseluruhan kelangsungan hidup selama 1,7 bulan itu merupakan sebuah keuntungan?”

Berlaku adil, penulis tidak hanya “menembak” pada Erbitux saja. PMO juga menunjuk obat lain yang disebut Avastin – obat yang cukup dikenal dan lumrah digunakan di dunia ini. Avastin dikombinasikan dengan carboplatin dan paclitaxel untuk pasien pengobatan awal penderita KPBSK metastatic nonsquamous berdasarkan peningkatan keseluruhan kelangsungan hidup selama 2,0 bulan.  Hasilnya, meski terdapat tentangan di antara spesialis kanker paru tentang manfaat sesungguhnya, penambahan Avastin pada kemoterapi kemudian menjadi standar terapi bagi KPBSK nonsquamous. Avastin juga ditambahkan pada kemoterapi untuk pengobatan kanker payudara. Manfaat Avastin bagi kanker payudara ini mungkin tidak ada. Saat ini, jika PMO Amerika Serikat sudah menarik perizinan ini.

Pada kanker pankreas, penambahan Tarceva (erlotinib) pada gemcitabine meningkatkan keseluruhan kelangsungan hidup hanya selama 10 hari (KKH – 6,24 bulan melawan 5,91 bulan).

Dr Tito Fojo dan Christine Grady lagi-lagi bertanya: “Apakah hasil percobaan ini memberikan satu gebrakan?” Mereka mengatakan: “Namun satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah peluru anti-kanker ajaib yang diarahkan pada target penting meleset jauh.”

Mereka bertanya:

  • Hal apa yang dianggap sebuah manfaat dalam pengobatan kanker?
  • Bagaimana pertimbangan faktor BIAYANYA?
  • Siapa yang harus memutuskan?

Berapa harga hidup Anda?

Tabel di atas adalah versi ringkasan Tabel 1 dalam makalah Dr. Fojo & Grady dan inilah apa yang mereka katakan tentang biaya:

  1. Di Amerika Serikat, Pengobatan kanker paru dengan Erbitux berharga rata-rata US$80,000 dan memperpanjang kelangsungan hidup selama 1,2 bulan, yang dapat diartikan dengan jumlah pengeluaran US$800,000 untuk memperpanjang hidup seorang pasien selama satu tahun.
  2. Pendapatan rumah tangga rata-rata masyarakat AS adalah US$50.233.
  3. Biaya pengobatan Avastin yang katanya memperpanjang kelangsungan hidup selama 1,5 bulan adalah US$90.816 .
  4. Biaya pengobatan Tarceva yang katanya memperpanjang kelangsungan hidup selama 10 hari adalah  US$15.752.
  5. Biaya pengobatan Nexavar yang katanya memperpanjang kelangsungan hidup selama 2,7 bulan adalah US$34.373.
  6. Jauh lebih besar dari 90% agen-agen anti kanker yang diizinkan oleh PMO dalam 4 tahun terakhir ini yang menghabiskan lebih dari US$20.000 untuk 12 minggu pengobatan.

Contoh-contoh ini menantang komunitas onkologi untuk membahas beberapa pertanyaan serius:

  • Hal apa yang dianggap sebuah manfaat dalam kanker?
  • Berapa jumlah minimal manfaat yang diperlukan untuk menetapkan sebuah terapi sebagai standar baru?
  • Apakah 1,2 bulan pertambahan kelangsungan hidup itu “hal yang baik”?
  • Seberapa besar arti 1,2 bulan itu? Atau biayanya?

(Catat: tidak ada dari obat-obatan ini yang menyembuhkan kanker. Mereka hanya memperpanjang kelangsungan hidup dalam beberapa hari atau bulan)

 Komentar 

Menghabiskan US$350,000 untuk Mati Akibat Kanker di Amerika Saat Ini

Saat Anda menambah biaya operasi, radiasi, kemo, rumah sakit, perawatan, dll., menghabiskan sekitar US$350.000 untuk mati akibat kanker di Amerika.

Tentu saja, pengobatan medis modern konvensional bisa berkhasiat. Seperti yang dikatakan Julian Whitaker, M.D, radiasi dan kemoterapi adalah plasebo yang berbahaya. Namun plasebo terkadang bekhasiat ~ Frank Cousineau, Presiden, Cancer Victors, Cancer Breakthrough Amerika Serikat.

Untuk lebih lanjut klik tautan ini: http://cacare.com/index.php?option=com_easyfaq&task=cat&catid=109&Itemid=39

Menyimpulkan makalahnya, Dr. Fojo & Grady menulis:

  • Semua kebiasaan pemberian obat-obatan baru yang memberi manfaat kecil kepada pasien dengan kanker lanjut harus benar-benar dicegah.
  • Bilamana tidak ada pilihan pengobatan lebih lanjut, penekanan pertama harus pada kualitas hidup dan kemudian biaya.
  • Untuk terapi dengan manfaat kecil, efek racun harus diawasi dengan lebih ketat.
  • Kita harus berkutat dengan naiknya harga terapi kanker saat ini.
  • Kondisi saat ini tidak boleh berlanjut … waktu untuk memulai adalah sekarang.

Sebelumnya, Dr. Fojo & Grady juga memperingatkan bahwa: “Sebagai onkologis, kami tidak bisa pergi tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Karakter moral pekerjaan kami bergantung pada jawaban tersebut.”

Memang, saya senang sekali jika nilai atau karakter moral dinyatakan di sini! Mari sedikit berbicara tentang uang, dan lebih memperhatikan nilai-nilai moral.

—————————————-—————————————————————————-

The Economist pada 26 Mei 2011 memuat artikel berjudul: Perang berbiaya mahal pada kanker – Obat-obatan kanker baru secara teknis mengesankan. Tetapi haruskah obat-obatan itu menguras banyak biaya? http://www.economist.com/node/18743951?story_id=18743951

Artikel tersebut mengatakan:

  • KANKER bukan penyakit tunggal. Jenisnya banyak. Namun selama ini onkologis menggunakan senjata tumpul yang sama untuk memerangi jenis-jenis kanker yang berbeda-beda — mengangkat tumornya, menghancurkannya dengan radiasi atau meledakannya dengan kemoterapi yang membunuh sel-sel jahat juga sel-sel baik.
  • Hambatanya adalah, dari sudut pandang masyarakat, obat-obatan ini luar biasa mahal.
  • Tidak semua obat-obatan baru ini berkhasiat.
  • Pada bulan Desember PMO menyatakan bahwa efek samping Avastin makin berkurang pada kanker payudara.
  • Secara umum, sejumlah orang mulai berhitung-hitung bahwa obat-obatan kanker yang baru hanya memberikan manfaat kecil dengan harga yang sangat besar.
  • Provenge (untuk kanker prostat lanjut) menelan biaya US$93.000 untuk sebuah layanan pengobatan dan menambah kelangsungan hidup selama rata-rata empat bulan.
  • Yervoy (untuk melanoma, jenis kanker kulit) menelan biaya US$120.000 demi tiga setengah bulan. Beberapa pasien yang mengkonsumsi obat-obatan itu bertahan lebih lama. Tetapi yang lain menghabiskan banyak namun memperoleh sedikit.
  • Siapa yang akan mereformasi sistem rusak ini?
  • Tahun lalu Gleevec mencatatkan keuntungan kotor US$4,3 miliar. Roche melalui Herceptin (obat HER2) dan Avastin bahkan mencatat hasil lebih besar: masing-masing US$6 miliar dan US$7,4 miliar.

Komentar saya: Pada akhirnya – ini hanya tentang memanfaatkan keuntungan besar dengan mengorbankan penderita kanker yang tak berdaya.

Diterjemahkan oleh:  Andreas Kriswanto

Kanker Paru: Bedah, Menolak Kemo, Lansung Minum Herbal – CEA Meningkat Setelah Diet Buruk

 

Jan (M471) seorang pria 55 tahun dariIndonesia. Dia mantan perokok 40 lebih tahun. Sekitar pertengahan 2008 dia batuk-batuk. Dahak nya tidak ada darah. Dia pergi ke Melaka untuk buat pemeriksaan. CT scan menunjukkan kanker paru-paru. Tidak puas hati, ia datang kePenanguntuk  cari pendapat kedua.

Kolonoskopi yang dibuat pada tanggal 20 September 2008, menunjukkan adanya wasir dan polip pada kolon dan rektum. Biopsi dari polip kolon menunjukkan adenoma tubular yang sama dengan displasia sederhana, sedangkan polip dari rektum adalah hiperplastik.

CT scan dada menunjukkan nodul kecil, 1,7 x 1,7 x 1,6 cm. Noda paratrakeal, carinal dan kelenjar getah bening hilus kanan lebih besar antara 1 sampai 3 cm. Impressi: Fitur curiga yang mendasari karsinoma paru-paru awal.

Jan menjalani operasi untuk mengangkat tumor di paru-parunya. Dia diberitahu bahwa dia mempunayi  85 – 90 persen penyembuhan jika dia menjalani operasi. Laporan histopatologi menyatakan karsinoma sel skuamosa berdiferensiasi sederhana, pT1N1Mx, Tahap 2A. Margin bedah bebas dari keganasan. Total biaya perawatan medis sekitar RM35.000.

Jan disarankan kemoterapi. Dia menolak dan datang mencari bantuan kami pada tanggal 8 Oktober 2008. Dia diresepkan Kapsul A, teh C-Tea, Lung 1, Lung 2 dan GI 1.

Sekitar sebulan kemudian, pada 14 November 2008, Jan kembali menemui  kami  lagi. Ia kata ia lebih sehat dan tidurnya lebih enak. Ia disuruh buat kemoterapi. Dokter mengatakan kemoterapi boleh menyembuhkannya. Dia menolak saran ini.

Jan tinggal di sebuahkotakecil di Sumatera. Perjalanan dari rumahnya kePenangsangat jauh. Dari rumah ia harus naik bas selama 3 jam ke sebuah kota. Dikotaini, Jan akan naik  satu lagi bas selama 24 jam keMedan. Di Medan, baru dia naik pesawat kePenang. Meskipun perjalanannya panjang, Jan datang berjumpa kami secara teratur.  Kebanyakan masa Jan berjumpa kami, dia mengatakan bahwa ia baik dan sehat, tanpa keluhan. CEA nya menurun dari 133,66 (sebelum operasi) menjadi 27,6 (setelah dua tahun minum herbal). Tetapi, pada 21 Oktober 2010, Jan tersentak dengan tiba-tiba karena CEA nya naik dari 27,6 ke 83,12 (Lihat jadual di bawah). Kami pun berasa kecewa. Apa yang salah? Dari pengalaman kami lebih kurang tau sebabnya. Kami bertanya kepadanya, “Apa yang kau makan salah bulan-bulan yang lalu ini?”

Tanggal

CEA

Catatan
19 Sept 2008

133.66

 
15 Juli 2009

51.2

 
22 Okt 2009

43.0

 
14 Mei 2010

27.6

 
21 Okt 2010

83.12

Diet Buruk – makan daging, makanan goreng and “tau sar paw”
4 Dis 2010

75.58

 
31 Mar 2011

93.97

 
25 Aug 2011

57.9

 

 

Jan mengakui bahwa karena dia baik-baik saja, dia tidak lagi ikut baik-baik pola makan sihat. Dia makan makanan yang kami minta dia menghindari seperti daging, makanan goreng dan “tau sar pow” (roti diisi kacang manis rebus bersama lemak babi). Dia guna minyak jagung untuk memasak – bukannya minyak kelapa murni. Kami menjelaskan kepada Jan bahawa kami tidak tahu mengapa CEA nya  bertambah tinggi – ini bisa terjadi karena usus nya ada  polip, atau karena paru-parunya. Dengan ini, paling baik ia kembali ke pola makanan sihat semula. Jan berjanji untuk membuat demikian.

Sekitar sebulan kemudian, CEA nya turun menjadi 75,58, kemudian meningkatkan ke 93,97 pada Maret 2011. Namun, pada Agustus 2011, CEA Jan turun ke 57,9. Dengan penurunan nilai CEA ini nampaknya Jan percaya diet amat penting untuk kesejahteraan nya.

Secara keseluruhan, kesehatan Jan baik-baik saja. Sudah tiga tahun sejak operasi paru. Dia menolak kemoterapi dan memilih herbal sebagai gantinya. Sampai hari ini, ia mampu makan, tidur dan melakukan kegiatan rutin tanpa apa masalah pun.  Tidak masalah jika CEA 93,97 atau 57,9 – angka-angka ini tidak mempengaruhi kesejahteraan nya.  Tanpa kemo, kualitas hidupnya dipertahankan – tidak diancam langsung, walaupun dia  seorang penderita kanker.

Kajian Acugraph
AcuGraph diambil pada 26 Agustus 2011 menunjukkan perkembagan baik – bacaan meridian adalah lebih seimbang jika dibandingkan dengan bacaan pada tanggal 22 Oktober 2010 (di bawah).

 

Beberapa soalan untuk direnungkan:

  1. Setelah operasi Jan enggak buat kemoterapi meskipun disarankan oleh dokter. Apakah yang terjadi padanya sekarang? Apa yang bisa terjadi jika ia menjalani kemoterapi? Apakah dia tetap sihat seperti saat ini?
  2. Setelah operasi, CEA nya turun dari 133-51 ke 27 – dan ia hanya makan herbal dan mengikuti pola makan yang sihat. Apakah kamu percaya bahwa obat herbal dan diet begitu efektif menjaga kanker nya? Atau kamu lebih percaya pada  obat beracun (chemo)?
  3. Jan mulai makan makanan “tak sihat” dua tahun setelah berada dalam kesehatan yang baik. CEA nya meluru sampai 83. Dia menyadari kesalahannya dan mulai pola diet  “baik” sekali lagi. Setelah enam bulan CEA nya menurun ke 58. Apakah kamu masih bersikeras bahwa pasien kanker boleh makan apa saja yang mereka sukai dan makanan tidak ada hubungan dengan perkembangan kanker dan / atau kambuh?
  4. Dari Oktober 2010 hingga Maret 2011, CEA Jan di sekitar 76 – 94. Meskipun begitu dia sehat saja. Kesejahteraan-nya tidak dipengaruhi oleh nilai CEA – samada tinggi atau rendah. Apa artinya? Belajar hidup bersama kanker!  Bacaan / nombor ujian laboratorium tidak harus  membuat kamu sakit!