Lebih Baik Aku Mati Daripada Menderita

May (bukan nama sebenarnya) adalah seorang wanita berumur 55 tahun. Suaminya telah meninggal akibat serangan jantung tiga tahun lalu, pada umur 62 tahun. May didiagnosa menderita kanker payudara pada tahun 2000. Ia menjalani operasi mastektomi dan diikuti enam siklus kemoterapi. Setelah itu ia mendapat obat Tamoxifen. Tiga tahun kemudian, kanker menyebar ke sisi kanan payudaranya meskipun faktanya ia telah mendapat terapi Tamoxifen selama tahun-tahun itu. May kembali menjalani enam siklus kemoterapi diikuti dengan duapuluh sesi radioterapi pada daerah leher dan payudara. Sayangnya, kanker menyebar ke lehernya. May menjalani kembali empat siklus kemoterapi.

Dari July 2005 sampai Maret 2006, ia mengkonsumi obat oral, Femara. Lalu sejak April 2006 sampai July 2006, Ia mengkonsumsi Xeloda.

Putrinya memberitahu kami bahwa May menderita nyeri yang tidak tertahankan. Ketika ia tidak tahan dengan nyerinya, ia melepas pakaiannya dan lari mengelilingi rumah. Pada satu waktu May mencoba untuk melompat dari jendela untuk bunuh diri. Lengan dan daerah sekitar payudara dan lengannya bengkak dan mengeras. Ia merasa sangat panas dari dalam tubuhnya. Ia memutuskan untuk menyerah dari terapi medis lebih lanjut dan mencari kamu untuk pertolongan pada akhir Juli 2006. Gambar berikut ini dapat menjelaskan lebih lanjut tentangnya waktu sekarat.

Komentar : Andrew Weil (dalam tulisannya “Health and healing” (Kesehatan dan penyembuhan)) menulis : There is never ending struggle … patients are sucked into same way of thinking … finding themselves more and more dependent on the system giving one treatment after another. (Perjuangan tiada akhir … pasien terseret pada pola pikir yang sama … mereka semakin tergantung pada sistem pengobatan yang diberikan setelah pemberian pengobatan yang lain.)

Profesor Jane Plant (dalam tulisannya “in Life in your hands” (hidup di tangan anda)) menulis : This sounds like a battle between the disease and the treatments – with the patient as the battle ground …Conventional cancer treatment can process patients to the extent that they no longer understand what is really being done to them. (Ini seperti pertempuran antara penyakit dan pengobatan – dengan pasien sebagai lahan pertempurannya … Terapi kanker konvensional dapat membuat pasien tidak lagi menyadari apa yang telah dilakukan pada mereka.)

Dr. Lai Gi-ming, Komite medik Onkologi Taiwan, Institut Penelitian Nasional mengatakan : The thing that most frustrates modern doctors is that, after surgery, chemotherapy and radiotherapy, all they can do is keep chasing and chasing the cancer! (Hal yang paling membuat frustasi dokter modern adalah setelah mereka melakukan operasi, kemoterapi, radioterapi, yang dapat mereka lakukan hanyalah mengejar dan mengejar kanker itu !)

Sebuah Kisah Tentang Sahabatku: Kanker Usus-Hati

Hanafi dan saya berasal dari daerah yang sama di Kelantan. Atau dalam kata lain, kami adalah orang kelantan (kelantanese). Tidak perduli bahwa ia adalah seorang Malay dan saya seorang chinese; ia adalah muslim dan saya adalah kristiani. Sebagai orang kelantan kami memiliki ikatan kuat tentang pertemanan dan kepercayaan. Tapi ini tidak semuanya. Kami ada teman sekelas ketika masih belajar di College of Agriculture (Malaya) pada tahun 1960-an. Dan menjadi Serdangites kami saling berbagi ikatan yang kuat tentang kepemimpinan. Setelah kami lulus dari kuliah, kami tidak bertemu lagi.

Suatu hari pada bulan Oktober 2004, teman sekelas kami meng e-mail saya dan mengabarkan bahwa Hanafi sedang di rumah sakit, terkena kanker colon yang telah bermetastasi ke livernya. Ia menjalani operasi untuk mengangkat colon yang terinfeksi. Setelah mendengar ini, saya menelepon dia di rumahnya dan bertanya apakah ada yang dapat saya bantu.Tapi saya tidak menyarankan ia untuk mengkonsumsi herbal kami. Itu akan sangat tidak etis. Bahkan dengan saya menelepon dia di rumahnya, saya sudah melangar kode etik saya sendiri. Saya biasanya tidak melakukan hal seperti itu, atau saya akan dianggap mencoba untuk mempromosikan herbal saya. Tetapi, Hanafi adalah teman sekelas saya. Saya pikir saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya memberikan semua informasi yang ia ingin ketahui mengenai kanker colon. Dengan kebijaksanaannya sendiri, ia memilih untuk mengkonsumsi herbal kami.

Setelah operasi, dokternya menyarankan kemoterapi yang telah disetujui Hanafi sebelumnya. Saya menghormati keputusannya. Hanafi melakukan duabelas siklus kemoterapi, bukan enam kali seperti pasien yang lain. Tumor pada livernya tidak ada perubahan. Kemoterapi ditinggalkan dan ia menjalani dua terapi RFA (radiofrequency ablation). Prosedur ini pun gagal.

Pilihan berikutnya adalah dengan kemoterapi lagi atau operasi liver. Ia menolak keduanya! Ia belajar dari pengalamannya. Sekarang biar ia menceritakan pada anda pengalamannya …

Herbal dan Kemoterapi

Perubahan Gaya Hidup dan Diet


Setiap kali saya pergi mengunjungi pasien kanker di Subang Jaya, saya meminta Hanafi datang dan makan siang dengan saya dan seluruh anggota keluarga CA Care. Ia akan datang setelah permainan golfnya. Ketika makan, kami berbincang-bincang. Dengarkan rekaman video yang diambil beberapa periode. Tidak ada pertanyaan sama sekali, ketika ini ditulis – 2009 dan hampir lima tahun sejak ia didiagnosa – Hanafi sangat sehat dan segar sampai hari ini.

Nikmati Hidup Semaksimal Mungkin

Tidak ada kepuasan yang lebih daripada mampu untuk menolong sahabat baik untuk dapat berdiri diatas kakinya kembali! Dan tidak ada kepuasan yang lebih daripada mengetahui bahwa seorang sahabat mendengarkan saran dan mengambil langkah untuk BERUBAH dan menyembuhkan dirinya sendiri. Dan dengan kekuasaan Tuhan dan berkat-Nya, Hanafi mendapatkan kesembuhannya.

Kanker Kambuh Kembali Setelah Kemoterapi Dan Radioterapi

Tahe (M319), seorang pria berumur 75 tahun dari Bogor, Indonesia mulai merokok sejak berusia delapan belas tahun. Pada 2000 dia menjalani operasi jantung by-pass. Pada 2005 dia mempunyai gejala seperti flu dan mempunyai kesulitan bernafas. Gejala-gejala ini menetap selama sekitar tiga bulan. Dia kemudian pergi ke rumah sakit di Jakarta dan didiagnosa sebagai tuberkulosis (TB). Dia pun menjalani pengobatan TB. Bagaimanapun, setelah mengkonsumsi obat selama beberapa minggu batuknya semakin bertambah sering. Tidak merasa puas, dia pun memeriksakan diri ke rumah sakit swasta di Singapura.

Tahe, istrinya, anak perempuan dan menantunya datang mengunjungi kami pada 29 Februari 2008 dan berhubungan dengan cerita yang terjadi di Singapura.

1.          Dokter berpikir bahwa dia mempunyai masalah infeksi di paru. Tahe pun mengkonsumsi antibiotik. Setelah dua minggu, masih tetap batuk.

2.          Sebuah CT Scan dilakukan dan terdapat tumor yang besar di parunya. Menurut dokter, itu adalah tumor yang agresif.

3.          Tahe menjalani kemoterapi, setiap siklus dengan interval tiga minggu. Dia menjalani total enam siklus. Tumor menghilang total.

4.          Empat bulan kemudian tumor lain ditemukan tumbuh pada sisi lain dari paru. Tahe menjalani enam siklus kemoterapi lagi. Tumor kembali menghilang.

5.          Empat bulan kemudian, tumor kambuh lagi. Kali ini tumor tumbuh pada bagian yang sama dengan tumor pertama.

6.          Dokter menginginkan Tahe menjalani kemoterapi lagi, tetapi pada waktu itu Tahe mengalami perdarahan pada anus. Kemoterapi merupakan kontraindikasi.

7.          Dikarenakan tumor di paru tumbuh semakin besar, Tahe menjalani dua puluh delapan kali pengobatan radiasi.

8.          Setelah dilakukan semua hal itu, permasalahan Tahe menetap.

9.          Hasil dari CT Scan pada dada dan hati yang dilakukan pada 21 Februari 2008 mengindikasikan:

  • Terdapat efusi pleura kecil yang baru pada sisi kiri.
  • Terdapat kehilangan volume yang ekstrim pada hemithorax sebelah kiri.
  • Terdapat perubahan pola heterogen yang ringan sampai kolaps paru pada regio perihilar.
  • Terdapat kemungkinan kekambuhan pada massa paru hilar kiri yang menyebabkan penyumbatan bronkus.
  • Terdapat nodul paru sebesar 8mm pada lobus kanan atas.
  • Terdapat massa yang terkait dengan ligamentum falsiform.
  • Terdapat densitas hepatik sebesar 12mm pada segmen 6 hati.
  • Terdapat beberapa hipodensitas berukuran subsentimeter pada hati yang terlalu kecil untuk di kalsifikasi.
  • Terdapat massa adrenal kiri berukuran 3.7 cm.
  • Terdapat massa adrenal kanan berukuran 2.7 cm.
  • Tidak terdapat lesi destruksi tulang.

Sangatlah jelas bahwa perawatan sejauh ini gagal untuk menyembuhkan Tahe. Dokter menganjurkan untuk menjalani lebih banyak kemoterapi. Tetapi Tahe menolak pengobatan lebih jauh. Malah dia dan keluarganya datang mencari pertolongan saya. Tahe diresepkan Kapsul A & B, Teh Hati, Teh Paru 1 & 2, Teh LL dan Teh Ginjal).

Berikut adalah percakapan kita pada malam tanggal 29 Februari 2008.

Chris: Okay Bapak – apakah anda ingin menjalani lebih banyak kemoterapi?

Tahe: Tidak, saya tidak mau lagi. Tubuh saya sudah lemah. Saya sudah tua dan tidak mempunyai banyak tenaga lagi.

Istri: Semua tulangnya sakit.

Chris: Anda pasti telah menghabiskan ribuan untuk kemo anda?

Istri: Ya, banyak sekali.

Menantu: Dia menghabiskan banyak sekali uang!

Chris: Saya telah menulis ini sebelumnya – Orang yang kaya dan berpendidikan, biasanya meninggal lebih cepat. Dari pengalaman saya, pada kasus kanker paru, tumor bisa menyusut atau bahkan hilang setelah pengobatan. Tetapi ini tidak berarti bahwa kankernya telah sembuh.

Tahe: Ya, benar.

Chris: Sekarang Bapak, anda sepeertinya setuju dengan apa yang telah saya katakan. Tetapi apabila saya mengatakan ini sebelum anda menjalani kemoterapi, anda pasti tidak akan mempercayai saya,

Tahe: Saya tidak tahu akan hal ini.

Chris: Ya, bahkan apabila anda mengetahui hal ini setelah saya memberitahukan kepada anda, anda tetap tidak akan percaya!

Tahe: Tidak, saya percaya anda.

Chris: Tidak. Bagi mereka yang belum pernah mengalami seperti apa yang anda alami atau tidak mengambil jalan yang sana seperti anda pilih, tidak akan percaya apa yang saya katakan bahwa:setelah kemo tumor akan kembali.

Istri: Dokter sebelumnya memberitahukan bahwa pengobatan ini cuma dapat membantu sampai 80%. Tidak, kanker tidak akan pergi total.

Chris: Ya, ini yang telah sering saya lihat. Setelah operasi, kemoterapi dan radioterapi, tumor akan menghilang tetapi setelah empat atau enam bulan tumornya kambuh lagi. Dan setelah itu kambuh, kanker akan menjadi lebih agresif. Ini dikarenakan tubuh sudah lemah. Bagaimana mungkin tubuh yang sudah lemah bisa memerangi kanker?

Istri: Sekarang ini waktunya berserah pada Tuhan. Lebih cepat dari yang kami perkirakan. Ahli radiologis mengatakan bahwa dokter cuma dapat membantu 80%, sisa 20% tergantung pada Tuhan.

Komentar: Di CA CARE kami memberitahukan kepada pasien-pasienIni adalah tangan kita tetapi Tuhan-lah yang menyembuhkan. Tetapi pada dunia manusia berpikir bahwa dia lebih pintar daripada Tuhan ! Kenyataannya pengobatan ilmiah telah gagal Tahe. Marilah kita berendah hati untuk menerima akan hal itu.

Dokter menganjurkan Tahe untuk menjalani lebih banyak lagi kemoterapi. Menurut anda apa yang akan menjadi hasilnya – sukses atau kematian?