Kanker Lidah: Tak Mau Lagi Kemo

  1. Mulai sebagai satu luka yang tidak sembuh-sembuh selama 2 tahun.
  2. Dokter bilang kanker dan menjalani rawat medis di Kuala Lumpur.
  3. Radioterapi dan kemoterapi – gagal.
  4. Kanker menyebar. Lidah mengecut dan menjadi pendik.
  5. Tidak mau kemo lagi.
  6. Cuba rawatan alternatif di Jakarta – electrofrekuensi. Perdarahan.
  7. Ke hospital di Surabaya.
Iklan

Kanker Payudara: Setelah Kemoterapi dan Radioterapi Kanker Menyebar ke Hati Nya

LP (H588) adalah seorang ibu berusia 34 tahun yang mempunyai dua orang anak. Selama kehamilan nya yang kedua ( sekitar bulan Juli 2009), ia merasakan adanya benjolan di payudara kirinya. Tetapi dia mengabaikannya. Kemudian dia melahirkan pada tanggal 5 September 2009. Dia menyusui bayinya selama satu bulan. Air susu yang dihasilkan dari payudara kirinya hanya sedikit. Dokter berpikir hal itu disebabkan karena infeksi dan kemudian diberikan antibiotik. Tetapi benjolannya malah menjadi lebih menonjol. Ginekolog nya mengusulkan untuk pengangkatan benjolan tersebut.

LP dirujuk ke ahli bedah payudara. Kemudian pada tanggal 26 Oktober 2009 dilakukan biopsi. Dari spesimen tersebut mengungkapkan cirri-ciri suatu ductal carcinoma yang invasif. Ditemukan juga suatu penyebaran kelenjar getah bening. Tumor itu berada kurang dari 1 mm dari margin bedah. Dari laporan Immunohistochemistry dari tumor itu, receptor estrogen dan progesteron nya negative, tapi sangat positif untuk C-erb-2 nya. Hasil pemeriksaan dengan DNA Probe Kit mengkonfirmasikan  HER-2/neu gene amplification. Operasi tersebut akan menghabiskan biaya RM 6.000.

Menurut gambaran di atas, dianjurkan untuk operasi mastektomi tetapi LP menolak. Dia, bagaimanapun, menyetujui opsi yang kedua yaitu operasi bedah untuk  pengangkatan tumor dengan margin lebih besar dan pengangkatan kelenjar getah bening nya. Sebuah laporan pada tanggal 12 November 2009 mengindikasikan bahwa semua margin bebas dari kanker. Sebanyak 26 kelenjar getah bening aksila yang tersisa bebas dari metastasis.

Pada saat yang sama, specimen yang didapat dari suatu pemeriksaan payudara kanan nya dengan tehnik hookwire ( adalah suatu tehnik yang digunakan untuk mengangkat atau membuang suatu area yang abnormal dari payudara yang dapat terlihat melalui USG atau Mammogram tetapi tidak dapat di raba secara klinis ), menunjukkan adanya apa yang disebut Lactating Adenoma ( tumor jinak biasanya dapat terjadi pada wanita muda yang sedang mengandung atau menyusui.)  Sebuah port-kemo dipasang di sisi kanan sebelah atas payudara nya. Seluruh prosedur operasi bedah tersebut menelan biaya sebesar RM 20.000.

CT- scan pada bagian dada, perut dan panggul pada tanggal 11 November 2009 menunjukkan Tidak Ada  metastasis pada bagian dada, perut  ataupun panggul. Bone scan tubuh secara lengkap pada tanggal 12 November 2009 menunjukkan tidak ada bukti yang menunjukkan adanya metastasis pada tulang.

LP kemudian menjalani kemoterapi. Tiga siklus pertama menggunakan obat kemo FEC (5-FU, epirubicin dan cyclophosphamide). Tiga siklus pengobatan ini menelan biaya sebesar RM 12.000. Siklus yang keempat , kelima dan keenam terdiri dari Taxol ditambah Herceptin. Total biaya dari tiga siklus berikutnya ini adalah RM 46.000. Pengobatan kemo yang terahir  adalah  bulan Mei 2010.

Dari  bulan Juni 2010 sampai Agustus 2010, LP menjalani juga tiga puluh sesi radioterapi. Setelah itu kondisinya  ” baik “.

Sayangnya, hasil PET- CT scan pada seluruh tubuh yang dilakukan pada tanggal 29 Desember 2010, menunjukkan adanya metastasis hati soliter. Lesi yang nampak adalah sebesar  3,4 x 3,0 x 3,0 cm. Ada juga beberapa serapan non-spesifik yang berasal dari FDG ( flourodeoxyglucose ) di tulang belakang namun tidak ada kerusakan tulang terlihat pada CT.

LP diminta agar menjalani operasi untuk metastasis hatinya. Dia menolak. Dalam keputus – asaan nya, LP mengkonsumsi Tian Xian Liquid selama satu bulan. Kemudian dia dan suaminya pergi ke Kamboja untuk menjalani pengobatan menggunakan Marijuana Oil  (MO). Dia tinggal di Kamboja selama dua bulan.

Namun pada pemeriksaan melalui USG pada tanggal 11 Maret 2011 menunjukkan bahwa lesi pada lobus sebelah kanan hatinya membesar, dari 3 cm pada beberapa bulan yang lalu sekarang telah menjadi 7 cm. Selain itu, sebuah laporan radiologi menunjukkan : ” ditemukan sebuah lesi kecil yang berdekatan dengan ukuran 9 mm dan lesi yang lainnya di lobus sebelah kiri dengan ukuran 8,5 mm ”. Kesimpulan : liver metastasis telah meningkat baik dari segi ukuran maupun jumlahnya.

USG yang dilakukan pada tanggal 15 April 2011 menunjukkan adanya multiple liver metastasis dengan perkembangan penyakit yang pesat seperti deret ukur. Laporan radiologi mengatakan: ” lesi metastatik yang sebelumnya terlihat di lobus kanan telah membesar secara signifikan  dan  berukuran 12,3 x 7,5 cm menempati hampir setengah dari lobus kanan. Di lobus kiri ada setidaknya 4 -. 5 lesi, yang terbesar berukuran sekitar 1 cm ”

Gambar 1: USG dan PET scan menunjukkan tumor hati

LP kembali mengkonsumsi Tian Xian Liquid – kali ini adalah varietas Super dengan dosis tiga kali lipat dengan biaya sekitar RM 12.000 per bulan.  Tidak puas, LP dan suaminya datang untuk meminta pertolongan kami pada tanggal 21 April 2011.

Setelah mendengar ceritanya, kami lanjutkan untuk membaca meridian nya menggunakan AcuGraph 4. Kemudian kami memberi resep kepada LP :  Capsul A dan B, Liver 1 dan Liver 2, Breast M dan LL – Tea . Karena energi meridian dari Limpa nya rendah kami menyarankan LP untuk minum herbal  A-Sp-7 .

LP datang menjumpai kami lagi pada tanggal 23 Mei 2011, yaitu setelah satu bulan. Menurut LP, dia tidak merasakan adanya perubahan dalam dirinya setelah meminum ramuan. Di bawah ini adalah perbandingan pembacaan AcuGraph nya (Gambar 2 dan 3).

Gambar 2: Kunjungan pertama, 21 April 2011

Gambar 3: kunjungan Kedua, 23 Mei 2011

Ketika kunjungan pertama pada tanggal 21 April 2011, meridian nya menunjukkan kondisi yang disharmonis , seperti meridian  LU, PC, SI, SP, LR, KI dan meridian BL. Setelah minum herbal selama sebulan, pembacaan meridian nya menjadi sangat banyak perbaikannya. Hanya meridian SI, SP, KI dan ST yang menunjukkan kondisi disharmonis.

Comments Komentar

Ini sungguh kasus yang menyedihkan dan tragis. Sebelum kami mengajukan beberapa pertanyaan yang sulit dan tajam, marilah kita mendengarkan pembicaraan kami pada tanggal 21 April 2011.

Perjalanan Menuju Bencana

Seperti pada kebanyakan pasien-pasien, LP dan suaminya benar-benar percaya kepada ilmu kedokteran. Dokter  adalah ” seorang yang ahli ” dan apa yang mereka sarankan, LP dan suaminya mengikutinya tanpa ada rasa ragu sedikitpun. Setelah menjalani operasi pembedahan ,kemoterapi dan radioterapi, LP rupanya merasakan kondisi yang baik untuk sementara waktu. Dia kemudian kembali ke cara hidup lamanya – dan makan segala macam apa saja yang dia suka. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan dokter kepadanya – ” Makanlah apa saja dan apapun yang Anda suka !”  Dan sesuai dengan apa yang dikatakan suaminya : ” Kami hanya akan mendengarkan saran dokter. ”

Ketika LP diminta untuk menjalani operasi, dia tidak bertanya kepada dokter nya  apakah operasi ini akan menyembuhkan kanker payudara nya. Tidak ada alasan untuk mengajukan pertanyaan tersebut. Karena ia dan suaminya sudah menaruh kepercayaan penuh kepada para dokter – mereka akan melakukan hal yang benar dan dapat menyembuhkan LP !

Dapatkah kemo menyembuhkan kanker-nya ?  LP juga tidak menanyakan kepada dokter onkologi nya pertanyaan yang sangat penting tersebut. Suaminya berkata: “Kami diberi kesan dengan menjalani kemoterapi semua masalah tersebut akan dapat diselesaikan – dengan menggunakan obat kemo yang terbaik, dll.  Bahkan dokter mengatakan kepada LP bahwa dia akan menjadi lebih baik jika dia terus menjalani Herceptin selama dua tahun berikutnya ! Perhatikan, LP membayar sekitar 15.000 RM untuk  satu siklus Taxol dan Herceptin. Mungkin jika LP mampu menjalani pengobatan dengan Herceptin selama dua tahun lagi, dia akan melakukannya tanpa menyadari bahwa Herceptin tidak menyembuhkan apa-apa !

Mengajukan Pertanyaan-Pertanyaan Sulit

Saya bertanya kepada LP: ” Bagaimana kondisi kesehatan anda sebelum dan setelah perawatan? Mana yang lebih sehat ?  Suaminya menjawab: “Sebelum menjalani semua perawatan.”  LP berkata : “Dengan tumor yang membesar di hati saya, saya tidak merasa lebih baik sama sekali.” Dalam bahasa sederhana, dengan pergi ke rumah sakit dan menghabiskan semua uang dan menerima semua apa yang disebut  pengobatan ” yang terbukti secara ilmiah”, kesehatan LP menjadi lebih buruk dibandingkan jika dia tidak melakukan apa-apa. Itulah kesan yang saya dapat dari jawaban LP dan suaminya. Apakah ini bukan sebuah tragedy ?

Izinkan saya meninjau ulang laporan CT scan tanggal 11 November 2009.  Ini adalah CT scan yang dilakukan  LP sebelum  menjalani kemoterapi. Dikatakan: ” Kondisi hati nya meningkat secara homogen dengan adanya sebuah kista kecil yang berukuran kurang dari 5 mm diameternya. Kesan:.. Tidak ada metastasis di perut, dada atau  panggul”

Dari laporan ini, sepanjang pendapat para oncologis , kanker belum menyebar ke livernya atau bagian lain dari tubuh nya. Beberapa bulan setelah LP menjalani kemoterapi dan radioterapi, sebuah tumor berukuran 3 cm ditemukan di hatinya.  Apakah ada yang salah?  Apa yang menyebabkan bahwa tumor muncul begitu cepat ?

Saya mengusulkan dua kemungkinan – silahkan Anda yang memutuskan kemungkinan mana yang masuk akal.

  • CT scan yang dilakukan pada bulan November 2009 , entah bagaimana telah terjadi kesalahan , tidak tau dimana !  Scan tersebut tidak mendeteksi tumor yang berada dalam hati LP.
  • Atau, bisa saja orang yang menafsirkan CT scan tersebut tidak pandai atau sembrono ? Mungkinkah bahwa ” kista kecil yang berukuran kurang dari 5 mm” sebenarnya suatu metastasis?  Berarti, kanker sebenarnya sudah menyebar dan ini disalah artikan ?  Jika Anda tidak setuju dengan proposal ini, maka bagaimana dengan kemungkinan lain?
  • Mungkinkah bahwa pengobatan – FEC, Taxol dan Herceptin atau radioterapi – menjadi penyebab sel kanker muncul dalam hati LP ?  Artinya, pengobatan itu sendiri adalah yang menjadi penyebab kanker dihatinya.  LP telah membayar sejumlah besar uang untuk biaya pengobatan kemoterapi dan radiasi  dan  berakhir dengan suatu metastasis dihati nya.

Ada beberapa pertanyaan penting untuk ditanyakan :  Para Onkologis mengatakan kepada pasien-pasien bahwa setelah operasi, kemoterapi perlu untuk ” membersihkan ” semua sel-sel buruk yang tersisa dan tertinggal mengambang didalam aliran darah. Akibatnya  LP diberikan 5-FU, Epirubicin, Cyclophosphamide, Taxol dan Herceptin.  Jika sel kanker sudah berada di dalam hati, dengan jelas obat yang mahal ini tidak berguna sama sekali !

Jika sel-sel kanker belum berada di hati sebelum kemoterapi, apakah itu tidak berarti bahwa organ hati tersebut melemah atau rusak sampai pada suatu kondisi tertentu , dimana sel-sel kanker itu mampu membuat rumah baru di dalam hatinya?  Untuk pengobatan dengan radiasi, faktanya jelas. Ahli radiologi menggunakan  ” senjata dan kekuatan panas ” tapi mereka tujukan dengan ” membabi buta ”  pada payudara sementara sel-sel kanker mungkin sudah berada di dalam hati !  Target telah luput.

Ketika hasil PET-CT scan pada bulan Desember 2010 menunjukkan adanya lesi di hati berukuran  3,4 x 3,0 x 3,0 cm , dokter menyarankan untuk operasi pengangkatan – hanya operasi saja, tidak ada saran untuk kemoterapi. LP menolak.  Saya bertanya mengapa dia menolak untuk mengikuti saran dokter kali ini. Dia dan suaminya telah kehilangan kepercayaan pada dokter.

Sayangnya, LP dan suaminya sudah mempelajari suatu pelajaran pahit yang menyusahkan  – dan mungkin sedikit agak terlambat.

Sebuah pepatah Romawi mengatakan sebagai berikut : ” Hanya orang bodoh belajar dari pengalaman nya – orang bijak belajar dari pengalaman orang lain.”

Saya ingat apa yang dikatakan oleh teman baik saya, almarhum Mr Chew : ” Saya pergi menemui seorang oncologist. Saya melihat begitu banyak orang yang melakukan kemoterapi, dan begitu banyak orang melakukan radioterapi. Dalam pikiran saya, ini seharusnya merupakan cara yang benar. Jadi saya kembali lagi ke ahli onkologi tersebut dan memintanya untuk melakukan kemoterapi kepada saya. Belakangan , ketika saya mengalami kekambuhan dan tumornya tumbuh bertambah besar, saya kemudian menyadari bahwa saya telah berada di jalur yang salah. ”

Saya mengatakan kepada LP seperti berikut ini: “Jangan khawatir – kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu anda.  Anda bukan satu-satunya orang yang masuk terjebak dalam masalah. Banyak orang lain juga seperti anda. Jadi tenang sajalah. ”  Saya mengucapkan kata-kata ini karena saya mengerti bahwa sesuai kodratnya sebagai manusia kita semua berada di Bumi ini untuk mempelajari pengalaman-pengalaman tertentu. Dalam proses belajar ini , kita bisa melakukan kesalahan. Dan pada akhir dari semua itu, apakah kita melakukannya dengan benar atau salah, kita tetap akan mati.

Mencari Terapi Alternatif

CA Care dimulai pada tahun 1995 – kami telah berada sekitar selama enam belas tahun sekarang ini. Hampir semua orang yang datang mencari bantuan kami , secara medis dikatakan sudah tidak ada harapan lagi atau berada dalam situasi yang sama seperti LP – dimana perawatan medis telah gagal terhadap mereka. Pengalaman kami menunjukkan bahwa ada dua jenis kelompok orang.

Satu, yang putus asa tapi tulus,yang datang untuk mencari jalan lain untuk bisa keluar dari kesulitan mereka – seperti teman baik saya Chew yang disebutkan di atas atau dalam hal ini, LP. Setelah berbicara dengan dia dan suaminya , saya merasa dia adalah jenis pasien yang patut kami tolong.

Sayangnya, ada kelompok orang lain yang datang hanya untuk ” belanja peluru ajaib ” yang dapat meyembuhkan seketika. Terlepas dari fakta bahwa mereka telah menghabiskan beribu-ribu dolar untuk membayar tagihan medis mereka, mereka ingin penyembuhan sesuai dengan istilah mereka sendiri. Dari data statistik kami menunjukkan bahwa 70 persen dari mereka yang datang kepada kami termasuk dalam kategori ini. Kami merasa sangat sulit untuk membantu kelompok ini.

Apa yang kita ajarkan kepada pasien kami tentang diet telah berseberangan jalan secara langsung dengan apa yang telah dikatakan para onkologis kepada pasien mereka. Kami telah menulis banyak artikel tentang hal ini dan anda dapat membaca beberapa artikel kami dengan mengklik link ini: http://ejtcm.com/category/dietnutrition/

Dalam bukunya: Weather warfare – the military’s plan to draft Mother Nature , Jerry Smith menulis: “Dalam rangka untuk mengubah, ilmu pengetahuan (dan ilmuwan individu) Harus Mengakui Kekeliruan / Kesalahan – sesuatu yang bagi kebanyakan orang yang berpendidikan enggan melakukannya. Siapa yang mau mengakui bahwa mereka salah?  Seberapa sulitnya kah untuk  mengakui kesalahan jika kemajuan karir anda tergantung kepada sisi kebaikan anda ? Juga, posisi dalam komunitas ilmiah (dan pemberian bantuan dana ) tidak menjadikan seseorang menjadi orang yang tidak konvensionil. Resistensi yang melembaga terhadap teori-teori baru ini telah mengakibatkan secara rutin butuh waktu dari 50 sampai 100 tahun lagi untuk penemuan-penemuan baru , agar dapat merubah dari ejekan “omong kosong”  menjadi fakta-fakta yang dihormati. ”

Terlepas dari beribu-ribu penelitian yang menunjukkan bahwa diet memainkan peran penting dalam menyembuhkan kanker, tetapi para dokter tetap memberitahu pasien-pasien mereka untuk makan apapun yang mereka suka! Mungkin akan memakan waktu sekitar 50 hingga 100 tahun lebih lagi bagi komunitas medis untuk sepenuhnya menghargai fakta ini dan menerimanya. Untuk saat ini kita harus puas dengan suara-suara dari beberapa jiwa-jiwa pemberani yang berani untuk berbicara.

Russell Baylock, ahli bedah saraf dan asisten profesor klinik  di Universitas Kedokteran Mississippi menulis :

  • Selama empat tahun saya di sekolah kedokteran ,kita tidak memiliki satu kelas pun tentang ilmu gizi.
  • Bahkan, pemberian kepada para pasien dengan suplemen gizi menimbulkan ejekan dari rekan-rekan anda.
  • Para ahli onkologi MENYALAHKAN pasien-pasien nya dengan pemberian mereka advis tentang promosi nutrisi untuk kanker .

Dalam bukunya, Alive and well, Dr Philip Binzel Jr . menulis :

  • Operasi bedah tidak memberi manfaat  yang dapat mencegah penyebaran kanker.
  • Radiasi tidak memberi manfaat  yang dapat mencegah penyebaran penyakit.
  • Kemoterapi tidak memberi manfaat yang dapat mencegah penyebaran penyakit.
  • Satu-satunya hal yang diperkenalkan kepada manusia saat ini, yang akan mencegah penyebaran kanker dalam tubuh, adalah agar supaya mekanisme pertahanan tubuh dapat berfungsi secara normal. Begitulah cara terapi nutrisi bekerja – mengobati mekanisme pertahanan tubuh , bukannya tumor !

Operasi, Kemoterapi, Radioterapi dan Terapi Sulih Hormon Tidak Menyembuhkan Kanker Payudara

Kasus 1

Fay (bukan nama sebenarnya) adalah seorang wanita Malaysia berusia 45 tahun. Ia didiagnosa menderita kanker payudara pada September 2006.

  • Fay melakukan operasi mastektomi dan pembersihan kelenjar getah bening pada daerah ketiak.
  • Setelah melakukan operasi, ia melanjutkan terapi radiasi sebanyak 25 kali dan 6 kali kemoterapi. Obat-obatan yang digunakan antara lain 5-FU, Epirubin dan Cyclophosphamide (FEC). Seluruhnya selesai pada April 2007.
  • Setiap 4 bulan sekali, Fay harus kembali ke dokter ahli kankernya untuk melakukan pemeriksaan rutin dan semuanya baik-baik saja.
  • Pada bulan Agustus 2008, Kanker kembali ditemukan pada tulang – L2, L5, tulang sakral dan tulang pelvis.
  • Fay mengkonumsi Tamoxifen selama hampir 2 tahun (November 2006 – Agustus 2008). Pengobatan dengan Tamoxifen gagal dan dokternya menyarankan untuk mengganti obatnya dengan Arimidex.
  • Fay menerima saran dokter untuk melakukan kemoterapi lagi dan sangat menderita akibat efek samping yang ditimbulkan.

Kasus 2

Rin (bukan nama sebenarnya) seorang wanita Indonesia berumur 40 tahun, tinggal di United States (USA). Ia menulis sebagai berikut :

  • Awalnya saya didiagnosa menderita kanker payudara pada Desember 2004.
  • Saya melakukan operasi pengangkatan benjolan di payudara kiri pada Februari 2005.
  • Setelah operasi tersebut, saya menjalani 8 kali kemoterapi. Dan setelah kemoterapi saya mengalami menopause.
  • Lalu saya menjalani radioterapi sebanyak 35 kali dan selesai pada Oktober 2005.
  • Saya mengkonsumsi obat Tamoxifen, 20 mg sehari.
  • Saya melakukan pemeriksaan rutin dengan dokter ahli kanker saya selama 6 bulan dan saya melakukan mammogram 1 tahun sekali dan selama dua tahun lalu saya juga melakukan tes kepadatan tulang (bone density test).
  • Pada Agustus 2008, saya mulai merasa nyeri pada kaki kiri dan kadang-kadang juga terasa pada lengan kiri saya. Nyeri tersebut tidak kunjung hilang dan bahkan semakin nyeri. Lalu saya tidak dapat berjalan lurus dan menekuk lutut. Ini membuat sangat sulit untuk naik dan turun tangga.
  • Pada November 2008, saya melakukan scan seluruh tubuh dan juga melakukan CT-scan. Kanker tersebut telah menyebar ke tulang lengan atas, kaki kiri dan L5.
  • Saya lalu menjalani lagi radioterapi pada daerah yang sakit sebanyak 10 kali.
  • Pada Desember 2008, Saya membuat sediaan darah tepi pada kaki kiri saya.
  • Dokter saya mengganti obat-obatan dari Tamoxifen menjad Arimidex.

Kasus 3

Gay (bukan nama sebenarnya) adalah seorang wanita berusia 43 tahun asal Australia. Ia didiagnosa menderita kanker payudara pada tahn 1999. Ia menulis :

  • Saya mendapat terapi 6 bulan kemoterapi dan 3 bulan terapi radiasi.
  • Lalu saya mulai mengkonsumsi obat Tamoxifen selama 5 tahun dan diganti dengan Arimidex.
  • Saya tidak mengalami masalah apapun sampai 6 bulan kemarin, saya merasakan sedikit nyeri pada bagian kanan atas perut saya dan Tumor marker (hasil pemeriksaan antibodi tumor) saya meningkat.
  • Setelah beberapa kali diperiksa, ternyata hasilnya telah terjadi metastase ke tulang.

Kasus 4

  • Sri (bukan nama sebenarnya), seorang wanita berusia 57 tahun asal Indonesia, didiagnosa menderita kanker payudara pada payudara kirinya di tahun 2003. Ia menjalani operasi mastektomi lalu diikuti dengan kemoterapi dan radioterapi. Pada saat kami bicara padanya, Sri ternyata menjalani kemoterapi otak dan ia tidak mampu menjelaskan detail perawatan yang dilakukannya. Respon balik atas pertanyaan kami pun juga dirasakan sangat lambat. Sri menjalani semua terapi ini di New Zealand. Sri pergi untuk melakukan pemeriksaan rutin dan diberitahu bahwa semuanya baik-baik saja. Namun pada tahun 2007, ia merasa tidak begitu sehat. Dari pemeriksaan lebih lanjut ditemukan indikasi metastase ke tulang. Lalu ia menjalani lagi 6 siklus kemoterapi dan 10 kali terapi radiasi. Semua perawatan ini selesai pada November 2008. Sri pergi ke Penang pada Februari 2009 dan melakukan CT-Scan. Hasil yang didapat adalah sebagai berikut :

o        Lesi di T1 dan T5 Vertebra.

o        Nodul pada C5 dan Lesi pada L4 korpus vertebra.

o        Beberapa lesi lisis pada tulang iliaka kiri.

o        Kemungkinan terjadi sirosis hepatis.

Apa yang dapat kita pelajari dari keempat kasus tersebut ?

1.      Pasien-pasien ini telah mendapat dan menjalani semua perawatan medis yang diperlukan – operasi, kemoterapi, radioterapi dan obat-obatan oral – Tamoxifen dan Arimidex. Mereka telah mendapat yang terbaik yang ilmu kedokteran tawarkan namun kanker terus berlanjut.

2. Dokter ahli kanker mengatakan semua perawatan ini telah terbukti secara ilmiah, disetujui FDA didukung oleh data-data yang dibahas oleh rekan-rekan dalam jurnal kedokteran. Yang menjadi pertanyaan adalah : apa yang sangat istimewa dari semua ini ? Kenapa pasien-pasien ini masih mengalami metastase ? Apa yang dimaksud dengan “kebenaran dan kejujuran” yang sebenarnya dari semua perawatan ini?

3.      Apakah pernah terlintas pada pikiran seseorang bahwa ketidakmampuan untuk sembuh dankemampuan kanker tersebut untuk menyebar dapat terjadi karena perawatannya itu sendiri?

4.      Coba kita lihat kasus-kasus ini lagi. Fay di Malaysia mengalami metastase 1 tahun 4 bulan sesudah menyelesaikan semua perawatan medisnya. Rin di USA dan Sri di New Zealand mengalami metastase kurang lebih tiga tahun setelah perawatan medisnya, sedangkan Gay dari Australia mengalami metastase sekitar delapan tahun setelah perawatannya. Semua kasus ini menunjukkan masalah yang sama yang dihadapi sebagian besar pasien dimanapun di dunia ini. Bukan masalah dimana anda hidup dan apa atau siapa diri anda, melakukan hal yang sama dan menghasilkan hasil yang sama.

Einstein berkata : Insanity is to the do the same thing over and over again and expecting different results (kegilaan adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda). Apakah anda dapat belajar sesuatu kebijakan dari seorang ahli ilmu pengetahuan ini ? Pasien di USA, Australia, New Zealand, dan Malaysia menerima perawatan yang sama dan semuanya berakhir dengan hasil yang sama. Bertahun-tahun, saya mengamati cerita yang mirip diulang lagi dan lagi begitu banyak sampai-sampai metastase pada tulang dapat atau pasti terjadi setelah perawatan tersebut. Untuk mengharapkan hasil yang berbeda adalah apa yang Einstein katakan dengan insanity(kegilaan).

Pertanyaan-pertanyaan yang terngiang dalam pikiran kita : mengapa mereka yang mengetahui hal ini TIDAK melakukan sesuatu tentang itu ? Kenapa pasien dibiarkan dalam kegelapan dan tidak diperingatkan tentang kemungkinan-kemungkinan tersebut ? Mungkin kami dapat melakukan LEBIH dari sekedar meresepkan obat ? Tamoxifen seharusnya untuk mencegah terjadinya kekambuhan tetapi dari semua kasus diatas, Tamoxifen telah gagal secara menyedihkan. Kenapa kita tidak melihat ke belakang melihat apa yang telah kita lakukan sampai hari ini ?