Kanker Hati: Hanya Dua Bulan Untuk Hidup Namun Masih Tetap Sehat Setelah Satu Setengah Tahun Berlalu !

PC, seorang wanita berumur 63 tahun, telah menderita batuk selama sekitar tiga minggu. Kemudian setelah itu dia menderita demam. Dia lalu pergi ke rumah sakit tetapi dokter tidak bisa menemukan sesuatu yang salah pada dirinya. Kemudian dia disuruh pulang dengan membawa sejumlah Panadol (parasetamol).

Tidak puas, PC lalu pergi ke sebuah rumah sakit swasta di Ipoh. Pada pemeriksaan X – ray didada kirinya menunjukkan adanya efusi pleura (yaitu adanya cairan di paru-paru kirinya). Cairannya disedot keluar. Sebuah ultrasonagraphy ( dibagian perut ) pada tanggal 23 September 2009 menunjukkan sebuah lesi berukuran 2,6 cm ( diperkirakan hepatoma atau kanker hati) di lobus sebelah kanan. Selain itu, pada organ hatinya sudah terjadi sirosis hati ( mengeras ) dengan hipertensi portal dan adanya ascites ( adanya cairan dibagian perut ).   Organ Limpa nya membesar.

Biopsi dari lesi tersebut tidak dapat dilakukan mengingat telah terjadinya ascites, trombosit yang rendah dan keberadaan tumor yang terlalu dalam dan berdekatan dengan vena portal.

PC kemudian disuruh pulang. Tidak ada lagi pengobatan untuknya. Dia juga mengatakan bahwa ia hanya memiliki waktu dua bulan untuk hidup. Empat hari kemudian, 27 September 2009, PC datang ke CA Care untuk meminta pertolongan. Dia menceritakan masalah yang dihadapinya sebagai berikut :

• Kesulitan tidur
• Kurang nafsu makan
• Kelelahan
• Sedikit kesulitan bernafas
• Merasakan seperti ada otot yang kejang  di bagian dadanya  sekali-sekali.

Kanker Hati Bagian 1: Hanya Dua Bulan Untuk Hidup

PC datang menemui kami setelah diberitahu oleh salah satu pasien kami yang telah merasa kan sehat sekali setelah minum herbal kami.

Kami memberikan resep kepada PC dengan Kapsul A dan B, teh herbal untuk Paru no.1 dan    teh herbal untuk Paru no.2 , teh herbal untuk  Hati no.1 dan teh herbal untuk Hati no.2 .

Kami mengingatkan dia bahwa setelah meminum ramuan ini selama beberapa hari, ia mungkin akan  merasa lelah, mengalami diare, dan lain-lain.  Ini adalah krisis penyembuhan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan – lanjutkan saja minum ramuan itu.

Ini adalah herbal alami tanpa campuran aditif. Semua herbal ini harus diseduh. Rasa dan bau dari ramuan ini tidak enak. PC menjawab: “Jika saya ingin sembuh, saya harus minum semuanya ! ”

Setelah dua bulan minum herbal, PC kembali lagi dan memberitahu kami bahwa baik tidur dan nafsu makannya membaik. Demikian pula napasnya juga membaik. Tidak lagi merasakan adanya perasaan otot yang kejang di dadanya.

Satu tahun dan empat bulan kemudian, yaitu pada tanggal 14 Januari 2011, PC merasakan kondisi nya tetap baik. Berikut ini adalah rekaman video pada kunjungannya hari itu.

PC datang menemui kami setelah diberitahu oleh salah satu pasien kami yang telah merasa kan sehat sekali setelah minum herbal kami.

Kami memberikan resep kepada PC dengan Kapsul A dan B, teh herbal untuk Paru no.1 dan    teh herbal untuk Paru no.2 , teh herbal untuk  Hati no.1 dan teh herbal untuk Hati no.2 .

Kami mengingatkan dia bahwa setelah meminum ramuan ini selama beberapa hari, ia mungkin akan  merasa lelah, mengalami diare, dan lain-lain.  Ini adalah krisis penyembuhan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan – lanjutkan saja minum ramuan itu.

Ini adalah herbal alami tanpa campuran aditif. Semua herbal ini harus diseduh. Rasa dan bau dari ramuan ini tidak enak. PC menjawab: “Jika saya ingin sembuh, saya harus minum semuanya ! ”

Setelah dua bulan minum herbal, PC kembali lagi dan memberitahu kami bahwa baik tidur dan nafsu makannya membaik. Demikian pula napasnya juga membaik. Tidak lagi merasakan adanya perasaan otot yang kejang di dadanya.

Satu tahun dan empat bulan kemudian, yaitu pada tanggal 14 Januari 2011, PC merasakan kondisi nya tetap baik. Berikut ini adalah rekaman video pada kunjungannya hari itu.

Kanker Hati Bagian 2: Satu Setengah Tahun Masih Tetap Hidup !



Hasil pemeriksaan tes darah yang dilakukan selama satu setengah tahun terakhir :

Komentar

Setelah satu setengah tahun berlalu. PC tetap baik-baik saja, hasil tes darahnya tidak menunjukkan sesuatu keadaan yang memburuk , meskipun ada beberapa hasil tes yang nilai nya tidak baik. Trombositnya  rendah dan kami menyarankan kepada PC untuk minum perasan daun pepaya selama satu atau dua bulan. Setelah itu, lakukanlah tes darah lagi. Semoga trombosit nya akan meningkat. PC tidak tertarik untuk minum perasan daun papaya ini karena rasanya pahit sekali !

Seperti pada kebanyakan pasien, saat ini mulailah PC mempunyai keinginan untuk melihat apakah dia bisa mengurangi asupan harian teh herbal-nya ! Kami dapat memahami betul  bahwa hal itu benar-benar ” sulit, mengganggu atau bahkan memuakkan ”  harus minum ramuan herbal yang rasanya tidak enak, tetapi kami mengatakan kepada PC bahwa dia tidak punya pilihan lain, selain terus melakukan apa yang harus ia lakukan. Lanjutkan terus, tidak ada perubahan !

Kita harus mengingatkan PC apa yang terjadi ketika ia pergi menemui dokter di bulan September 2009. Dia diberitahu bahwa tidak akan ada lagi pengobatan untuknya. Pulang saja. Dia hanya memiliki waktu dua bulan untuk hidup.

Sekarang PC telah bertahan selama satu setengah tahun tanpa masalah. Dia dapat tidur dengan nyenyak, selera makannya baik dan tidak lagi merasakan nyeri. Kehidupannya telah membaik selama ini. Apa lagi yang ia minta ?

Kami mengingatkan PC bahwa dia harus belajar untuk bersyukur dan berterimakasih atas apa dia alami sekarang. Merasakan ” pahitnya ” herbal adalah suatu pengorbanan yang tidak ada artinya  untuk bisa bertahan hidup – dan juga untuk mendapatkan kehidupan yang baik !

Pesan kami ke PC dan kepada semua pasien: Berperilakulah yang  baik jika anda ingin hidup lebih lama ! Dan tidak alasan untuk bisa bertahan hidup, jika anda berpikir bahwa minum teh herbal adalah tugas yang tak tertahankan. Dan di atas semua ini, belajarlah untuk berterima kasih dan bersyukur atas apa yang anda miliki dan keberadaan anda selama ini.

 

Bedah untuk Kanker Hati: Sukses delapan puluh persen?

Wang (bukan nama sebenarnya, M872), pria berusia 48 tahun dari Medan dan telah hidup dengan “darah-di-tinja-nya” selama sepuluh tahun.  Masalah ini diduga karena disebabkan oleh  penyakit wasirnya.

Pada November 2010 ia datang ke sebuah rumah sakit swasta di Penang untuk pemeriksaan medis. Kolonoskopi pada usus besar-nya tidak menunjukkan sesuatu yang bermasalah. Namun, USG pada bagian perutnya menunjukkan sesuatu tanda kesehatannya tidak baik , ada  massa berukuran 7 x 9,2 cm di lobus sebelah kanan hatinya.

Hasil pemeriksaan darah untuk Hepatitis B  positif.  Pemeriksaan fungsi hati menunjukkan peningkatan enzim hati – ALT = 101, SGOT = 43 dan GGT = 107. Alpha-fetoprotein menunjukkan kondisi normal = 4,84.

CT scan yang dilakukan pada tanggal 12 November 2010 menunjukkan adanya massa berukuran 8.2 x 7.2 cm yang diperkirakan dari suatu hepatoma pada segmen 8 dari hatinya. Sebuah lesi padat kecil juga ditemukan di segmen 7 berukuran 1,8 cm x 1,2. Hal ini mungkin merupakan anak dari lesi hepatoma tersebut. Sebuah kista biasa ditemukan juga pada segmen 8 di bawah hemidiaphragm kanan.

Wang kemudian pergi menemui dokter lain di rumah sakit yang lain.  CT scan dilakukan sekali lagi pada tanggal 13 November 2010. Hasilnya sama dengan yang dilakukan sehari sebelumnya.

Dokter bedah menyarankan Wang agar menjalani operasi untuk mengangkat tumor. Operasi itu akan menelan biaya RM 40.000. Setelah operasi, Wang harus menjalani kemoterapi. Biaya setiap kemoterapi tersebut berkisar antara RM 4.000 – RM 5.000.

Wang dan istrinya kecewa dan memutuskan untuk kembali ke Medan tanpa melakukan pembedahan ataupun kemoterapi. Seseorang yang mengenali kondisi yang berbahaya tersebut lalu menyarankan agar mereka datang ke CA Care untuk meminta nasihat. Kami menghabiskan waktu lebih dari satu jam untuk berbicara dengan mereka.

Di bawah ini adalah bagian rekaman video dari percakapan kami pada hari itu.

Komentar:

1. Sebagian besar dari pembicaraannya dilakukan oleh istri Wang. Dia hanya dapat berbicara bahasa Mandarin ! Menurut pendapat saya, dia adalah seorang yang “cerdas dan bijak” walaupun dia bukanlah seorang yang terpelajar.

2. Dia berkata: ” Ketika dokter (ahli bedah) mengatakan bahwa suami saya harus        menjalani operasi dan kemoterapi, saya sudah tahu bahwa ini adalah kasus yang serius”. Hal ini menunjukkan bahwa dia bukan gadis desa yang bodoh naif – tidak masalah apakah dia tidak tahu cara membaca lapoan CT scan ataupun hasil pemeriksaan darah.

3. Saya bertanya kepadanya: “. Apakah Anda bertanya kepada dokter jika operasi dapat mengobati kanker nya?” Jawab nya, ya. Dokter bedah tersebut menjawab : Kebanyakan pasien yang datang kepada kami tidak pernah menanyakan hal ini ! Bagaimana mungkin? Mereka bahkan tidak ingin mengetahui bagaimana prognosisnya!

4. Dia lalu bertanya kepada dokter: “Bagaimana jika kita tidak melakukan  Kemoterapi ? “. Dokter bedah itu menjawab: ” Ini seperti memotong lallang. Anda perlu menggunakan bahan kimia setelah anda memotongnya. Hanya dengan cara seperti itulah kemudian lallang itu dapat dihilangkan.” Jawaban seperti itu adalah benar karena wanita ini bekerja di ladang ..dia mengerti dengan baik. Untuk membunuh lallang anda perlu menggunakan racun kimia. Kadang-kadang tanah harus dicangkul kembali  atau digemburkan untuk menyingkirkan rimpang. Kemudian wanita ini berkata: ” Lalu dengan cara seperti itukah yang akan dilakukan terhadap suami saya ? ”  Kesimpulannya adalah – apa yang akan terjadi kepada pasien jika anda meracuni dia seperti anda meracuni lallang itu ?

5. Dia juga menanyakan kepada dokter bedah : ” Saat anda membedah suami saya, seberapa besar kesempatan penyakit kankernya dapat sembuh ? “Sekali lagi pertanyaan semacam ini tidak pernah ditanyakan oleh kebanyakan pasien sebelum mereka menjalani operasi. Dokter bedah itu menjawab: “Lebih dari 80 persen tingkat sukses keberhasilannya.”

6. Saya bertanya kepada wanita itu: ” Dokter mengatakan 80 persen sukses – apakah anda percaya kepadanya ? ” Dia menjawab TIDAK. Saya bertanya lagi , mengapa ?. Dia berkata: “Ada satu pernyataan dari dokter tersebut yang tetap melekat didalam benak saya. Sebelumnya saya bertanya kepada dokter tentang risiko yang akan terjadi – berapa besar keyakinannya bahwa segala seuatunya akan berjalan dengan baik. Jawab dokter kepada wanita ini: “Sama seperti halnya bila anda terbang dari Medan ke Penang. Perusahaan penerbangan tidak akan menjamin bahwa anda bebas dari risiko. ”  Meskipun dokter secara tidak langsung mengakui bahwa pengobatannya mempunyai risiko, tetapi dari jawabannya  sangat banyak menyiratkan adanya suatu risiko … dan wanita itu telah mendapatkan jawabannya.

7. Kemudian dalam percakapan kami, saya mengetahui bahwa kakaknya Wang juga menderita kanker hati. Dia menjalani kemoterapi. Dia meninggal setelah menjalani empat siklus. Sementara itu banyak pasien atau orang yang mereka sayangi ternyata telah menjadi naif – jangan salahkan mereka. Mereka telah menjalani banyak pengalaman pahit dalam hidupnya dan mereka tidak siap untuk melupakannya. Bagi orang-orang seperti itu, dokter memerlukan banyak upaya untuk meyakinkan mereka agar mau menerima kemoterapi lagi.

8. Saya merasa kasihan kepada pasangan ini. Mereka sudah jauh-jauh datang ke Penang dan telah mengeluarkan uang begitu banyak. Ya mereka dapat menjalani pengobatan… tidak ada masalah tentang hal itu selama mereka dapat membayar tagihan rumah sakit …. tetapi penyembuhan ternyata sesuatu yang sulit didapat.

Ada satu pelajaran penting yang bisa kita pelajari dari cerita ini. Sejauh mana pernyataan yang dibuat oleh seorang dokter dapat dipercaya? Apakah sudah didukung oleh statistik dan penelitian yang baik?

Dalam pembahasan ini saya teringat tentang apa yang ditulis oleh beberapa dokter.

Inilah kutipannya:

Dr Block, dia adalah seorang dokter wanita , menulis dalam kata pengantar buku “Fight for Your Health” (Berjuang untuk Kesehatan Anda):  “Jangan hanya asal mengikuti apa yang dokter anda katakan. Cari tahu kebenaran bagi diri anda sendiri. ”

Dr Mendelsohn, dalam bukunya Confessions of a Medical Heretic (Pengakuan dari seorang ahli medis yang menganut faham bebas atau berseberangan dengan doktrin2 dalam ilmu kedokteran yang sudah berlaku ) menulis: “Dokter secara umum harus dianggap sama setingkat dengan penjual mobil bekas. Apapun yang dikatakan atau direkomendasikan oleh dokter, anda harus terlebih dahulu menyadari bahwa hal tersebut akan menguntungkan dia … karena dokter bedah menerima pembayaran ketika ia melakukan operasi pada anda, bukan ketika anda diobati dengan cara yang lain. ”

Dr Chestnut, dalam bukunya, Lying With Autority (Berbohong Dengan Kekuasaan) menulis: “Seseorang telah melakukan kebohongan -kebohongan dengan menggunakan kekuasaannya. Pada sebagian besar pembedahan dan pemberian obat-obatan, termasuk kemoterapi,  tidak mengobati atau menyembuhkan penyakit ; melainkan hanya mengobati  gejala – gejalanya saja  dan  seringkali dengan efek samping yang mematikan “.

Dr Hamilton dalam bukunya, The Scapel and the Soul (Pisau bedah dan Jiwa) menulis: “Sebagai dokter, kami umumnya tidak melakukan kebohongan secara langsung. Kami hanya tidak berbicara tentang kebenaran dengan sepenuhnya.”

Tidak baik untuk mengatakan bahwa dokter melakukan kebohongan – tapi kutipan di atas tampaknya mengatakan bahwa ada beberapa dokter yang  telah melakukannya, meskipun mereka hanya mewakili minoritas.

Tapi saya harus mengatakan , bahwa saya suka dengan apa yang telah Dr Hamilton katakan: “Kami umumnya tidak melakukan kebohongan secara langsung. Kami hanya tidak berbicara tentang kebenaran dengan sepenuhnya.” Dalam cerita ini, dokter bedah tersebut memberitahukan Wang dan istrinya bahwa pengobatan tersebut mempunyai lebih dari 80 persen tingkat kesuksesannya.” Jawabannya , bisa benar sekali ataupun bisa benar-benar salah !

Mari saya jelaskan:

Dari perspektif dokter bedah , ia benar-benar tepat mengatakan bahwa pengobatan tersebut memiliki lebih dari 80 persen tingkat keberhasilannya. Kerja seorang dokter bedah adalah membedah pasien. Setelah itu ia menyerahkan pasien ke onkologi atau ke orang lain, sepanjang urusan yang menyangkut bagian dia dalam memerangi cancer telah selesai.

Dengan teknologi yang canggih pada saat ini , operasi bedah membawa resiko yang minimal – seperti kita terbang dalam sebuah pesawat udara. Kemungkinan terjadinya kecelakaan pesawat itu ada ,  tetapi barangkali juga tidak ( ya , hal itu bisa terjadi ! ).     Mati disebabkan karena operasi juga dapat terjadi , walaupun mungkin juga tidak.

Tetapi apakah ini yang dicari oleh pasien – hanya tidak mati setelah operasi?  Dari sudut pandang Wang dan istrinya, mereka mencari kesembuhan dari kanker nya ! Bagi mereka, jawaban 80 persen keberhasilan mempunyai makna yang berbeda sama sekali. Kesembuhan berarti benar-benar menghilangkan kankernya dan tidak akan menyerang kembali. Inilah yang semua pasien inginkan.

Oleh karena itu, jika pasien pasien dibuat percaya bahwa mereka dapat mencapai kesempatan untuk sembuh sebesar 80 persen, bilamana mereka menjalani operasi dan kemoterapi … hal tersebut adalah benar benar keliru.

Saya ulangi lagi apa yang telah dikatakan oleh Dr Hamilton: ” Kami hanya  tidak berbicara tentang kebenaran dengan sepenuhnya.” Apakah ini berarti bahwa dokter dengan sengaja tidak memberitahu sebagian informasi penting yang pasien harus ketahui ? Jika demikian, apakah itu adil ? Saya pikir informasi paling penting yang tidak diberitahukan kepada  pasien adalah , bahwa meskipun operasi ini aman  tetapi ini TIDAK akan menyembuhkan kanker.

Kemungkinan kekambuhan setelah menjalani operasi yang sukses adalah sangat tinggi. Jika anda mengikuti studi kasus yang disajikan di website ini, anda akan tahu bahwa ada beberapa pasien yang meninggal tidak lama setelah mereka menjalani operasi hati.

Mungkin inilah sebabnya mengapa Dr Mendelsohn berkata kita harus menganggap dokter pada umumnya dengan “sama setingkat dengan penjual mobil bekas?”

Pada artikel ini saya telah menahan diri untuk memberi komentar, jika memang saran untuk suatu tindakan operasi tersebut adalah tepat ataupun sebaliknya. Saya percaya bahwa dokter telah menyarankan pilihan ini dengan maksud yang terbaik. Bahkan , kita perlu diingatkan bahwa menurut seorang dokter spesialis hati , hanya 10% – 30% saja dari mereka yang mengidap HCC cocok untuk dioperasi.

Arti pembedahan bukanlah jawaban untuk semua kasus kanker hati. Juga, operasi hanya cocok untuk tumor yang berukuran kecil. Sekali lagi, kata-kata Dr Mendelsohn kembali lagi masuk dalam ingatan saya, mereka melakukan hal ini ” karena dokter bedah menerima pembayaran ketika ia melakukan operasi pada anda “.

Izinkan saya menyimpulkan artikel ini dengan mencoba menjawab pertanyaan saya sebelumnya: sejauh mana pernyataan “sesudah operasi ada lebih dari 80 persen sukses” itu benar. Saya meluangkan waktu lagi untuk membaca buku-buku onkologi saya. Berikut ini adalah fakta-fakta ilmiah yang ditulis oleh para spesialis hati. Bacalah dengan seksama dan buatlah kesimpulan sendiri.

Tinjauan Literatur Medis pada Kanker Hati (Hepatocellular Carcinoma – HCC)

Laporan Penelitian:

Ikeda et al, Cancer, 71:19-251993, melaporkan: Delapan puluh tiga pasien dengan HCC dirawat dengan operasi pembedahan kuratif selama 8 tahun terakhir. Tidak ada korban kematian karena operasi tersebut. Tingkat kekambuhan setelah operasi pembedahan dipenghujung tahun ke 1, 2, dan 3, — masing-masing adalah 37,0%, 57,1%, dan 71,6%.

Iwatsuki et al., Ann Surg. 1991 September; 214 (3): 221-229, melaporkan: Dari tahun 1980 sampai 1989, ada 76 pasien dengan HCC yang menjalani pembedahan subtotal hati. Hanya 12 pasien yang hidup lebih dari 5 tahun.

Vauthey, et al, American J of Surgery; Vol: 169, pg.. 28-35, 1995, melaporkan: Antara 1970 dan 1992, ada 106 pasien yang menjalani pembedahan hati untuk HCC di Memorial Sloan-Kettering Cancer Center. Secara keseluruhan ketahanan hidupnya adalah masing-masing sebesar : 41% dan 32% dalam kurun waktu 5 dan 10 tahun.

Nagao et al., Ann Surg. 205 (1): 33-40; 1987 melaporkan: Ada sembilan puluh empat pasien menjalani pembedahan hati  dari tahun 1963 sampai 1985. Tingkat ketahanan hidup masing-masing selama 1, 3 dan 5 tahun adalah 73%, 42% dan 25%.

Kambuh karena karsinoma menjadi penyebab utama kematian, ada 56% (42 pasien) yang meninggal setelah pulang dari rumah sakit. Faktor prognosis yang mempengaruhi prognosis jangka panjang adalah: kondisi alpha-fetoprotein sebelum pembedahan (kurang dari atau sama dengan 200 vs lebih besar dari 200 ng / mL), besarnya tumor (kurang dari atau sama dengan 5 cm vs lebih besar dari 5 cm), dan tumor kapsul.

Shyh-Chuan Jwo, et al. Hepatologi, Vol. 1367-1371; 1992 melaporkan: Sebanyak 238 pasien yang menjalani pembedahan kuratif hati selama 10 tahun terakhir yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran tumor, bentuk tumor dan ploidi DNA adalah factor-faktor yang digunakan dalam memprediksi terjadinya kembali tumor setelah operasi pembedahan untuk HCC.

Pasien dengan ukuran tumor kurang dari atau sama dengan 5 cm atau penampilan tumor  jenis soliter, mempunyai lebih kelangsungan hidup bebas-penyakit  daripada mereka yang memiliki ukuran tumor lebih besar dari 5 cm atau jenis tumor yang menampilkan beberapa nodul atau nodul anak ( multiple nodules types).

Poon et al. dari Pusat untuk Studi Penyakit Hati, Universitas Hong Kong Medical Center, Rumah Sakit Queen Mary, Hong Kong, Ann Surg. 234 (1): 63-70 2001, menulis:

§ HCC terkenal kejam dalam memberikan prognosis buruk karena sifat invasifnya dan sering dihubungkan dengan sirosis.

§ Pembedahan hati tetap menjadi pengobatan pilihan untuk HCC.

§ Selama dekade terakhir ini, dokter bedah hati telah memfokuskan banyak upaya pada peningkatan teknik pembedahan dan pengurusan peri-operatif untuk operasi pembedahan HCC, sehingga hasil peri-operatif sangat meningkat.  Pada akhir 1990-an, kajian dari lembaga ini dan yang lainnya telah menunjukkan bahwa tingkat kematian- 0 ( zero ) di rumah sakit ataupun pada saat pembedahan dapat dicapai pada sekelompok besar dari para pasien.

§ Prognosis jangka panjang setelah pembedahan HCC tetap tidak memuaskan. Kelangsungan hidup bebas penyakit menjadi tidak baik karena timbulnya kekambuhan amat tinggi. Menurut laporan, angka kekambuhan kumulatif dalam kurun waktu 5 tahun adalah 80% sampai 100%.

§ Laporan pada tahun 1990-an dari pusat bagian Timur dan Barat telah mendokumentasikan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun secara keseluruhan sebesar 26% – 44% setelah pembedahan untuk HCC.

Buku teks Onkologi

Prinsiples of Internal Medicine oleh Harrison, 15th Ed., ms. 589.

  • Stadium HCC didasarkan pada ukuran tumor, asites (ada atau tidak ada), bilirubin dan albumin.
  • Jika tidak diobati, sebagian besar pasien meninggal dalam waktu 3 sampai 6 bulan setelah diagnosa.
  • Jika diketahui sejak awal, kelangsungan-hidup adalah 1 ~ 2 tahun setelah pembedahan.
  • Operasi pembedahan menawarkan satu-satunya kesempatan untuk kesembuhan, namun hanya beberapa pasien saja yang memungkinkan tumornya dilakukan pembedahan pada saat presentasi , dikarenakan telah terjadinya sirosis atau penyebaran yang jauh.
  • Percobaan secara acak tidak menunjukkan adanya manfaat kelangsungan hidup setelah dilakukan Chemoembolization.
    Hati tidak dapat mentoleransi dosis radiasi yang tinggi.
  • Penyakit ini tidak responsif terhadap kemoterapi.

The American Cancer Society’s Clinical Oncology, 3rd Ed., ms. 399-401.

  • Hanya 15% sampai 30% saja dari pasien dengan HCC yang merupakan calon untuk suatu operasi.
  • Keaadan yang membuat HCC tidak dapat dioperasi, disebabkan oleh penyebaran penyakit didalam organnya sendiri dan penyebaran dari tumornya ( metastasis ).
  • Ukuran tumor yang besar, keterlibatan bilobar dan kehadiran sirosis tidak akan  menghalangi suatu tindakan operasi pembedahan , tetapi mempunyai efek terhadap kematian dan kondisi harapan hidup.
  • Pembedahan pada umumnya terbatas pada pasien yang mempunyai beberapa lesi kecil  serta mereka yang telah mengidap masalah fungsi hati.
  • Angka kesembuhan selama lima tahun untuk semua HCC yang telah mengalami pembedahan hepatik kurang lebih sekitar 30%.
  • Pengunaan Radioterapi dalam perawatan HCC ini terbatas.
  • Kemoterapi merupakan pengobatan paliatif. Pasien yang merespon kemoterapi akan bertahan selama 9 sampai 12 bulan.
  • Kelangsungan hidup rata-rata  untuk pasien yang menerima kemoterapi kurang lebih sekitar 5 bulan (kelangsungan hidup selama 1 tahun adalah 27% dan yang 2-tahun adalah 8%).
  • Kesembuhan dan kelangsungan-hidup jangka panjang hanya mungkin terjadi jika tumor bisa dipotong semuanya.

Martin Abeloff, et al. Clinical Oncology, Vol: 2, ms. 1697, 1703-1721.

  • Kelangsungan-hidup rata-rata pasien di Hong Kong dengan HCC yang tidak dapat dioperasi dimana diameter tumor lebih besar dari 6 cm dan tanpa pemberian pengobatan – adalah 3,5 minggu.
  • Ukuran Tumor pada saat  diagnosa merupakan variabel prognostik yang penting.
  • Waktu penggandaan tumor berkisar antara 1 ~ 19,5 bulan, dengan rata-rata 6,5 bulan.
  • Kajian di Jepang menunjukkan bahwa bagi pasien dengan sirosis dan HCC berdiameter kurang dari 3 cm dan tanpa pemberian pengobatan, tingkat kelangsungan-hidup 1 tahun adalah 90,7%, 2-tahun adalah 55,0%, dan 3-tahun adalah 12,8%.
  • Sayangnya hanya 10 – 15% dari pasien yang baru didiagnosa HCC adalah kandidat untuk operasi pembedahan.
  • Hadirnya sirosis merupakan suatu tanda prognosis negatif.
  • Angka kematian pada operasi pembedahan hati untuk pasien HCC kurang dari 10%, tapi angka kematian sesudah operasi masih tetap tinggi – yaitu antara 40 sampai 60%.
  • 85% dari kambuhnya penyakit hati  timbul dalam waktu 2 tahun sesudah operasi.
  • Hanya ada sedikit temuan dari aktivitas cara pengobatan yang signifikan atas setiap upaya kemoterapi . Juga tidak ada bukti yang mendukung dari penggunaan rutin suatu kombinasi kemoterapi.

Operasi pembedahan hati adalah merupakan suatu pilihan bagi pasien dengan tumor yang berukuran kurang dari 5 cm dengan syarat tanpa adanya kehadiran sirosis. Di Pusat- pusat Kesehatan yang telah berpengalaman , angka kematian pada saat operasi dari pasien-pasien seperti ini adalah kurang dari 2 %. Dan setelah menjalani operasi pembedahan hati, sebanyak 75% pasien akan mengalami kambuh intrahepatik dalam kurun waktu 5 tahun.

Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/197319-treatment

Untuk banyak lagi cerita tentang kanker hati, kilk link ini:  http://cancercareindonesia.com/category/kanker-hati/

Hanya Dengan Herbal Ia Hidup Lebih Dari Lima Tahun!

Seam (B984), seoarang wanita berusia 49 tahun, didiagnosa hepatoseluler karsinoma pada Agustus 2003. Hasil CT-abdomen pada 26 Agustus 2003 mengindikasikan:

1.   Massa pada segmen 6 dan 7 liver sebesar 8,7 x 6,6 x 10 cm.

2.   Ruptur pada lobus caudatus.

3.   Nodul-nodul peritoneal.

4.   Trombosis vena porta.

5.   Splenomegali (pembesaran limpa).

6.   Dan kemungkinan metastase ke limpa.

Menjadi seorang miskin (penjahit wanita pada sebuah pabrik), Seam tidak dapat membiayai terapi medis pada rumah sakit swasta. Dokter pada rumah sakit pemerintah memberitahu ia bahwa tidak ada yang dapat dilakukan untuknya. Seam datang pada kami pada awal Januari 2004 dan memulai terapi herbal kami. Setelah mengkonsumsi herbal, ia merasa lebih baik. Ia dapat makan dan tidur dengan baik dan lebih berenergi. Ia tidak merasa pusing lagi. Ia juga bertambah berat badan dan ekspresi wajahnya terlihat baik dan sehat.

Pada saat ini ditulis, Maret 2009, lebih dari 5 tahun sejak ia pertama kali datang kepada kami, Seam sehat-sehat saja – menjalani hidup normal yang bebas dari rasa sakit.

 

Ia Menolak Operasi dan Kemoembolisasi yang Gagal

Goh adalah seorang pria berusia 75 tahun dari Indonesia. Ia menjalani pemeriksaan medis pada tahun 2008 dan dokter menemukan SGOT (AST) meninggi, mengindikasikan ada sesuatu yang tidak beres di livernya. Goh melakukan ultrasonografi dan hasilnya adalah terdapat tumor pada lobus kiri liver nya sebesar 6,3 x 8,9 cm.

Goh kemudian ke singapura dan melakukan CT-Scan, dan dipastikan terdapat tumor pada liver nya. Dokter menyarankan Goh melakukan operasi reseksi tumor. Prosedur ini menghabiskan biaya S$20.000. Goh menolak operasi.

Setelah kembali ke Indonesia, Goh diberitahu tentang sebuah rumah sakit di China. Goh pergi ke China. Sekali lagi dokter menyarankan untuk operasi. Dan sekali lagi dokter menyarankan untuk dioperasi. Goh menolak kembali. Bagaimanapun juga, ia setuju untuk melakukan kemoembolisasi. Ini menghabiskan biaya sekitar 10.000 RM. Setelah terapi kemo, Goh kembali ke indonesia. Sekitar satu bulan kemudian, ia kembali ke China untuk terapi kedua. Tetapi, pada saat pemeriksaan, dokter memberitahu Goh kalau kemoembolisasi yang dilakukan sebelumnya tidak efektif. Terapi lebih lanjut dibatalkan. Goh kembali ke Indonesia dan mulai mengkonsumsi suplemen. Ia juga memonitor AST nya secara reguler selain melakukan USG. Nilai AST dan ukuran tumor terus meningkat. USG yang dilakukan pada 12 Maret 2009 (dibawah) mengindikasikan tumor berukuran 9,7 cm x 8,0 cm.

Pada 22 Maret 2009, Goh dan putranya mencari kami untuk bantuan. Kami mengirimkan Goh Full Blood Test dan meresepkan Capsule A, dan herbal liver milik kami: Liver-P, Liver 2, dan LL Tea.

  5 Dec. 08 13 Jan. 09 23 March 09
ESR n/a n/a 4
Haemoglobin n/a n/a 14.2
Platelet n/a n/a 223
Total biliburin n/a n/a 42
Alkaline phosphatase n/a 68 68
SGOT /AST 262  H 699  H 451  H
SGPT / ALT 11 23 21
GGT n/a n/a 103  H
Alpha-fetoprotein n/a 2.9 4.1
CA 125 n/a n/a 6.6

Komentar:

Jika dilihat biasa saja, Goh tidak menunjukan gejala apapun. Ia terlihat sehat. Tentu, tapi ia memiliki tumor pada livernya. Dokter berkata itu berbahaya dan harus disingkirkan. Tetapi, coba dipikirkan. Ada pilihan pada kasus ini. Goh dapat belajar bagaimana untuk hidup dengan tumor, dapat makan, tidur, dan bergerak bebas tanpa masalah. Atau ia melakukan operasi. Tetapi apa efek dari operasi yang dilakukan padanya setelah itu adalah yang menjadi pertanyaan. Kita perlu untuk melihat dan mempelajari kasus di bawah ini:

1.   Doris, berusia 46 tahun dan melakukan operasi untuk memindahkan tumor di livernya di singapura. Ia melakukan kemoembolisasi. Dalam waktu 8 bulan ia meninggal.

2.   Sam, berusia 51 tahun, terdapat tumor berukuran 3,5 x 3,5 cm di livernya dan dioperasi di Penang. Ia melakukan kemoembolisasi dua kali. Terapi ini tidak berhasil. Hampir 5 bulan kemudian, nilai alpha-fetoprotein –nya mencapai 239.595,00. Dokter bedah tidak mau menemuinya lagi.

3.   Suria, berusia 37 tahun dan melakukan operasi di Singapura untuk mengeluarkan tumor pada livernya. Dokternya di Indonesia memberitahu ia untuk melakukan operasi dan ia mungkin dapat hidup 10 tahun lebih lama. Dokter bedah di Singapura berkata ia memiliki 98% kemungkinan. Tiga bulan kemudian, Suria mengalami kekambuhan dan meninggal ketika akan melakukan kemoterapi ke onkologis.

4.   Pang, berusia 61 tahun. Ia memiliki tumor berukuran 5,2 x 5,3 x 6,5 cm pada lobus kanan livernya dan kanker juga bermetastase ke paru-paru nya.

Berdasarkan kisah di atas, Goh adalah yang tertua diantara mereka semua. Ia berusia 75 tahun dan tumor di livernya berukuran 9,7 cm x 8,0 cm, yang terbesar diantara yang lain. Apa yang anda pikirkan, apa yang akan terjadi pada Goh jika ia melakukan saran dari dokter bedah di Singapura danChina untuk melakukan operasi?

Dalam kata pembukaan buku: Cared cured naturally yang ditulis Betty Khoo, Chris menulis ini:Setelah satu dekade menolong pasien kanker, saya sampai pada kesimpulan kecil ini: Semakin terpelajar anda atau semakin banyak uang yang anda miliki, semakin tinggi kemungkinan anda akan mati karena kanker! Kematian ini mungkin akibat dari terapi daripada penyakit itu sendiri. Saya sering melihat bahwa dengan tidak melakukan apapun mungkin akan lebih baik daripada melakukan sesuatu!

Ada juga yang berkata: Seorang manusia yang terpelajar tidak harus bijaksana, seorang bijaksana tidak harus terpelajar.

 

 

Operasi dan PEI Gagal, Pang Diminta untuk Mengkonsumsi Obat Oral yang Mahal

Pang (H5) adalah seorang pria berusia 61 tahun. Beberapa waktu pada bulan Februari 2008, ia mengalami rasa nyeri pada abdomen. Hasil ultrasonography menunjukan ada massa bulat berbatas tegal berukuran 5.2 x 5.3 x 6.5 cm pada lobus kanan heparnya (Segmen 6).

Pang dirujuk ke spesialis bedah di rumah sakit swasta. Hasil CT-scan menunjukan hepatoma lobus kanan dengan ukuran 8 x 7 x 8 cm pada segmen 6 dan 7. Pang menjalani operasi reseksi tumor pada 25 Maret 2008. Operasi ini menghabiskan biaya 20.000 RM.

Laporan Histologi

Berat liver 305 gm, dengan ukuran 135 x 90 x 75 mm. Permukaan luar ireguler dan nodular. Nodul pada liver: hepatocellular carcinoma (karsinoma hepatoseluler) yang berdifernsiasi baik, tipe trabekuler, menginfiltrasi kapsula hepar, stadium III (T3NxMx).

Pang diberitahu bahwa operasi ini akan mengangkat tumornya tetapi tidak akan menyembuhkannya. Ia memerlukan kemoterapi. Sayangnya, dokternya tidak dapat memberinya kemoterapi karena ia tidak dapat menemukan “pembuluh darah”.

Setelah 5 bulan kemudian, pada September 2008, Pang mengalami kekambuhan. Timbul dua nodul baru pada liver yang masih ada. Tidak ada banyak lagi yang dapat dokter bedah lakukan. Ia diminta untuk melakukan percobaan klinis yang dilakukan di luar rumah sakit. Terapi ini dikenal dengan PEI (percutaneous ethanol injection) dan diberikan bebas dari biaya.

Pang menjalani terapi ini dari September 2008 sampai Februari 2009 dan melakukan total 5 sesi. Tapi hasilnya mengecewakan. Hasil CT-Scan menunjukkan metastasis ke paru-paru. Jumlahnya ada 5 nodul pada paru-paru kiri dan kanan. Ukurannya berdiameter sekitar 6 sampai 12 mm masing-masing. Hasil CT-Scan juga menunjukkan 2 partially nekrotik tumor pada Segmen 7/8 dari livernya. Ukurannya berdiameter kira-kira 4,5 x 6 cm dan 3,5 x 3,5 cm masing-masing.

Tidak ada banyak lagi yang dokter bedah dapat lakukan. Pang kemudian pindah mencari onkologis. Onkologi tersebut menawarkan pada Pang obat kemo oral yang akan menghabiskan dananya sebesar 20.000 RM per bulan (pada cerita lain Sam mendapat Nexavar yang juga menghabiskan 20.000 RM per bulan). Dibalik biaya yang tinggi itu, Pang diberitahu oleh onkologisnya bahwa obat ini hanya 20 sampai 30 % efektif (apapn itu maksudnya!). Pang menolak. Inilah yang dikatakannya kepada kami:

Pang: Dokter itu berkata ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk paru-paru saya. Saya pergi ke  GH untuk menanyakan pendapat kedua. Satu dokter muda di bagian paru-paru mempelajari kasus saya dan berkata: Maaf sekali paman, anda hanya mempunyai enam bulan sampai satu tahun dari sekarang. Setelah itu ia mengirim saya ke bagian onkologi. Dokter onkologi berkata, Lakukan Kemo.

Chris: tentu saja anda dapat melakukan kemo. Tetapi apakah anda akan hidup atau mati, itu adalah persoalan lain.

P: Ada dua jalan. Satu dengan kemo. Jalan lain dengan obat-obatan. Jika dengan obat-obatan, itu sangat mahal.

C: Berapakah biayanya?

P: Di Lam Wah Ee menghabiskan biaya 20.000 RM bukan dua ribu, itu adalah dua puluh ribu.

C: RM 20.000 per bulan?

P: Ya, dan keefektifannya hanya 20 sampai 30 % dan itu menghabiskan biaya dua puluh ribu. Jika saya menjual rumah saya, paling tidak saya dapat mengkonsumsi obat itu selama satu tahun – tanpa harapan dan tanpa garansi.

 

Kanker Hati: Dia Meninggal Setelah Bedah-Buka-Tutup-RM10.000

Goh (bukan nama sebenarnya, H438) adalah seorang pria 36 tahun. Pada bulan Juni 2010 ia mengalami diare. Tekanan darahnya rendah. Ia dibawa ke rumah sakit swasta di kota kelahirannya.  USG dilakukan dan dia diberitahu bahwa hatinya tidak baik. Setelah tiga hari dia keluar dari rumah sakit. Kesehatan kembali normal. Dua minggu kemudian perutnya menjadi keras. Dia kembali ke rumah sakit lagi. CT scan dilakukan yang menunjukkan hepatoma – atau kanker hati.

Goh datang ke rumah sakit swasta di Penang. Ia diminta untuk menjalani operasi. Setengah dari hatinya perlu di ambil. Operasi dilakukan namun kemudian dibatalkan. Ini operasi buka-tutup biaya dia RM10.000.

Tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan, Goh dan keluarganya datang untuk mencari saran kami pada tanggal 24 Oktober 2010. Masalah yang Goh hadapi adalah nyeri di daerah bahu. Sakit ini hanya muncul setelah operasi. Sebelum itu tidak ada rasa sakit. Dia tidak bisa tidur. Matanya merah.Kedua kaki bengkak.Napasnya sulit.

Laporan CT scan tanggal 15 Oktober 2010 menyatakan: “Kedua lobus dari hati yang membesar dan dipenuhi dengan beberapa lesi. Lesi terbesar di segmen 4b ukuran 15 x 20 x 15.6 cm.  Kesimpulan: multicentric hepatoma dengan asites minimal dan melebar kiri saluran intrahepatik.”

Hasil tes darah menunjuk enzim hati yang tinggi. SGOT = 203, SGPT = 56, Alkaline fosfatase = 736 dan Alpha-fetoprotein = 213,73.

Sayangnya, Goh meninggal tidak lama setelah berkonsultasi dengan kita.

Komentar: Tidak perlu bagi saya untuk memberikan komentar atas kasus ini. Fakta berbicara untuk dirinya sendiri. Goh meninggal kurang lebih dua bulan setelah operasi buka-tutup itu. Bagaimana menurut Anda – apakah ia harus mati lebih awal jika tidak di operasi?

Ini adalah salah satu buku yang saya percaya setiap orang harus baca – Confession of a Medical Heretic (Pengakuan dari Seorang Heretic Medis) oleh Robert Mendelsohn. Penulis bukan orang biasa. Di Amerika Syarikat, ia menulis sebuah kolom sindikasi berjudul “Dokter Rakyat”. Dia adalah seorang profesor di University of Illinois Medical School dan direktur Chicago Michael Reese Hospital.Dia juga Ketua Komite Lisensi Medis untuk negeri Illinois. Dalam Bab 3 dari bukunya, Dr Medelsohn mengakatakan:

  • Saya percaya bahwa pada generasi saya ini, dokter akan diingat untuk … jutaan upacara mutilasi yang dilakukan setiap tahun di kamar operasi.
  • Perkiraan konservatif … mengatakan bahwa sekitar 2,4 juta operasi yang dilakukan setiap tahun tidak diperlukan.
  • Perasaan saya adalah bahwa di sekitar sembilan puluh persen dari operasi adalah buang-buang waktu, uang, tenaga, dan kehidupan.
  • Mungkin pada masa hadapan, operasi kanker akan dianggap dengan jenis yang sama horor yang sekarang kita menganggap penggunaan lintah dalam waktu George Washington.
  • Keserakahan memainkan peran dalam menyebabkan operasi yang tidak perlu … tidak ada keraguan bahwa jika Anda menghapus semua operasi yang tidak perlu, banyak ahli bedah tidak kan ada bisnis lagi.
  • Ketidaktahuan memainkan bagian dalam banyak operasi yang tidak perlu. Keserakahan dan kebodohan bukan alasan yang paling penting mengapa ada begitu banyak operasi yang tidak perlu. Pada dasarnya masalah keyakinan: dokter percaya pada bedah. Ada daya tarik kepada “pisau” … bahwa (ahli bedah) dapat mengatasi apa-apa saja karena ia dapat beroperasi Anda … “Anda tidak perlu menjaga diri sendiri, doctor-doktor bisa memperbaiki Anda jika Anda sakit.”
  • Untuk melindungi diri … langkah pertama Anda harus buat adalah untuk mendidik diri sendiri. Dapatkan pendapat kedua. Jika Anda memutuskan operasi bukan satu jawabannya untuk menyelesaikan masalah Anda, maka haruslah Anda melakukan apa yang harus dilakukan untuk melepaskan diri dari situasi itu. Dalam setiap situasi kecuali pada situasi kecemasan, Anda ada banyak waktu untuk memutuskan apakah atau tidak Anda memerlukan pembedahan. Ataupun memilih siapakah yang akan membedah anda.

Sebuah Kisah Tentang Sahabatku: Kanker Usus-Hati

Hanafi dan saya berasal dari daerah yang sama di Kelantan. Atau dalam kata lain, kami adalah orang kelantan (kelantanese). Tidak perduli bahwa ia adalah seorang Malay dan saya seorang chinese; ia adalah muslim dan saya adalah kristiani. Sebagai orang kelantan kami memiliki ikatan kuat tentang pertemanan dan kepercayaan. Tapi ini tidak semuanya. Kami ada teman sekelas ketika masih belajar di College of Agriculture (Malaya) pada tahun 1960-an. Dan menjadi Serdangites kami saling berbagi ikatan yang kuat tentang kepemimpinan. Setelah kami lulus dari kuliah, kami tidak bertemu lagi.

Suatu hari pada bulan Oktober 2004, teman sekelas kami meng e-mail saya dan mengabarkan bahwa Hanafi sedang di rumah sakit, terkena kanker colon yang telah bermetastasi ke livernya. Ia menjalani operasi untuk mengangkat colon yang terinfeksi. Setelah mendengar ini, saya menelepon dia di rumahnya dan bertanya apakah ada yang dapat saya bantu.Tapi saya tidak menyarankan ia untuk mengkonsumsi herbal kami. Itu akan sangat tidak etis. Bahkan dengan saya menelepon dia di rumahnya, saya sudah melangar kode etik saya sendiri. Saya biasanya tidak melakukan hal seperti itu, atau saya akan dianggap mencoba untuk mempromosikan herbal saya. Tetapi, Hanafi adalah teman sekelas saya. Saya pikir saya harus melakukan apa yang harus saya lakukan. Saya memberikan semua informasi yang ia ingin ketahui mengenai kanker colon. Dengan kebijaksanaannya sendiri, ia memilih untuk mengkonsumsi herbal kami.

Setelah operasi, dokternya menyarankan kemoterapi yang telah disetujui Hanafi sebelumnya. Saya menghormati keputusannya. Hanafi melakukan duabelas siklus kemoterapi, bukan enam kali seperti pasien yang lain. Tumor pada livernya tidak ada perubahan. Kemoterapi ditinggalkan dan ia menjalani dua terapi RFA (radiofrequency ablation). Prosedur ini pun gagal.

Pilihan berikutnya adalah dengan kemoterapi lagi atau operasi liver. Ia menolak keduanya! Ia belajar dari pengalamannya. Sekarang biar ia menceritakan pada anda pengalamannya …

Herbal dan Kemoterapi

Perubahan Gaya Hidup dan Diet


Setiap kali saya pergi mengunjungi pasien kanker di Subang Jaya, saya meminta Hanafi datang dan makan siang dengan saya dan seluruh anggota keluarga CA Care. Ia akan datang setelah permainan golfnya. Ketika makan, kami berbincang-bincang. Dengarkan rekaman video yang diambil beberapa periode. Tidak ada pertanyaan sama sekali, ketika ini ditulis – 2009 dan hampir lima tahun sejak ia didiagnosa – Hanafi sangat sehat dan segar sampai hari ini.

Nikmati Hidup Semaksimal Mungkin

Tidak ada kepuasan yang lebih daripada mampu untuk menolong sahabat baik untuk dapat berdiri diatas kakinya kembali! Dan tidak ada kepuasan yang lebih daripada mengetahui bahwa seorang sahabat mendengarkan saran dan mengambil langkah untuk BERUBAH dan menyembuhkan dirinya sendiri. Dan dengan kekuasaan Tuhan dan berkat-Nya, Hanafi mendapatkan kesembuhannya.

Sebuah Kegagalan Besar dan Kekecewaan

Sam adalah seorang pria berusia 51 tahun berasal dari Indonesia. Kadang pada bulan May 2008, ia mengalami nyeri pada abdomen. Hasil pemeriksaan rutin pada sebuah rumah sakit di Sarawak mengindikasikan terdapat batu ginjal. Sam melakukan operasi untuk mengangkat batu tersebut. Pada waktu melakukan operasi, dokternya menemukan liver Sam dalam kondisi yang tidak begitu baik. Hasil CT Scan mengungkapkan adanya kemungkinan hepatoma atau dalam kata lain tumor pada liver.

Sam diminta untuk melakukan operasi liver di Singapura yang dapat menghabiskan sekitar Sing $50.000. Sam datang ke Penang dan melakukan operasi untuk liver-nya di rumah sakit swasta dan menghabiskan dana RM 35.000. Operasi ini selesai pada Oktober 2008.

Hasil CT-Scan : 3 Oktober 2008

Terdapat lesi hipodens pada Segmen VI. Dengan ukuran 3,5 x 3,5 cm. Diduga hepatoma pada lobus kanan.

Laporan Histologi: 7 Oktober 2008

Jaringan hepar seberat 350 gm, dengan ukuran 140 x 120 x 60 mm.

Diagnosa: hepatocellular karsinoma.

Setelah operasi, Sam melakukan kemoembolisasi sebanyak dua kali, pada Desember 2008 dan Janurari 2009. Sekali perawatan memakan biaya sekitar RM 5.000.

Pada Februari 2009, Sam menderita penyakit kuning yang berat. Hasil pemeriksaan darah pada 10 Februari 2009 menunjukkan hasil:

Bilirubin total                   = 523,77  Tinggi

Bilirubin direk                  = 394,69  T

Alkaline phospatase        = 143,34   T

GGT                                   = 758,75  T

ALT                                    = 121,38  T

AST                                     = 109,07 T

Alpha-fetoprotein             = 5.845,0 T

Sam melakukan operasi lagi untuk memasang stent metalik pada bagian atas saluran bilirubin. Prosedur ini menghabiskan biaya RM 20.000.

Hasil CT-Scan yang dilakukan pada 10 Februari 2009 mengindikasikan:

  • Bertambah buruknya hepar dengan peningkatan jumlah dan ukuran dari nodul-nodul yang ada pada hepar.
  • Terdapat trombosis pada perhubungan antara vena porta utama dengan perluasan vena porta.

Dengan banyaknya pertambahan buruk yang terjadi, tidak ada hal apapun yang dilakukan padanya. Dan Sam dikirim pulang tanpa penjelasan yang berarti.

Sam dan istrinya datrang kembali ke Penang pada Maret 2009. Sayangnya kali ini, dokter bedah yang mengoperasi liver Sam bersikap “kurang bersahabat”. Sikapnya sangat berbeda dengan sebelumnya ketika Sam melakukan operasi. Sam dan istrinya merasa dikecewakan dan ditipu. Sebelum operasi, dokter bedahnya bahkan memeluk istri Sam dan meyakinkannya bahwa Sam akan baik-baik saja. Sekarang, setelah terjadi relaps ia bahkan tidak mau berbicara pada mereka. Mereka juga memberitahu kami dokter bedah tersebut memaksa Sam untuk melakukan operasi secepatnya karena itu adalah kasus yang serius. Sam dan istrinya mememinta pulang dan memikirkannya dahulu. Dokter bedah itu memberitahu mereka, jika mereka pulang ke Indonesia, maka akan ada penundaan dan pada saat itu kondisi Sam mungkin akan memburuk dan ia (dokter bedah tersebut) mungkin tidak akan dapat melakukan operasi lebih lanjut. Sam dan istrinya merasa terintimidasi saat membuat keputusan.

Dengarkan percakapan video berikut ini.

Chris: Anda datang ke Penang – lalu apa yang mereka katakan?

Sam: Saya harus dioperasi.

C: Sebelum anda dioperasi, apakah anda bertanya pada dokter, apakah dengan dioperasi akan dapat menyembuhkan anda?

S: Itu harus dihilangkan.

Istri W: Kalau tidak, kanker tersebut akan bertumbuh terus-menerus.

C: Itu tidak benar! Oh, anda datang kemari dan mereka berkata operasi dan anda setuju untuk operasi?

W: Kalau tidak operasi, itu merbahaya. Jadi kami bersetuju untuk operasi.

C: Ijinkan saya bertanya satu hal lagi. Sebelum anda kemari, sebelum operasi – bagaimana kondisi anda? Apakah anda sehat ?

S: Saya baik-baik saja – sehat.

C: Dan setelah operasi, dan mengeluarkan uang sebesar RM 35.000 – apakah anda merasa lebih baik?

S: Tidak.

W: Sebelum operasi, dokter bedah itu sangat bersahabat dengan kami. Ia berbicara pada kami dengan sangat bersahabat.

C: Oh, sebelum operasi, Ibu (mama) menanyakan semuanya dan dokter itu akan menjawab anda? Apakah ia baik pada anda?

W: Ya, ia menjawab semua pertanyaan kami dan ia sangat baik. Tetapi setelah operasi, ia tidak mau berbicara apa-apa lagi. Kami ingin berkonsultasi dengannya, tetapi ia tidak mau berbicara dengan kami. Ketika kami menanyakan pertanyaan padanya, ia pergi begitu saja. Dengan terburu-buru dan ia hanya berkata – tidak ada masalah, tidak ada masalah dan pergi meninggalkan kami.

S: Tidak, kami tidak dapat berbicara dengan mereka seperti ini (dengan anda).

C: Sebelum operasi, ia berbicara dengan anda dengan baik?

W: Ya, betul, betul. Ia bahkan memeluk saya dan meyakinkan saya – Jangan khawatir, jangan khawatir, ia (suami saya) akan baik-baik saja.

S: Oh, ia begitu baik.

W: Kami merasa sangat tenang. Ia berkata kepada kami, operasi harus segera dilakukan secepatnya.

S: Saya berkata padanya, saya belum siap untuk itu. Dokter bedah itu berkata: Arr… jika anda tidak melakukannya sekarang, kondisi anda akan semakin buruk.

W: Ia berkata: Saya tidak akan dapat mengoperasi anda lagi.

C: Wah, itu yang ia katakan pada anda? Jika anda kembali ke Pontianak dulu, kondisi anda akan memburuk dan mungkin anda akan mengalami koma?

W: Pada saat itu akan sulit untuk ditolong lagi.

C: Itu tidak benar sama sekali.

S: Kami tidak memiliki alternatif lain.

C: Ya, saya mengerti sepenuhnya. Pasien seringkali diburu-buru untuk membuat keputusan. Saya tidak yakin ini adalah benar. Kadang-kadang, tidak melakukan apa-apa lebih baik daripada berbuat sesuatu.

Hasil tes darah pada 6 Maret 2009 adalah sebagai berikut:

Total bilirubin                     = 138.00  Tinggi

Bilirubin Direk                    = 114.66   T

Alkaline phosphatase         = 143.34   T

GGT                                      = 203.05  T

ALT                                      = 57.98     T

AST                                      = 98.45     T

Alpha-fetoprotein              = 239,595.00  T

Sam kemudian menemui dokter lain yang memberinya resep untuk dua obat oral. 1) Baraclude (entecevir) yang sering diresepkan untuk pasien Hepatitis. 2) Nexavar – sebuah obat yang menghabiskan biaya RM 20.000 per bulan. (Catatan: Pang pada kisah lain juga diminta untuk mengkonsumsi obat yang sama, yang menurut dokternya efektif sekitar 20-30% saja).

Sam mengkonsumsi obat tersebut, Nexavar untuk 1 setengah hari (total 3 tablet). Ia mengalami efek samping sebagai berikut:

  • Ia merasa lelah ketika berjalan bahkan untuk berbicara.
  • Dadanya terasa kencang.
  • Telinganya mulai berdengung sepanjang hari.
  • Tidurnya terganggu.

Sam dan istrinya datang mencari pertolongan kami pada 8 Maret 2009 dan memutuskan untuk menyerah pada terapi medis.

1.   Ini adalah cerita yang sangat tragis. Professor Jane Plant menulis: Terapi kanker konvensional membuat proses yang panjang pada pasien sehingga mereka tidak lagi mengerti apa yang diperbuat kepada mereka. Itu dimulai dengan ancaman atau menanamkan kepercayaan akan ketakutan pada pasien. Liver anda membusuk – jika anda tidak mengeluarkannya, itu akan membunuh anda. Dan anda harus melakukannya dengan cepat! Dan lihat apa yang terjadi pada Sam sekarang? Dr. Richard Fleming (pada Stop inflammation now) menulis: … semua bentuk operasi tdak dapat menghasilkan kesembuhan untuk jangka panjang karena itu tidak menyelesaikan masalah dasarnya, yaitu inflamasi (radang) … Operasi kadang memicu proses inflamasi yang lebih besar, yang menyebabkan penyakit.

2.   Sam menyerahkan bacaan tentang alpha-fetoprotein (AFP) seperti dibawah ini.

Pelajari angka-angka berikut dengan seksama. AFP Sam menunjukan 3.0 sebelum operasi kandung kemih. Setelah operasi, AFP nya mulai meningkat, dari 50,5 sampai 3.201. Kemudian ia datang ke Penang dan melakukan operasi liver. Situasinya makin memburuk. Sampai pada Maret 2009, AFP Sam hampir mencapai seperempat juta.

AFP (alpha-fetoprotein) Reading

19 December 2007        3.0 Dilakukan di Sarawak

7 May 2008            Operasi kandung kemih di Sarawak

11 July 2008                  50.5

25 September 2008    2,433 Dilakukan di Sarawak

4 October 2008         3,201.97 Dilakukan di Sarawak

6 October 2008         Operasi Liver di Penang

5 December 2008     18,550 Dilakukan di Penang

30 December 2008   17,857.8 Dilakukan di Penang

10 February 2009     5,845.0 Dilakukan di Penang

6 March 2009       239,595.0 Dilakukan di Penang

3.   Ketika Sam mencoba mengklarifikasi dengan dokter bedahnya, ia diacuhkan. Dokter bedahnya bahkan tidak mau berbicara dengan Sam dan istrinya. Sedihnya, pasien seperti Sam ditinggalkan dalam kebimbangan. Sam kemudian beralih ke dokter lain.

4.   Sam diresepkan obat yang luar biasa mahal – 20.000 RM per bulan. Tentu saja, Sam tidak memiliki pilihan lain. Terima atau meninggal. Tapi intinya adalah: Apakah Sam diberitahu bahwa obat tersebut tidak akan menyembuhkannya? Tidak, dan ia tidak memiliki petunjuk sama sekali tentang kebenarannya. Data yang diterbitkan oleh website perusahaan obat jelas-jelas mengindikasikan seperti berikut:

Untuk kanker liver,

  • Pasien yang mengkonsumsi Nexavar  – angka harapan hidup = 10,7 bulan.
  • Pasien dengan placebo (pil gula) – angka harapan hidup 7,9 bulan.
  • Nexavar hanya meningkatkan angka harapan hidup sebesar 2,8 bulan. Tidak disebutkan di dalam website tersebut, Nexavar menyembuhkan kanker liver.

5.   Jika ada yang dapat kita pelajari dari cerita ini, ini adalah: Pengacuhan dapat membunuh.Untuk bertahun-tahun, kami di CA Care, telah berusaha untuk menyemangati pasien dengan memberikan mereka pengetahuan. Sering terjadi, pasien memilih untuk menemukan cara yang mudah dan diacuhkan. Dan setelah mereka mencapai tahap akhir putus asa, mereka akan berbicara pada kami: Oh, tapi kami tidak tahu semua ini. Kami percaya pada dokter-dokter.

Catatan:  Pada pertengahan April 2009, kami diinformasikan Sam meninggal. Sam dioperasi pada Oktober 2008 dan pada April 2009 ia meninggal. Itu hanya enam bulan setelah operasi. Apa yang anda pikir tentang apa yang mempercepat kematiannya? Operasi atau kankernya? Apa yang dapat terjadi pada Sam jika ia tidak melakukan apa-apa?

Bacalah tentang bermacam-macam laporan kasus pada website ini. Doris meninggal 8 bulan setelah operasi liver nya di Singapura. Kanker liver Suria kambuh setelah 3 bulan setelah operasi. Pang mengalami kekambuhan kanker livernya setelah 5 bulan operasi. Di lain pihak, Mac dan Gan menolak terapi medis seperti apapun dibandingkan dengan memiliki tumor yang membesar pada livernya. Dan mereka berdua hidup lebih dari 2 tahun. Pada Seam terdapat 9 x 10 cm tumor di livernya dan ia masi hidup sampai saat saya menulis ini (lebih dari 5 tahun).