Kanker Usus Besar: Pembedahan dan kemoterapi tidak menyembuhkan mereka – berakhir pada kondisi yang lebih mengerikan.

Suatu pagi di bulan November 2019.

Dua orang dari Indonesia datang mencari bantuan kami. Salah satunya dari Medan dan yang lain dari Jakarta. Keduanya menderita kanker usus besar. Mereka menjalani operasi diikuti dengan kemoterapi. Perawatan tidak menyembuhkan mereka. Mari kita periksa setiap kasus secara terperinci. Saya berharap kita dapat belajar sesuatu dari pengalaman mereka.

Kasus 1: SPW berusia 53 tahun. Dia dari Jakarta. Sekitar delapan bulan lalu, kotorannya berdarah semasa membuang air besar. Kolonoskopi menunjukkan tumor di usus besarnya.

Seto 1.jpg

CT scan yang dilakukan pada 20 Maret 2019 menunjukkan ada juga batu empedu, selain tumor di usus besar. SPW menjalani operasi untuk mengangkat massa di usus besar dan batu kandung empedu.

Laporan patologi mengonfirmasi kanker, adenokarsinoma, pT3NxMx.

Setelah operasi, SPW pulang ke rumah tanpa perawatan lebih lanjut.

Sekitar dua bulan kemudian (Juni 2019), pemindaian PET dilakukan. Hasilnya menunjukkan kanker telah kambuh di lokasi operasi sebelumnya. TIDAK ada penyebaran ke hati, paru-paru, kelenjar getah bening atau tulang.

14 June 2019 composite.JPG

SPW menjalani 6 siklus kemoterapi, di rumah sakit swasta di Jakarta. Kemo diberikan setiap dua minggu. Regimen yang digunakan adalah FOLFOX-4, terdiri dari Eloxatin (atau oxaliplatin) + 5-FU + Leucovorin (asid folinik).

Sekitar lima bulan kemudian, pada November 2019, PET lain dilakukan. Hasilnya mengecewakan.

Nov 2019 composite.JPG

1. Dokter mencurigai kanker telah menyebar ke hati.

2. Aktivitas metabolisme massa di usus besar yang awalnya sudahpun kurang intens tetapi kanker itu tidak hilang.

3. PET scan menunjukkan kelenjar getah bening reaktif.

Ahli onkologi meminta SPW untuk menjalani lebih banyak kemoterapi tetapi dia menolak perawatan lebih lanjut. Mengapa? SPW mengatakan dia menderita efek samping yang parah selama menjalani kemoterapi.

•  Dia kehilangan 15 kg berat badan dalam beberapa bulan semasa perawatan.

•  Dia mengalami depresi.

•  Dia lemas.

•  Dia kehilangan nafsu makan.

•  Dia tidak bisa tidur di malam hari, dan harus minum obat tidur.

•  Jari-jarinya kebas.

•  Dia mengalami kesulitan berjalan.

Kondisi saat ini: Dia harus buang air kecil empat kali setiap malam.

Kasus 2: Wongso berusia 67 tahun dari Medan. Pada bulan Maret 2018 kotorannya berdarah semasa membuang air besar. Kolonoskopi dilakukan di rumah sakit di Medan. Ada massa di usus besarnya.

Wongso.jpg

 Wongso  menjalani operasi untuk mengangkat tumor di usus besarnya pada April 2018. Laporan patologi mengkonfirmasi kanker – adenokarsinoma, pT4N1Mx.

Salah satu dari dua kelenjar getah bening dipengaruhi kanker. CT scan pada 9 Mei 2018, menunjukkan kanker telah menyebar ke hatinya.

Wongso menjalani kemoterapi di rumah sakit kanker pemerintah di Jakarta. Dia menerima 6 siklus kemoterapi. Regimen yang digunakan adalah FOLFOX-4, yang terdiri dari oksaliplatin, asid folinik dan 5-FU.

CT scan pada 5 September 2018 menunjukkan bahwa tumor di hatinya telah menyusut dari 2,49 cm menjadi 2,06 cm. Tapi itu tidak hilang.

Wongso diresepkan obat oral – Xeloda. Dia minum pil selama dua minggu diikuti dengan istirahat seminggu. Ini merupakan suatu siklus. Wongso mengambil total 12 siklus Xeloda. CEA-nya awalnya di 2,6 tetapi ini meningkat menjadi 79,8 pada November 2019.

CT scan pada 29 Oktober 2019 menunjukkan:

•  Asites ringan di sekitar hati.

•  Kista multipel di kedua lobus hati.

•  Kompresi fraktur pada vertebra L4.

Wongso composite.JPG

Walaupun perawatan medis nampaknya gagal, ahli onkologi masih bersikeras bahwa Wongso terus mengambil Xeloda.

Wongso masih menggunakan Xeloda ketika dia datang untuk mencari bantuan kami.

Keluhannya adalah: sakit perut, mungkin karena “angin”. BABnya 3 sampai 4 kali sehari. Dia harus buang air kecil 3 hingga 4 kali setiap malam.

Komentar

Resep pengobatan standar untuk kanker usus besar adalah: pembedahan, kemoterapi dan obat oral seperti Xeloda. Kadang-kadang pasien juga diminta untuk menjalani radioterapi sebelum operasi. Ini adalah untuk kasus di mana tumornya terlalu besar.

Jika Anda menderita kanker, Anda harus menjalani perawatan ini di mana pun Anda berada – di rumah sakit paling terkenal dan termahal atau di rumah sakit kanker biasa. Ya, Anda harus menjalani metode pengobatan yang dikatakan “sudah terbukti” ini.

Tetapi, pertanyaan yang perlu Anda tanyakan adalah: Apakah metode perawatan yang terbukti dan ilmiah ini cocok untuk Anda? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu!

Tetapi jika Anda datang untuk bantuan kami setelah didiagnosis dengan kanker usus besar, satu-satunya saran saya adalah Anda harus menjalani  operasi untuk mengangkat tumor itu, yaitu jika kanker belum menyebar secara luas di tempat lain. Jika ada metastasis luas, nilai operasi dipertanyakan. Jadi, sejauh itu saja yang akan saya lakukan.

Bahkan, setelah saya bertemu dengan dua pasien di atas, pada hari berikutnya, ada satu lagi orang dari Indonesia yang juga menderita kanker usus besar. Dia belum menjalani perawatan apa pun. Saran saya kepadanya adalah: Pergi dan angkat tumornya. Pergi ke dokter bedah X ini di Rumah Sakit Y di Kuala Lumpur. Dia adalah dokter yang baik. Saya pikir dia akan dapat membantu Anda.

Melihat ke belakang selama lebih dari dua puluh lebih tahun terakhir dalam usaha membantu pasien kanker usus besar, saya dapat mengingat banyak pengalaman yang amat menyedihkan. Pada tahun-tahun awal, saya memiliki beberapa pasien yang menjalani kemoterapi dengan 5-FU setelah operasi. Pada saat itu satu-satunya obat yang dianggap efektif adalah 5-FU. Satu pasien pergi ke Sydney (Australia) untuk mendapat  perawatan 5-FUnya. Dia meninggal saat menjalani perawatan. Lalu ada kontraktor bangunan ini. Dia juga menderita kanker usus besar dan menjalani kemoterapi setelah operasi. Perawatan gagal. Sebelum dia meninggal, dia memberi tahu putrinya untuk tidak melupakan CA Care dan dia pesan putrinya untuk harus berusaha membantu CA Care kapan pun kita perlu melakukan pekerjaan renovasi. Selama bertahun-tahun, saya kehilangan banyak teman baik.

Sekarang, rejimen kemo untuk kanker usus besar telah “diperbarui.” Dalam kasus SPW dan Wongso, ahli onkologi merawat kanker usus besar mereka dengan menggunakan rejimen FOLFOX-4, yang terdiri dari kombinasi fluorouracil (5-FU), leucovorin, dan oxaliplatin.

Bahkan, selain FOLFOX, ada variasi lain seperti:

•  FOLFIRI – terdiri dari asid folinik, 5-FU dan irinotecan.

•  CAPOX – terdiri dari capecitabine atau Xeloda dan oxaliplatin.

•  XELOX – terdiri dari Xeloda (nama dagang) dan oxaliplatin.

Jika Anda mempelajari di atas dengan hati-hati, ini hanyalah kombinasi yang berbeda dari lima obat yang sama berikut:

•  5-FU.

•  Asid folinik atau Leucovorin.

•  Oxaliplatin.

•  Irinotecan.

•  Capecitabine atau Xeloda.

Satu persoalan penting yang harus pasien tanya adalah: Dapatkah kemoterapi menyembuhkan kanker usus besar? Atau Bagaimana tingkat keberhasilan kemoterapi untuk kanker usus besar. Saya mencoba mencari jawaban dari internet dan inilah yang saya dapatkan.

•  Kemoterapi digunakan setelah operasi pada banyak kanker usus besar yang merupakan stadium 2, 3, dan 4. Telah terbukti kemo bisa meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Ini bukan untuk kasus kanker stadium I, dan karena itu kemoterapi jarang digunakan dalam keadaan ini (kanker stadium 1). Sebagian besar kanker stadium I disembuhkan dengan operasi saja.

•  Meskipun uji klinis telah menunjukkan bahwa kemoterapi meningkatkan ketahanan hidup untuk kanker usus besar stadium-3, manfaatnya tetap kontroversial untuk kanker stadium-2. Pasien kanker usus besar stadium-2 menerima kemoterapi tambahan meskipun manfaatnya tidak pasti.

•  Pembedahan adalah modalitas kuratif primer pada 70-80% pasien kanker usus besar yang datang dengan penyakit non-metastasis (yang belum menyebar). Namun, rekurensi (kambuhan) sering terjadi dan terlihat pada hampir 30% kasus stadium 3 setelah 5 tahun.

•  Hampir seperempat dari semua kasus kanker usus besar adalah stadium 3 saat didiagnosis.

•  Kemoterapi tidak menyembuhkan kanker kolorektal metastatik (yang sudah menyebar), tetapi dapat memperbaiki gejala dan memperpanjang hidup.

•  Setelah didiagnosis, 20% pasien kanker kolorektal yang baru didiagnosis adalah sudah metastasis (ia itu sudah stadium 4) yang tidak bisa disembuh dengan kemoterapi pada saat ini.

•  Kelangsungan hidup relatif lima tahun keseluruhan dari pasien kanker kolorektal di AS adalah 64% dan di Inggris (England) 50,7%.

•  Di bawah ini adalah tingkat kelangsungan hidup di Inggris, berdasarkan pada tahap penyakit saat didiagnosis.

Stadium kanker semasa diagnosaPeratusan hidup selama 5 tahun
  Dukes A / Stadium 1  93,2
Dukes B / Stadium 277,0
Dukes C / Stadium 347,7
Dukes D / Stadium 46,6

•  Data di atas diperoleh dengan pasien di AS dan Inggris. Kita perlu mencatat bahwa tingkat kelangsungan hidup BUKAN berarti penyembuhan. Sayangnya banyak pasien diberitahu bahwa jika mereka dapat hidup lima tahun dan lebih, mereka dianggap “SEMBUH”. Sayangnya ini adalah saran yang salah.

•  Perhatikan juga bahwa hasil di atas tidak berlaku untuk Anda. Anda dapat merespons secara berbeda dari orang-orang ini. Hasil di atas harus diperlakukan hanya sebagai indikator dari apa yang dapat terjadi pada Anda.

•  Singkatnya, jika Anda didiagnosis menderita kanker stadium lanjut atau stadium 4, peluang Anda untuk bertahan hidup mungkin 10% hingga 15%, apa pun yang Anda lakukan. Di sisi lain, jika Anda memiliki kanker stadium 1, Anda tidak perlu menjalani kemoterapi sama sekali setelah operasi. Bahkan untuk kanker stadium 2, manfaat kemoterapi adalah amat diragukan.

•  Secara keseluruhan, data itu memberi tahu bahwa untuk kanker usus besar, Anda memiliki peluang 50:50 dengan kemoterapi jika kanker Anda adalah pada stadium 3.

Kebanyakan pasien percaya bahwa pembedahan dan kemoterapi dapat menyembuhkan kanker mereka. Sayangnya hal ini sering tidak terjadi. Dalam kasus SPW dan Wongso, apakah mereka pernah dibertahu dengan sebenarnya tentang peluang mereka? Sayangnya, mereka harus belajar dengan cara yang sulit.

Penulis: CA Care

In obedience to God's will and counting on His mercies and blessings, and driven by the desire to care for one another, we seek to provide help, direction and relief to those who suffer from cancer.